Edisi Kamis, 1 Oktober 2026

Beranda
Mikro, Ndasmu

Mikro, Ndasmu

Sebuah isi pikiran, yang sebaiknya tidak dikeluarkan.

Yons HungaYons Hunga 2 Juli 2026 3 menit baca

Habis dapat makanan, yang, isinya ada ini, sebuah bungkus plastik klip kecil berisi beberapa butir kacang tanah goreng. Secara visual, porsi sekecil ini terlihat sangat kontras di atas telapak tangan orang dewasa. Bahkan bila dibandingkan dengan gaji saya yang imut, yang ini lebih imut lagi. Porsinya begitu hemat, seolah-olah pembuatnya sedang mempraktikkan protokol kesehatan ketat, menjaga agar kolesterol dan kebahagiaan kita tidak melonjak secara bersamaan. Apalagi, kita tahu bersama, bahwa bahkan pidato saja bisa membuat kita trauma.

Fenomena porsi mikro atau minimalis dalam bingkisan makanan ini memicu sebuah refleksi mendalam mengenai realitas pemenuhan gizi masyarakat kelas bawah. Di satu sisi, kehadiran camilan pelengkap ini patut disyukuri, namun di sisi lain, ia menjadi cerminan nyata dari siasat bertahan hidup masyarakat dalam menghadapi ketatnya kondisi ekonomi. Barangkali, karena itulah, jika MBG dihentikan, yang kelaparan bukan anak-anak. 

Jika dikaitkan dengan situasi di Indonesia saat ini, potret ini sangat relevan dengan isu ketimpangan akses pangan dan penurunan daya beli. Berdasarkan laporan penelitian di Jurnal Finansial dan Kebijakan Publik, lonjakan harga komoditas pangan pokok yang fluktuatif belakangan ini kian menekan dompet masyarakat miskin. Ketika harga-harga melambung, sektor usaha mikro maupun penyedia bantuan sosial terpaksa memangkas ukuran atau volume makanan demi menjaga kelangsungan produksi tanpa harus menaikkan harga jual secara ekstrem. Plastik sekecil ini adalah bentuk nyata dari kompromi ekonomi tersebut. Toh, orang desa tidak akan terpengaruh soal naiknya dollar.

Ketimpangan distribusi dan akses terhadap makanan bergizi juga menjadi benang merah yang kuat dari fenomena ini. Data dari Kementerian Keuangan menunjukkan bahwa meskipun Indonesia berupaya mencapai swasembada, kesenjangan antara wilayah urban dan rural dalam memperoleh pasokan pangan berkualitas masih menjadi pekerjaan rumah yang besar. Porsi mini seperti kacang dalam klip plastik ini sering kali menjadi opsi asal ada, untuk memenuhi pilar keterjangkauan (access) bagi masyarakat rentan, meski pilar pemanfaatan gizi (utilization) belum terpenuhi secara optimal. 

Di tengah ambisi besar pemerintah yang menaikkan anggaran ketahanan pangan demi target swasembada, realitas di akar rumput masih memperlihatkan kerentanan. Studi dari Universitas Airlangga mengingatkan bahwa banyak masyarakat bawah, termasuk keluarga petani, terjebak dalam transient poverty atau kemiskinan sementara akibat guncangan ekonomi. Bagi mereka yang berada di garis rentan ini, bingkisan makanan sekecil apa pun memiliki nilai bertahan hidup yang berharga, sekaligus menjadi alarm bahwa jaring pengaman sosial harus lebih tepat sasaran.

Sebungkus kecil kacang ini adalah representasi visual yang sempurna dari data Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai kenaikan inflasi pangan tahunan. Ketika harga-harga bahan pokok merangkak naik, ukuran kemasan makanan di lapangan otomatis menyusut mengikuti hukum alam. Maka, ketika ada temanmu, yang adalah petugas BPS datang mengeluh karena ditolak atau dibuat menangis oleh masyarakat yang enggan memberi data ketika disensus, terima saja. Barangkali, kita juga perlu memaklumi masyarakat, karena akses mereka juga minim, seperti porsi mikro ini. Yang penting, jangan sesekali bilang pada masyarakat, ndasmu, mengikuti arah tuan, yang tak pernah mendengarkan suara rakyat. 

