
Bagaimana Jika Idealismemu Saya Tukar dengan Kemapanan Hidup?
Idealisme tidak pernah lahir dari kehidupan yang serba mudah. Ia tumbuh dari benturan, dengan kenyataan, dengan kekuasaan, bahkan dengan perut yang lapar. Sebab, gagasan yang tak pernah diuji oleh kenyataan, hanyalah angan-angan yang kebetulan terdengar indah.
Sebuah postingan di Instagram lewat di beranda saya. Isinya, sebuah pertanyaan, bagaimana jika idealismemu saya tukar dengan kemapanan hidup? Belum sempat saya meninggalkan jejak, pun belum sempat membaca isi komentarnya, pertanyaan tersebut membuat saya berpikir lebih jauh.
Bagaimana jika idealisme yang saya miliki ditukar dengan kemapanan hidup?
Saya mungkin akan bimbang. Barangkali, karena saya belum pernah merasakan hidup mapan, seperti yang saya lihat di tivi. Saya mungkin akan bimbang. Barangkali, karena saya belum pernah merasakan hidup, seperti yang saya baca pada buku-buku yang pernah singgah di rak saya.
Teman saya pernah berkata, terbentur, terbentur, tersungkur. Belakangan, saya tahu itu adalah plesetan dari kata-kata yang pernah ditulis oleh Tan Malaka, "terbentur, terbentur, terbentuk."
Mungkin karena itulah, idealisme tidak pernah lahir dari kehidupan yang serba mudah. Ia tumbuh dari benturan, dengan kenyataan, dengan kekuasaan, bahkan dengan perut yang lapar. Sebab, gagasan yang tak pernah diuji oleh kenyataan, hanyalah angan-angan yang kebetulan terdengar indah.
Lalu seseorang datang dan bertanya, "bagaimana jika idealismemu saya tukar dengan kemapanan hidup?" Sebuah pertanyaan sederhana, yang, mampu membuat kita berpikir keras. Saya mungkin akan bimbang. Barangkali, karena saya juga ingin hidup mapan.
Sejarah menunjukkan, bahwa hampir semua orang pernah berdiri di persimpangan itu. Memilih keamanan atau keyakinan. Memilih kenyamanan atau keberanian. Memilih memilih hidup tenang atau hidup dengan konsekuensi atas pilihan yang diambil.
Kemapanan memang menjanjikan banyak hal. Gaji yang cukup. Rumah yang layak. Jabatan yang dihormati. Tidak ada yang salah dengan itu. Tan Malaka pun tidak pernah mengajarkan bahwa kemiskinan adalah sebuah kebajikan. Yang ia tentang justru adalah ketika kemapanan dibayar dengan menyerahkan kebebasan berpikir. Hahaha, ini akan jadi lucu, bukan?
Sebab, ada saat ketika seorang berhenti mengkritik, bukan karena persoalannya telah selesai, tapi karena posisinya sudah terlalu nyaman untuk diganggu. Lidahnya menjadi mahal. Nuraninya mulai bisa dinegosiasikan. Dan, kau tahu? Idealisme yang pernah diagung-agungkan itu perlahan berubah menjadi kenangan masa muda yang sesekali diceritakan sambil ketawa.
Padahal, idealisme bukanlah penolakan terhadap hidup yang layak. Idealisme adalah keberanian untuk tetap mengatakan yang benar, ketika kebohongan lebih menguntungkan. Tetap berpihak kepada yang lemah, ketika kekuasaan menawarkan tempat duduk di barisan depan.
Barangkali, kemapanan bukanlah lawan dari idealisme. Karena sejak kau hidup mapan, kau tidak lagi mempertanyakan, "apakah ini benar?" Yang kau pikirkan hanyalah, "apakah ini aman?" Maka, jika suatu saat nanti, ada yang menawarkan untuk menukar idealismemu dengan kemapanan hidup, mungkin yang perlu kau tanyakan bukanlah berapa harga yang akan kau terima, tetapi berapa bagian dari dirimu yang harus kau tinggalkan untuk membayarnya.
"Mampus kau, dikoyak-koyak idealisme!"
Diskusi
0 komentar aktif dari pembaca dan penulis komunitas.
Ikut berdiskusi
Tambahkan komentar, balas thread, atau kelola komentar Anda sendiri.
Anda perlu login untuk mengirim komentar, membalas, atau mengelola komentar sendiri.
Belum ada diskusi.
Jadilah orang pertama yang memulai percakapan untuk berita ini.
Bacaan Terkait
Berita lain yang layak dibaca setelah ini
Yesus, Terminator dan Saya
Kisah kocak Yesus dan Terminator membawa refleksi tentang pengkhianatan, gambaran Tuhan dalam diri manusia, serta cara menyikapi orang terdekat yang berkhianat.
Seberapa Jauh Kita Mau Percaya pada Sesuatu yang Mustahil?
Film animasi ini berkisah tentang Peter, seorang anak yatim-piatu, yang ditinggal mati oleh kedua orangtuanya saat terjadi perang.
Menjadi Waras itu Gila
Sebuah usaha untuk menjadi waras di negeri yang, ya, terserah kau mau menyebutnya apa.
Sebab Cantik Itu Luka dan Luka-luka yang Lupa
Sebuah review atas karya Eka Kurniawan berjudul Cantik itu Luka
Bagaimana Jika Pelaku Kekerasan Seksual adalah Pasanganmu?
Tulisan ini membahas tentang kekerasan seksual dalam rumah tangga, bentuk-bentuk KDRT, serta pentingnya korban berani melapor demi perlindungan hukum.
Roberto "Generasi Emas" Martinez
Sebuah ulasan singkat tentang bagaimana Roberto Martinez mengelola tim nasional bertabur bintang hingga dijuluki generasi emas, mulai dari Timnas Belgia hingga Timnas Portugal.
Mikro, Ndasmu
Sebuah isi pikiran, yang sebaiknya tidak dikeluarkan.
Hal yang Seharusnya Dilakukan oleh Guru di Indonesia setelah Nonton Serial Teach You a Lesson
Isu kekerasan pada remaja, selalu menghadirkan dilema moral yang mendalam. Dalam serial drama Korea berjudul Teach You a Lesson, kita dihadapkan pada kenyataan pahit mengenai hilangnya wibawa guru dan merajalelanya penindasan di lingkungan sekolah. Saat sistem hukum dan institusi konvensional dianggap terlalu lunak atau mandul dalam melindungi korban, muncul pertanyaan ekstrem, apakah kekerasan dapat dibenarkan untuk mendisiplinkan remaja yang bermasalah?
Ketika GEDSI Absen dalam Pelayanan Publik
Tulisan ini mengulas pentingnya perspektif GEDSI dalam pelayanan publik dengan menyoroti relasi antara etika, kekuasaan, dan nilai-nilai kemanusiaan. Melalui refleksi atas sejumlah peristiwa yang menjadi perhatian publik, tulisan ini mengajak pembaca melihat kembali makna keadilan dan kepedulian dalam pelayanan kepada masyarakat.