Edisi Kamis, 3 September 2026

Beranda
kompas.id
Foto Tulisan tangan (surat peninggalan) dari kasus anak SD di Ngada, NTT yang diambil dari Kompas.id

Nyawa di Ujung Pensil: Suara dari Timur yang Terabaikan

Tulisan ini hadir untuk mengenang anak dan saudara kita di Ngada, NTT yang menceritakan keresahan penulis terkait kemiskinan struktural.

Keren MarselinKeren Marselin 3 September 2026 6 menit baca

“Kami bukan kurang pintar, tapi kurang diperhatikan!”

Lisan Pertama: Ketika Pendidikan menjadi Beban Mematikan

Di tanah NTT, matahari memang terbit lebih awal, tapi cahaya harapan seringkali tiba paling terlambat. Matahari disini biasanya membakar semangat kami untuk tetap berdiri di atas tanah karang yang keras. Namun kali ini, matahari itu nampak suram. Dada saya sesak, hati saya piluh, mendengar seorang anak yang memilih pulang ke pelukan tanah karena tak mampu membeli sebatang pensil. Ia harus mengeja kematian di saat ia seharusnya mengeja masa depan.

Sebuah tragedi yang membuktikan bahwa negeri ini, menjadi pintar butuh biaya, namun menjadi miskin bisa berarti mati. Masa depannya bukan terkubur sekali, tetapi selamanya. Dunia seringkali menjuluki kami “tertinggal” dengan nada kasihan dan angkuh yang merendahkan. Mereka lupa bahwa berlari di atas karang dengan kaki telanjang tidaklah sama dengan berlari di atas jalanan mulus beraspal layaknya kemegahan ibukota.

Duka dari Ngada itu bukan sekadar riak kecil di tengah samudera; ia adalah ledakan sunyi yang saya saksikan sendiri perlahan membunuh di sudut-sudut kota Kupang. Saya tinggal di kota Kupang, namun tepatnya di desa yang terbilang masih dekat di sudut kota.

Di sini, ketidakadilan tidak selalu datang dalam bentuk tangisan, tapi hadir dalam rupa tangan-tangan mungil yang menjual sayur di jalanan ataupun sekadar meminta makanan sisa kepada orang kaya di perumahan untuk ternak yang ada di kandang. Anak-anak masih bisa bersekolah, tapi di saat yang sama mereka juga bekerja mencari uang dengan berjualan di jalanan maupun di pasar.

Hati ini sedih di sela waktu mengajar, seorang anak datang dan menghampiri dengan tatapan yang sulit dilupakan. Ia bertanya pelan,

“Kakak, kalau bermimpi itu harus kaya yaa? kalau tidak punya uang, tetap bisa bermimpi?”

Pertanyaan itu membuat saya terdiam, meruntuhkan logika. Di situ saya sadar, bagi anak-anak di sekitar saya, mimpi bukan lagi soal keinginan menjadi apa di masa depan, melainkan soal apakah mereka “layak” memilikinya tanpa uang di saku.”

Kesadaran ini tumbuh saat saya duduk bersama anak-anak di sekitar rumah, mencoba mengais siswa waktu untuk mengajar mereka. Di situ, saya melihat binar mata yang sama dengan anak-anak di kota besar; binar kecerdasan. Mereka tidak bodoh; mereka hanya layu sebelum berkembang karena tak pernah disiram oleh perhatian yang layak.

Di bawah lampu merah yang berkedip, saya sering terpaku melihat pemandangan jemari kecil yang seharusnya memegang pensil, justru sibuk memilah bongkahan koran untuk dijual. Namun, dengan saksama saya perhatikan di antara debu knalpot, mulut mereka tetap komat-kamit menghafal perkalian matematika.

Ada ironi yang menyesakkan saat mobil-mobil mewah melaju kencang di atas aspal yang baru saja diresmikan, sementara di pinggir jalan itu, seorang anak sedang menghitung recehan hasil jualan koran untuk membeli sebungkus nasi dan satu buah pulpen.

Lisan Kedua: Sekolah, Tempat ini untuk aku atau bukan?

Saya sering bertanya-tanya, apa yang berkecamuk di kepala seorang anak saat ia melangkah melewati gerbang sekolah dengan perut kosong dan tas yang ringan karena tak ada buku di dalamnya? Apakah ia merasa sedang menuju masa depan, atau justru sedang memasuki ruang yang setiap detiknya menghakimi kemiskinannya?

