Edisi Sabtu, 1 Agustus 2026

Beranda
Kembali ke Beranda
Bagaimana Jika Idealismemu Saya Tukar dengan Kemapanan Hidup?
Ilustrasi: Muhammad Dwi Septian/SM/https:/varian.suaramahasiswa.info

Bagaimana Jika Idealismemu Saya Tukar dengan Kemapanan Hidup?

Idealisme tidak pernah lahir dari kehidupan yang serba mudah. Ia tumbuh dari benturan, dengan kenyataan, dengan kekuasaan, bahkan dengan perut yang lapar. Sebab, gagasan yang tak pernah diuji oleh kenyataan, hanyalah angan-angan yang kebetulan terdengar indah.

Yons HungaYons Hunga 1 Agustus 2026 3 menit baca
8

Sebuah postingan di Instagram lewat di beranda saya. Isinya, sebuah pertanyaan, bagaimana jika idealismemu saya tukar dengan kemapanan hidup? Belum sempat saya meninggalkan jejak, pun belum sempat membaca isi komentarnya, pertanyaan tersebut membuat saya berpikir lebih jauh.

Bagaimana jika idealisme yang saya miliki ditukar dengan kemapanan hidup?

Saya mungkin akan bimbang. Barangkali, karena saya belum pernah merasakan hidup mapan, seperti yang saya lihat di tivi. Saya mungkin akan bimbang. Barangkali, karena saya belum pernah merasakan hidup, seperti yang saya baca pada buku-buku yang pernah singgah di rak saya.

Teman saya pernah berkata, terbentur, terbentur, tersungkur. Belakangan, saya tahu itu adalah plesetan dari kata-kata yang pernah ditulis oleh Tan Malaka, "terbentur, terbentur, terbentuk."

Mungkin karena itulah, idealisme tidak pernah lahir dari kehidupan yang serba mudah. Ia tumbuh dari benturan, dengan kenyataan, dengan kekuasaan, bahkan dengan perut yang lapar. Sebab, gagasan yang tak pernah diuji oleh kenyataan, hanyalah angan-angan yang kebetulan terdengar indah.

Lalu seseorang datang dan bertanya, "bagaimana jika idealismemu saya tukar dengan kemapanan hidup?" Sebuah pertanyaan sederhana, yang, mampu membuat kita berpikir keras. Saya mungkin akan bimbang. Barangkali, karena saya juga ingin hidup mapan.

Sejarah menunjukkan, bahwa hampir semua orang pernah berdiri di persimpangan itu. Memilih keamanan atau keyakinan. Memilih kenyamanan atau keberanian. Memilih memilih hidup tenang atau hidup dengan konsekuensi atas pilihan yang diambil.

Kemapanan memang menjanjikan banyak hal. Gaji yang cukup. Rumah yang layak. Jabatan yang dihormati. Tidak ada yang salah dengan itu. Tan Malaka pun tidak pernah mengajarkan bahwa kemiskinan adalah sebuah kebajikan. Yang ia tentang justru adalah ketika kemapanan dibayar dengan menyerahkan kebebasan berpikir. Hahaha, ini akan jadi lucu, bukan?

Sebab, ada saat ketika seorang berhenti mengkritik, bukan karena persoalannya telah selesai, tapi karena posisinya sudah terlalu nyaman untuk diganggu. Lidahnya menjadi mahal. Nuraninya mulai bisa dinegosiasikan. Dan, kau tahu? Idealisme yang pernah diagung-agungkan itu perlahan berubah menjadi kenangan masa muda yang sesekali diceritakan sambil ketawa.

Padahal, idealisme bukanlah penolakan terhadap hidup yang layak. Idealisme adalah keberanian untuk tetap mengatakan yang benar, ketika kebohongan lebih menguntungkan. Tetap berpihak kepada yang lemah, ketika kekuasaan menawarkan tempat duduk di barisan depan.

Barangkali, kemapanan bukanlah lawan dari idealisme. Karena sejak kau hidup mapan, kau tidak lagi mempertanyakan, "apakah ini benar?" Yang kau pikirkan hanyalah, "apakah ini aman?" Maka, jika suatu saat nanti, ada yang menawarkan untuk menukar idealismemu dengan kemapanan hidup, mungkin yang perlu kau tanyakan bukanlah berapa harga yang akan kau terima, tetapi berapa bagian dari dirimu yang harus kau tinggalkan untuk membayarnya.

