
Mati Sekarang atau Nanti Sama Saja
Tidak ada manusia yang hidup kekal. Cepat atau lambat, semua akan mati. Entah nanti atau sekarang, kematian memang merupakan kepastian yang tidak bisa ditolak. Akan tetapi, kepastian kematian tidak serta-merta menghapus makna kehidupan. Sebagaimana kita tidak peduli benar dan salah bahwa 10 + 6 adalah 17 karena ujung-ujungnya tetap MBG, demikian pula kita tidak dapat mengatakan bahwa mati sekarang sama saja dengan nanti hanya karena sedang lelah menjalani hidup.
Akhir-akhir ini, bahkan beberapa tahun belakangan, dunia nyata maupun dunia maya dihebohkan oleh fenomena bunuh diri. Ada yang g*ntung diri, minum r*cun, dan berbagai cara lainnya. Fenomena ini, khususnya di Pulau Sumba, tampak semakin menjalar di kalangan generasi muda, bahkan pernah terjadi pada anak-anak remaja yang seharusnya masih berada pada fase membangun harapan hidup.
Saya bertanya-tanya, mengapa kematian begitu dekat dengan solusi? Mengapa ketika persoalan hidup terasa begitu berat, sebagian orang justru melihat kematian sebagai jalan keluar? Apakah generasi kita sedang kehilangan kemampuan untuk melihat harapan, atau memang sedang hidup dalam situasi yang membuat harapan itu semakin sulit ditemukan?
Di tengah masyarakat, pernahkah Anda mendengar kalimat ini: "Mati nanti dengan sekarang sama saja." mendengar kalimat ini, saya mulai berpikir tentang perhitungan matematika modern ala bos kita Pak Prabowo: "10 + 6 = 17." Keduanya mengandung kesamaan yang menarik. Kesalahan yang terus dinormalisasi akan dinilai sebagai sebuah kebenaran. Cara berpikir seperti ini seakan-akan membawa kita pada kebodohan akut di mana harapan perlahan berubah menjadi ilusi, sementara akal budi kehilangan perannya sebagai penuntun hidup kita.
Tidak ada manusia yang hidup kekal. Cepat atau lambat, semua akan mati. Entah nanti atau sekarang, kematian memang merupakan kepastian yang tidak bisa ditolak. Akan tetapi, kepastian kematian tidak serta-merta menghapus makna kehidupan. Sebagaimana kita tidak peduli benar dan salah bahwa 10 + 6 adalah 17 karena ujung-ujungnya tetap MBG, demikian pula kita tidak dapat mengatakan bahwa mati sekarang sama saja dengan nanti hanya karena sedang lelah menjalani hidup. Analogi yang mungkin membingungkan. Yah, saya memang sengaja mengajak kita untuk sedikit bingung. Sebab di tengah kebingungan, kadang kita dipaksa berpikir lebih WARAS. Mengapa bunuh diri menjadi pilihan, sementara di sisi lain banyak orang berjuang hidup 1000 tahun lagi? Mengapa ada yang meratapi kematian orang yang dicintai, seakan-akan mereka sedang menolak takdir, bukankah mereka sedang mencari arti sebuah kehidupan?
By the way, kematian adalah milik semua orang. Namun sebelum kematian datang, kita memiliki kehidupan. Pertanyaan logisnya bukanlah kapan kita mati, melainkan mengapa kita hidup. Mengapa kehidupan ada pada kita?
Saya sering mendengar keluhan seorang anak kepada orang tuanya: "Kalau saya tahu akan hidup begini, saya tidak ingin lahir." Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan luka yang tidak sederhana. Barangkali benar bahwa kita hanyalah makhluk yang tiba-tiba ada. Tidak ada seorang pun yang meminta untuk dilahirkan. Namun, setelah kita ada, keberadaan itu sendiri menghadirkan pertanyaan yang tidak bisa dihindari: untuk apa saya ada?
Semua manusia tahu bahwa kematian adalah takdir. Akan tetapi, mengapa mereka tetap ingin hidup? Mengapa kehidupan terus dipertahankan dari generasi ke generasi? Apakah semata-mata karena perintah Allah: "Beranak cuculah dan penuhi muka bumi", atau karena dalam diri manusia selalu ada keyakinan bahwa kehidupan, seberat apa pun, tetap memiliki sesuatu yang layak diperjuangkan?
Kita adalah bagian dari misteri penciptaan, bukan sekadar ciptaan biasa. Kita diciptakan dengan keistimewaan yang tidak dimiliki makhluk lain: kemampuan berpikir, merasakan, menimbang, dan memberi makna untuk hidup. Karena itu, kita tidak mungkin sepenuhnya menolak keberadaan kita sendiri. Kehadiran kita sebagai manusia dilengkapi dengan perasaan, pikiran, dan akal budi untuk melihat mana yang benar dan salah, baik dan buruk, sekaligus untuk mendefinisikan perjalanan hidup kita sendiri.
Berangkat dari keberadaan kita sebagai manusia, tentu kita tidak luput dari berbagai persoalan kehidupan. Tidak ada jabatan, profesi, status sosial, atau kekayaan yang mampu membebaskan seseorang dari masalah. Kita ibarat dua sisi mata uang: susah dan senang. Keduanya berbeda, tetapi adalah kesatuan yang bermakna.
Tidak jarang seseorang diperhadapkan dengan situasi yang sangat sulit: terpuruk, menderita, mengalami trauma, kehilangan arah hidup, atau merasa seluruh jalan telah tertutup. Bahkan bagi sebagian orang, dunia terasa tidak lagi menyediakan tempat untuk bertahan atau nyaman, semua itu bagai rantai yang membelenggu. Namun, lihatlah mereka yang hidup dalam kesabaran penderitaan, ketabahan, tetap berdoa dan berpengharapan. " Semua indah pada waktunya " roda terus berputar, mereka akhirnya bisa tersenyum. Barangkali mereka tidak selalu kuat, tetapi mereka memilih untuk tidak menyerah. Dan sering kali, waktu membuktikan bahwa penderitaan tidak memiliki kuasa untuk tinggal selamanya.