Sekolah seringkali kita agungkan sebagai “jembatan”, namun bagi banyak adik-adik saya di NTT, jembatan itu memiliki tarif yang tak sanggup mereka bayar. Bukan hanya soal biaya SPP, tapi soal martabat yang dipertaruhkan setiap kali guru meminta mereka mengeluarkan alat tulis. Di saat itulah, sebatang pensil bukan lagi sekadar alat untuk melingkari jawaban, melainkan sebuah pengakuan: apakah aku layak ada di sini?

Ketidakadilan struktural ini menciptakan sebuah dinding kaca yang tebal. Mereka bisa melihat ilmu di dalamnya, tapi mereka merasa tak berhak menyentuhnya. Pikiran mereka terbelah; separuh untuk menghafal rumus, separuhnya lagi untuk menghitung sisa jualan sayur atau koran agar besok bisa kembali ke kelas tanpa rasa malu.

Ketika seorang anak bertanya, “Kalau tidak punya uang, tetap bisa bermimpi?”, ia sebenarnya sedang menggugat kita semua. Ia sedang bertanya apakah sekolah memang dirancang untuk merangkul mimpinya, atau hanya sekadar gedung megah di pinggir jalan aspal mulus yang hanya bisa ia pandangi dari kejauhan sambil menjajakan dagangan.

Jika sistem pendidikan kita masih membiarkan seorang anak merasa “asing” di dalam kelasnya sendiri hanya karena keterbatasan materi, maka kita harus berani jujur: Sekolah bukan sedang mencerdaskan bangsa, ia sedang menyeleksi siapa yang “pantas” untuk pintar berdasarkan tebalnya dompet orang tua.

Lisan Ketiga: Menunjuk Telunjuk; Tanggung Jawab Siapa?

Ketika tragedi ini meledak, refleks pertama kita seringkali adalah mencari siapa yang salah. Namun, menuding telunjuk di tengah duka adalah hal yang sia-sia jika kita tidak berani membedah akar masalahnya. Jadi, tanggung jawab siapa ini sebenarnya?

Seringkali, beban itu diletakkan dengan kejam di bahu orang tua. Kita menghakimi kemiskinan mereka seolah-olah itu adalah pilihan. Kita lupa bahwa di tanah ini, bekerja keras saja tidak cukup jika kesempatan tidak pernah mampir ke pintu rumah. Orang tua mana yang ingin melihat anaknya layu? Mereka hanyalah korban dari sebuah putaran nasib yang tak pernah berpihak pada kaum papa.

Atau apakah ini tanggung jawab anak itu sendiri? Sama sekali tidak. Seorang anak seharusnya hanya punya satu tugas: belajar dan bermain. Menuntut seorang bocah untuk memiliki ketahanan mental setebal baja di tengah rasa malu yang menghimpit adalah sebuah kejahatan. Kita tidak bisa meminta seorang anak untuk menjadi “pahlawan” yang kuat menghadapi kemiskinan, sementara dunia di sekelilingnya terus berbisik bahwa dia tidak berharga. Maka, telunjuk ini harus berani menunjuk ke arah yang lebih tinggi: Pemerintah dan Sistem kita.

Di mana negara saat aspal di jalanan El Tari dipoles hingga mengkilap, sementara saku baju anak-anak di sekitarnya kosong melompong? Mengapa anggaran pendidikan yang megah itu seringkali hanya berakhir menjadi gedung-gedung beton dan jargon digitalisasi, namun gagal menyediakan sebatang pensil bagi mereka yang di pelosok? Ini adalah kegagalan struktural. Ketika akses terhadap pendidikan dan martabat disandera oleh status ekonomi, maka pemerintah sedang melakukan pembiaran terhadap hilangnya masa depan anak-anak kita.

Dan terakhir, ini adalah tanggung jawab lingkungan, tanggung jawab kita semua. Kita yang seringkali melabeli mereka “kurang pintar” tanpa pernah bertanya apakah mereka punya alat untuk mengasah otaknya. Kita yang lebih memilih memuji “ketangguhan” anak penjual koran daripada marah melihat hak bermain mereka dirampas.

Kematian anak di Ngada dan tangis sunyi anak-anak di Kupang bukan karena mereka menyerah, tapi karena kita; pemerintah, sistem, dan lingkungan yang secara kolektif telah melepaskan tangan mereka.

Akhir Kata

Tulisan ini hadir sebagai bentuk keresahan sekaligus kritik kepada mereka yang seharusnya bertanggung jawab. Terutama, saya ucapkan duka yang sedalam-dalamnya atas peristiwa yang terjadi. Untuk mereka, dan untuk dia yang telah pergi di Ngada, saya ingin berteriak sekali lagi kepada dunia:

“Kami bukan kurang pintar, kami hanya kurang diperhatikan! Jangan biarkan pensil mereka patah lagi, atau kita akan kehilangan seluruh warna di masa depan."

Tuhan Menyertai Kita Semua!!