"Mampus kau, dikoyak-koyak idealisme!"

Diskusi

0 komentar aktif dari pembaca dan kontributor komunitas.

0 komentar

Ikut berdiskusi

Tambahkan komentar, balas thread, atau kelola komentar Anda sendiri.

Anda perlu login untuk mengirim komentar, membalas, atau mengelola komentar sendiri.

Belum ada diskusi.

Jadilah orang pertama yang memulai percakapan untuk berita ini.

Bacaan Terkait

Berita lain yang layak dibaca setelah ini

Roberto "Generasi Emas" Martinez
#Olahraga

Roberto "Generasi Emas" Martinez

Sebuah ulasan singkat tentang bagaimana Roberto Martinez mengelola tim nasional bertabur bintang hingga dijuluki generasi emas, mulai dari Timnas Belgia hingga Timnas Portugal.

8 Juli 2026 Yons Hunga
Mikro, Ndasmu
#Opini

Mikro, Ndasmu

Sebuah isi pikiran, yang sebaiknya tidak dikeluarkan.

2 Juli 2026 Yons Hunga
Hal yang Seharusnya Dilakukan oleh Guru di Indonesia setelah Nonton Serial Teach You a Lesson
#Resensi Film

Hal yang Seharusnya Dilakukan oleh Guru di Indonesia setelah Nonton Serial Teach You a Lesson

Isu kekerasan pada remaja, selalu menghadirkan dilema moral yang mendalam. Dalam serial drama Korea berjudul Teach You a Lesson, kita dihadapkan pada kenyataan pahit mengenai hilangnya wibawa guru dan merajalelanya penindasan di lingkungan sekolah. Saat sistem hukum dan institusi konvensional dianggap terlalu lunak atau mandul dalam melindungi korban, muncul pertanyaan ekstrem, apakah kekerasan dapat dibenarkan untuk mendisiplinkan remaja yang bermasalah?

30 Juni 2026 Yons Hunga
Ketika GEDSI Absen dalam Pelayanan Publik
#Refleksi

Ketika GEDSI Absen dalam Pelayanan Publik

Tulisan ini mengulas pentingnya perspektif GEDSI dalam pelayanan publik dengan menyoroti relasi antara etika, kekuasaan, dan nilai-nilai kemanusiaan. Melalui refleksi atas sejumlah peristiwa yang menjadi perhatian publik, tulisan ini mengajak pembaca melihat kembali makna keadilan dan kepedulian dalam pelayanan kepada masyarakat.

28 Juni 2026 Antoni Resi
Mati Sekarang atau Nanti Sama Saja
#Refleksi

Mati Sekarang atau Nanti Sama Saja

Tidak ada manusia yang hidup kekal. Cepat atau lambat, semua akan mati. Entah nanti atau sekarang, kematian memang merupakan kepastian yang tidak bisa ditolak. Akan tetapi, kepastian kematian tidak serta-merta menghapus makna kehidupan. Sebagaimana kita tidak peduli benar dan salah bahwa 10 + 6 adalah 17 karena ujung-ujungnya tetap MBG, demikian pula kita tidak dapat mengatakan bahwa mati sekarang sama saja dengan nanti hanya karena sedang lelah menjalani hidup.

25 Juni 2026 Antoni Resi
Membaca Ulang Segala Omong Kosong tentang Diri Sendiri
#Catatan

Membaca Ulang Segala Omong Kosong tentang Diri Sendiri

Tulisan ini berisi hasil diagnosa kejiwaan saya, yang, ya, kalau kau tertarik untuk tertawa bersamaku, silahkan dibaca

22 Juni 2026 Yons Hunga
Mahasiswa, Sampah dan Kebijakan Pemerintah
#Opini

Mahasiswa, Sampah dan Kebijakan Pemerintah

Dari 100 ekonomi terbesar di bumi, 51% adalah milik perusahaan. Dan ketika perusahaan membengkak dalam artian finansial, maka kekuatan perusahaan juga ikut membengkak. Akibatnya, terjadi perubahan sikap dari pemerintah yang sebelumnya dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat, beralih pada kepedulian pada perusahaan dengan segala modalnya itu.

15 Juni 2026 Yons Hunga

Menampilkan 7 bacaan terkait