Kematian adalah sisi lain yang pada waktunya akan menjemput kita, bukan untuk kita jemput. Oleh karena itu, akal budi mestinya menjadi senjata paling ampuh untuk menguak makna keberadaan kita, mencari celah sekecil apa pun yang masih menyisakan harapan. Sebab selama seseorang masih bertanya, "Mengapa saya hidup?", sesungguhnya ia masih sedang mencari alasan untuk tetap hidup.
Tulisan ini lahir dari sebuah keprihatinan yang juga sering saya gumuli. Di tengah berbagai kisah pilu yang kita dengar hari ini, saya ingin mengingatkan diri saya sendiri sebelum mengingatkan orang lain: "Jika tak lagi ada jalan di sampingmu, di depanmu, maupun di belakangmu, tengoklah ke atas; masih ada Tuhan yang akan mengangkatmu."
Dari semua kisah piluh yang terjadi, izinkan saya menyampaikan satu pesan sederhana: bunuh diri bukanlah satu-satunya jawaban atas apa yang menimpa Anda. Mungkin jalan keluar belum terlihat, mungkin pertolongan terasa sangat jauh, dan mungkin kekuatan hampir habis. Namun, jangan mengambil alih wewenang Sang Pencipta, sebab kematian adalah keputusan-Nya. Ia akan datang ketika seluruh waktu yang diberikan kepada kita benar-benar telah selesai.
Di sisi lain, saya juga prihatin terhadap kehebohan dunia maya. Tidak sedikit orang yang memposting berita bunuh diri secara vulgar tanpa mempertimbangkan dampaknya. Entah demi dolar dari Facebook Pro atau atas nama kepedulian yang kehilangan kebijaksanaan. Saya berharap para pengguna media sosial lebih berhati-hati. Jangan sampai informasi yang ditampilkan justru memberi pesan yang keliru kepada generasi muda, seolah-olah setiap persoalan hidup memiliki satu jawaban yang sama: mati sekarang atau nanti, sama saja.
Padahal tidak. Mati memang pasti, tetapi hidup tetap memiliki kemungkinan. Dan selama kemungkinan itu masih ada, harapan juga belum mati.
Diskusi
0 komentar aktif dari pembaca dan kontributor komunitas.
Ikut berdiskusi
Tambahkan komentar, balas thread, atau kelola komentar Anda sendiri.
Anda perlu login untuk mengirim komentar, membalas, atau mengelola komentar sendiri.
Belum ada diskusi.
Jadilah orang pertama yang memulai percakapan untuk berita ini.
Bacaan Terkait
Berita lain yang layak dibaca setelah ini
Bagaimana Jika Pelaku Kekerasan Seksual adalah Pasanganmu?
Tulisan ini membahas tentang kekerasan seksual dalam rumah tangga, bentuk-bentuk KDRT, serta pentingnya korban berani melapor demi perlindungan hukum.
Bagaimana Jika Idealismemu Saya Tukar dengan Kemapanan Hidup?
Idealisme tidak pernah lahir dari kehidupan yang serba mudah. Ia tumbuh dari benturan, dengan kenyataan, dengan kekuasaan, bahkan dengan perut yang lapar. Sebab, gagasan yang tak pernah diuji oleh kenyataan, hanyalah angan-angan yang kebetulan terdengar indah.
Ketika GEDSI Absen dalam Pelayanan Publik
Tulisan ini mengulas pentingnya perspektif GEDSI dalam pelayanan publik dengan menyoroti relasi antara etika, kekuasaan, dan nilai-nilai kemanusiaan. Melalui refleksi atas sejumlah peristiwa yang menjadi perhatian publik, tulisan ini mengajak pembaca melihat kembali makna keadilan dan kepedulian dalam pelayanan kepada masyarakat.
Saat "Janda" Menjadi Bahan Candaan, Apa yang Sebenarnya Sedang Kita Tertawakan?
Mengapa penting membicarakan janda? Ada apa dengan para janda? Tulisan ini adalah perspektif saya tentang bagaimana janda seharusnya diperlakukan.
Belis dalam Perspektif Budaya Sumba dan Dampak Pergeseran Maknanya
Manusia dan peradaban selalu berjalan beriringan. Seiring berkembangnya pola pikir, pengetahuan, dan teknologi, zaman terus berubah serta membentuk karakter dan perilaku manusia. Perubahan ini tampak pada pergeseran cara hidup masyarakat yang semakin mengandalkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menyelesaikan berbagai persoalan kehidupan.
Kekerasan Seksual dalam Konteks Suka Sama Suka
Apakah semua hubungan yang tampak “suka sama suka” benar-benar lahir dari persetujuan yang setara? Tulisan ini mengajak kita memahami bahwa relasi yang terlihat biasa dari luar belum tentu bebas dari tekanan, manipulasi, atau penyalahgunaan kuasa. Dengan meninjau perspektif hukum, adat, dan agama, tulisan ini mengingatkan pentingnya membedakan antara hubungan yang didasari persetujuan yang sehat dan kekerasan seksual yang terjadi dalam relasi yang tampak “suka sama suka”. Sebuah refleksi agar kita lebih bijak dalam menilai, tidak tergesa-gesa menyalahkan korban, dan lebih peka terhadap persoalan kekerasan seksual di sekitar kita.
Menampilkan 6 bacaan terkait