Keren Marselin

Ditulis Oleh Keren Marselin

5

Diskusi

0 komentar aktif dari pembaca dan kontributor komunitas.

0 komentar

Ikut berdiskusi

Tambahkan komentar, balas thread, atau kelola komentar Anda sendiri.

Anda perlu login untuk mengirim komentar, membalas, atau mengelola komentar sendiri.

Belum ada diskusi.

Jadilah orang pertama yang memulai percakapan untuk berita ini.

Bacaan Terkait

Berita lain yang layak dibaca setelah ini

Hangera dan Martabat Laki-laki dalam Tradisi Sumba
#Opini

Hangera dan Martabat Laki-laki dalam Tradisi Sumba

Hangera dalam adat Sumba memiliki konteks dan tahapan. Tinggal di rumah perempuan tak otomatis melanggar adat; yang penting proses, persetujuan, serta konteks.

30 Agustus 2026 Antoni Resi
Menelusuri indikasi TPPO dalam budaya Sumba
#Opini

Menelusuri indikasi TPPO dalam budaya Sumba

Menelusuri indikasi TPPO dalam praktik sosial budaya Sumba, dari perjodohan hingga perbudakan tradisional, dengan menempatkan kemanusiaan sebagai yang utama.

26 Agustus 2026 Antoni Resi
Gempa Flores dan Pertanyaan Teologis: Apakah Sedikitnya Korban Bukti Mukjizat?
#Opini

Gempa Flores dan Pertanyaan Teologis: Apakah Sedikitnya Korban Bukti Mukjizat?

Menarik kesimpulan bahwa jumlah korban sedikit adalah bukti bahwa Tuhan menunjukkan mukjizat merupakan cara berpikir yang keliru.

23 Agustus 2026 Asthy Anastasia
Gempa Flores dan Ironi "Bon di Kios"
#Opini

Gempa Flores dan Ironi "Bon di Kios"

Gubernur Maluku sumbang satu miliar, Gubernur Sulawesi sumbang lima ratus juta, sementara Gubernur NTT suruh masyarakat bon di kios.

19 Agustus 2026 Yohan Mataubana
Atas Nama Timor
#Opini

Atas Nama Timor

Polemik gelar “Sesepuh Raja Timor” bukan sekadar penghormatan adat, tetapi menyangkut legitimasi, representasi, dan siapa yang berhak berbicara atas nama Timor.

10 Agustus 2026 Try Tualaka
Mentalitas Budak dan Perbudakan di Sumba
#Opini

Mentalitas Budak dan Perbudakan di Sumba

Tulisan ini merupakan refleksi atas pemberitaan media Prancis yang menyoroti praktik perbudakan di Sumba. Berangkat dari kegelisahan terhadap sikap sebagian masyarakat yang cenderung menganggap persoalan tersebut sebagai sesuatu yang lumrah, tulisan ini mengulas perbudakan sebagai warisan sejarah yang seharusnya telah ditinggalkan. Dengan merujuk pada Max Havelaar karya Multatuli, tulisan ini menganalisis bagaimana sistem penindasan dapat melahirkan "mentalitas budak", yakni kesadaran yang menerima ketidakadilan sebagai kewajaran. Selain mengkritik pembiaran sosial dan penggunaan budaya sebagai legitimasi perbudakan, tulisan ini juga mendorong pemerintah untuk memperkuat komitmen penghapusan perbudakan melalui kebijakan yang lebih konkret.

28 Juli 2026 Rifal Umbu Djawa
Pajak Global Mengubah Peta Persaingan Investasi Indonesia.
#Opini
#Ekonomi

Pajak Global Mengubah Peta Persaingan Investasi Indonesia.

Global Minimum Tax menandai berakhirnya era "race to the bottom" dalam pajak. Bagi Indonesia, ini ujian sekaligus peluang. Tantangannya adalah memastikan reformasi pajak berjalan beriringan dengan pembangunan iklim investasi yang sehat, adil, dan berkelanjutan!.

22 Juli 2026 Tini Landang
ASN Pemda Jelata Bicara: "Cerminnya Masih Ada, Pak?"
#Opini

ASN Pemda Jelata Bicara: "Cerminnya Masih Ada, Pak?"

Opini ini menanggapi stereotip tentang 'ASN malas' dengan ketimpangan realistas ASN daerah yang bermodalkan kantong pribadi.

21 Juli 2026 Petatas Ungu
Bagaimana kalo Kartini hidup di NTT?
#Opini

Bagaimana kalo Kartini hidup di NTT?

Jika Kartini hidup di NTT? bagaimana isi suratnya pada teman-temannya di Eropa?

2 Juli 2026 Kici Kiciw