Edisi Sabtu, 5 September 2026

Beranda
ASN Pemda Jelata Bicara: "Cerminnya Masih Ada, Pak?"
Ilustrasi: Tasikmalayaku.id

ASN Pemda Jelata Bicara: "Cerminnya Masih Ada, Pak?"

Opini ini menanggapi stereotip tentang 'ASN malas' dengan ketimpangan realistas ASN daerah yang bermodalkan kantong pribadi.

Petatas UnguPetatas Ungu 21 Juli 2026 5 menit baca

Bapak Anggota DPR yang terhormat,
Terima kasih atas kritik "mental ASN ngabsen pulang ngopi ngabsen siang pulang" yang Bapak sampaikan dengan kepercayaan diri yang patut diapresiasi dengan predikat Sangat Baik kalau versi SKP. Lumayanlah buat nambah-nambah angka kredit kepercayaan rakyat, siapa tahu periode berikut naik jabatan jadi ketua DPR, ye, kan. Kritikan Bapak menambah daftar panjang kritikan stereotip terkait ASN. Beberapa waktu lalu ada juga yang bilang ASN hanya fokus urus tunjangan kinerja-lah, anggaran gaji ASN besar jadi beban APBD-lah, warganet yang kritik kami tidak boleh punya hobi rakit gundam karena pakai uang rakyat-lah, dan bla-bla-blah.

Harus saya akui, memang ada segelintir oknum yang sering kali hanya datang mengisi daftar hadir, duduk sebentar, ngopi, lalu pulang, tapi lagi-lagi hanya s-e-g-e-l-i-n-t-i-r orang. Namun, ada baiknya jika memilah kata-kata yang Bapak ucapkan sehingga tidak terdengar seperti hanya melempar stereotip lama untuk mendapat simpati publik.

Lalu soal KPI (Key Performance Indicator) yang Bapak gaungkan, kami juga punya, namanya SKP (Sasaran Kinerja Pegawai) sesuai dengan Permenpan-RB Nomor 6 Tahun 2022 tentang Pengelolaan Kinerja Pegawai ASN. Masa peraturan itu saja Bapak tidak tahu?
Bukankah itu salah satu tugas Bapak sebagai Anggota DPR yang terhormat untuk MEMBACA, MENELAAH dan MEMAHAMI, apalagi Komisi II DPR itu mitra kerja resmi Kementerian PANRB.

Lanjut terkait ASN yang fokusnya cuma Tunjangan Kinerja (Tukin) atau Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) mulu--walaupun bukan kritikan dari orang yang sama--- hmm.. sebagai ASN Pemda Non-TPP apalagi tukin alias Pemda Jelata, kritikan tersebut sangat menarik dikuliti, interesting. Sama halnya dengan Bapak di DPR, politikus ini juga melempar stereotip seolah-olah tidak satu pun ASN yang bekerja tulus melayani masyarakat.

Saya menulis ini selepas apel sore, menggunakan laptop pribadi  sembari menyeruput cappucino saset hasil ngutang di Ibu kantin dekat kantor. Pantri di kantor kami tidak menyediakan kopi, gula, dan sebagainya. Air minum kami beli sendiri air botol kemasan atau bawa dari rumah. Jangan air, seragam kerja pun beli menggunakan uang pribadi. Selain itu, saya dan bahkan rekan sejawat seangkatan lulus CAT belum pernah mendapatkan fasilitas laptop/PC kantor sejak menyandang status CPNS beberapa tahun silam. Untuk internet, puji syukur, tahun lalu akhirnya terpasang juga wifi di kantor kami. Sebelumnya kami menggunakan internet hasil tethering dari ponsel pribadi, kadang harus menahan malu kalau ada tamu dari instansi vertikal yang menanyakan password wifi yang nongol di layar gawai mereka padahal itu punya kantor sebelah. Malunya lagi, saat itu hanya kantor kami yang tidak punya fasilitas wifi di kompleks perkantoran pemda tempat saya mengabdi.