Yons Hunga

Ditulis Oleh Yons Hunga

62

Diskusi

0 komentar aktif dari pembaca dan penulis komunitas.

0 komentar

Ikut berdiskusi

Tambahkan komentar, balas thread, atau kelola komentar Anda sendiri.

Anda perlu login untuk mengirim komentar, membalas, atau mengelola komentar sendiri.

Belum ada diskusi.

Jadilah orang pertama yang memulai percakapan untuk berita ini.

Bacaan Terkait

Berita lain yang layak dibaca setelah ini

Nyawa di Ujung Pensil: Suara dari Timur yang Terabaikan
#Opini

Nyawa di Ujung Pensil: Suara dari Timur yang Terabaikan

Tulisan ini hadir untuk mengenang anak dan saudara kita di Ngada, NTT yang menceritakan keresahan penulis terkait kemiskinan struktural.

3 September 2026 Keren Marselin
Yesus, Terminator dan Saya
#Catatan

Yesus, Terminator dan Saya

Kisah kocak Yesus dan Terminator membawa refleksi tentang pengkhianatan, gambaran Tuhan dalam diri manusia, serta cara menyikapi orang terdekat yang berkhianat.

30 Agustus 2026 Yons Hunga
Hangera dan Martabat Laki-laki dalam Tradisi Sumba
#Opini

Hangera dan Martabat Laki-laki dalam Tradisi Sumba

Hangera dalam adat Sumba memiliki konteks dan tahapan. Tinggal di rumah perempuan tak otomatis melanggar adat; yang penting proses, persetujuan, serta konteks.

30 Agustus 2026 Antoni Resi
Menelusuri indikasi TPPO dalam budaya Sumba
#Opini

Menelusuri indikasi TPPO dalam budaya Sumba

Menelusuri indikasi TPPO dalam praktik sosial budaya Sumba, dari perjodohan hingga perbudakan tradisional, dengan menempatkan kemanusiaan sebagai yang utama.

26 Agustus 2026 Antoni Resi
Gempa Flores dan Pertanyaan Teologis: Apakah Sedikitnya Korban Bukti Mukjizat?
#Opini

Gempa Flores dan Pertanyaan Teologis: Apakah Sedikitnya Korban Bukti Mukjizat?

Menarik kesimpulan bahwa jumlah korban sedikit adalah bukti bahwa Tuhan menunjukkan mukjizat merupakan cara berpikir yang keliru.

23 Agustus 2026 Asthy Anastasia
Gempa Flores dan Ironi "Bon di Kios"
#Opini

Gempa Flores dan Ironi "Bon di Kios"

Gubernur Maluku sumbang satu miliar, Gubernur Sulawesi sumbang lima ratus juta, sementara Gubernur NTT suruh masyarakat bon di kios.

19 Agustus 2026 Yohan Mataubana
Seberapa Jauh Kita Mau Percaya pada Sesuatu yang Mustahil?
#Resensi Film

Seberapa Jauh Kita Mau Percaya pada Sesuatu yang Mustahil?

Film animasi ini berkisah tentang Peter, seorang anak yatim-piatu, yang ditinggal mati oleh kedua orangtuanya saat terjadi perang.

18 Agustus 2026 Yons Hunga
Menjadi Waras itu Gila
#Catatan

Menjadi Waras itu Gila

Sebuah usaha untuk menjadi waras di negeri yang, ya, terserah kau mau menyebutnya apa.

11 Agustus 2026 Yons Hunga
Atas Nama Timor
#Opini

Atas Nama Timor

Polemik gelar “Sesepuh Raja Timor” bukan sekadar penghormatan adat, tetapi menyangkut legitimasi, representasi, dan siapa yang berhak berbicara atas nama Timor.

10 Agustus 2026 Try Tualaka