Setiap kali ada kegiatan di tingkat provinsi atau nasional seperti diklat, ASN pemda lain sibuk mengecek mobile banking karena tukin / TPP sudah cair, sedang kami hanya senyum miris. Puji syukur, kami masih punya SPPD (Surat Perintah Perjalanan Dinas), khususnya kantor kami karena wilayah kerja mencakup seluruh pelosok di kabupaten kami.

Then everything changed when the Efisiensi Anggaran attacked, SPPD vanished. Penghematan anggaran yang menyebabkan pemotongan TKD (transfer ke daerah) membuat kami juga mau tidak mau turun ke lapangan bermodalkan nyawa, motor pribadi dan uang bensin dari kantong pribadi. Kalau motor mogok/rusak (amit-amit), cari solusi sendiri karena kami ASN strong.

Kendaraan dinas?
Itu hanya untuk Bapak/Ibu Esmelon, tak jarang ada s-e-g-e-l-i-n-t-i-r oknum yang  menggunakannya untuk kepentingan pribadi misalnya mengangkut bibit padi siap tanam. Silakan tertawa, pemirsa...

Ngomong-ngomong soal kebijakan anggaran khususnya pemotongan TKD, ini juga ada kaitannya dengan kritikan 'anggaran belanja ASN jadi beban APBD'.  Sebelum ada efisiensi anggaran, belanja pegawai daerah tidak sampai menyentuh angka paling tinggi 30 persen sesuai ketentuan pasal 146 ayat (1) Undang-undang Nomor 1 Tahun 2022 tentang Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (UU HKPD). Namun karena pemotongan TKD, belanja pegawai jadi melonjak hingga 40-an persen.

Bayangkan, kamu punya uang jajan Rp10.000, ortu cuma bolehin maksimal Rp3.000 untuk bayar ongkos angkutan umum/beli bensin teman yang ngasih tebengan ke sekolah (gaji ASN). Sisanya harus dipakai untuk beli buku pelajaran dan kaos kaki kamu yang bolong sebelah (fasilitas publik). Ortu tiba-tiba ngurangin uang jajan kamu jadi Rp7.000 tapi ongkos angkot masih tetap Rp3.000 dan ortu bilang bahwa kamu boros di ongkos angkot padahal tidak ada perubahan tarif angkot (perubahan jumlah ASN), yang berubah itu besaran uang jajan yang diberikan oleh ortu. Akibatnya kamu harus menunda beli kaos kaki baru (menunda pembangunan infrastruktur).

Dan yang terakhir.
Apa salahnya sih punya hobi misalnya rakit gundam kalau uangnya hasil dari menyisihkan sedikit dari gaji bulanan ASN yang se-imut itu? Apa salahnya kalo hobi rakit gundam dari tabungan pribadi dan kinerjanya di kantor bagus?

Asalkan bukan menumpuk emas batangan yang masih diragukan asal-usulnya saingan sama berat emas di Monas. Emas murni di trofi piala dunia aja cuma 5 kilogram kurang dikit.
Dan asalkan bukan koleksi action figure, tamiya dan lego tapi kinerjanya artificial semua.

The last but not least, pernahkah Bapak yang terhormat bercermin?
Ya, itu pun kalau Bapak punya cermin.
Tanpa mengurangi rasa hormat, pleaseeeee... bercerminlah. Serius!!
Bapak dan rekan sejawat Bapak di DPR, kalau dipakai sistem KPI, yakin performanya lebih bagus dari kami ASN di kasta terendah ini, ASN Pemda Jelata ini?

Petatas Ungu

Ditulis Oleh Petatas Ungu

40

Diskusi

0 komentar aktif dari pembaca dan kontributor komunitas.

0 komentar

Ikut berdiskusi

Tambahkan komentar, balas thread, atau kelola komentar Anda sendiri.

Anda perlu login untuk mengirim komentar, membalas, atau mengelola komentar sendiri.

Belum ada diskusi.

Jadilah orang pertama yang memulai percakapan untuk berita ini.

Bacaan Terkait

Berita lain yang layak dibaca setelah ini

Nyawa di Ujung Pensil: Suara dari Timur yang Terabaikan
#Opini

Nyawa di Ujung Pensil: Suara dari Timur yang Terabaikan

Tulisan ini hadir untuk mengenang anak dan saudara kita di Ngada, NTT yang menceritakan keresahan penulis terkait kemiskinan struktural.

3 September 2026 Keren Marselin
Hangera dan Martabat Laki-laki dalam Tradisi Sumba
#Opini

Hangera dan Martabat Laki-laki dalam Tradisi Sumba

Hangera dalam adat Sumba memiliki konteks dan tahapan. Tinggal di rumah perempuan tak otomatis melanggar adat; yang penting proses, persetujuan, serta konteks.

30 Agustus 2026 Antoni Resi
Menelusuri indikasi TPPO dalam budaya Sumba
#Opini

Menelusuri indikasi TPPO dalam budaya Sumba

Menelusuri indikasi TPPO dalam praktik sosial budaya Sumba, dari perjodohan hingga perbudakan tradisional, dengan menempatkan kemanusiaan sebagai yang utama.

26 Agustus 2026 Antoni Resi
Gempa Flores dan Pertanyaan Teologis: Apakah Sedikitnya Korban Bukti Mukjizat?
#Opini

Gempa Flores dan Pertanyaan Teologis: Apakah Sedikitnya Korban Bukti Mukjizat?

Menarik kesimpulan bahwa jumlah korban sedikit adalah bukti bahwa Tuhan menunjukkan mukjizat merupakan cara berpikir yang keliru.

23 Agustus 2026 Asthy Anastasia
Gempa Flores dan Ironi "Bon di Kios"
#Opini

Gempa Flores dan Ironi "Bon di Kios"

Gubernur Maluku sumbang satu miliar, Gubernur Sulawesi sumbang lima ratus juta, sementara Gubernur NTT suruh masyarakat bon di kios.

19 Agustus 2026 Yohan Mataubana
Atas Nama Timor
#Opini

Atas Nama Timor

Polemik gelar “Sesepuh Raja Timor” bukan sekadar penghormatan adat, tetapi menyangkut legitimasi, representasi, dan siapa yang berhak berbicara atas nama Timor.

10 Agustus 2026 Try Tualaka
Mentalitas Budak dan Perbudakan di Sumba
#Opini

Mentalitas Budak dan Perbudakan di Sumba

Tulisan ini merupakan refleksi atas pemberitaan media Prancis yang menyoroti praktik perbudakan di Sumba. Berangkat dari kegelisahan terhadap sikap sebagian masyarakat yang cenderung menganggap persoalan tersebut sebagai sesuatu yang lumrah, tulisan ini mengulas perbudakan sebagai warisan sejarah yang seharusnya telah ditinggalkan. Dengan merujuk pada Max Havelaar karya Multatuli, tulisan ini menganalisis bagaimana sistem penindasan dapat melahirkan "mentalitas budak", yakni kesadaran yang menerima ketidakadilan sebagai kewajaran. Selain mengkritik pembiaran sosial dan penggunaan budaya sebagai legitimasi perbudakan, tulisan ini juga mendorong pemerintah untuk memperkuat komitmen penghapusan perbudakan melalui kebijakan yang lebih konkret.

28 Juli 2026 Rifal Umbu Djawa
Pajak Global Mengubah Peta Persaingan Investasi Indonesia.
#Opini
#Ekonomi

Pajak Global Mengubah Peta Persaingan Investasi Indonesia.

Global Minimum Tax menandai berakhirnya era "race to the bottom" dalam pajak. Bagi Indonesia, ini ujian sekaligus peluang. Tantangannya adalah memastikan reformasi pajak berjalan beriringan dengan pembangunan iklim investasi yang sehat, adil, dan berkelanjutan!.

22 Juli 2026 Tini Landang
Bagaimana kalo Kartini hidup di NTT?
#Opini

Bagaimana kalo Kartini hidup di NTT?

Jika Kartini hidup di NTT? bagaimana isi suratnya pada teman-temannya di Eropa?

2 Juli 2026 Kici Kiciw