
Bagaimana kalo Kartini hidup di NTT?
Jika Kartini hidup di NTT? bagaimana isi suratnya pada teman-temannya di Eropa?
Ini tulisan sa buat menjelang hari Kartini bulan April lalu. Rencananya akan posting di IG, tapi lupa. Ketika tahu ada ruang menulis (yang bebas dan tanpa aturan mengikat) seperti ini, tulisan yang mungkin hanya akan mengendap di notes hp, akhirnya sa beranikan diri untuk share (tentunya setelah meyakinkan diri berkali-kali)
Kembali ke topik.
Bagaimana kalo Kartini Hidup di NTT?
Kalo Kartini hidup di NTT, mungkin dia tir hanya omong tentang keterbatasan akses pendidikan bagi perempuan. Tapi ju tentang jarak tempuh yang jauh ke sekolah, orang tua yang dilema pilih biaya sekolah anak ato makan minum di rumah, juga tentang nilai-nilai sosial yang masih tempatkan perempuan posisi kedua sebagai pendamping laki-laki.
Kartini pu surat-surat untuk de pu kawan di Eropa mungkin akan berisi keluhan tentang angka pernikahan dini yang masih tinggi, kawin tangkap di Sumba, kasus-kasus pemerkosaan oleh orang berpangkat dan berpendidikan, angka putus sekolah yang tinggi, sekolah berdinding papan, anak-anak yang tir pake sepatu, remaja yang dihamili om ato bapa kandungnya, perempuan yang tiap hari kena KDRT, strata sosial yang ada di Sumba, juga pembangungan yang tir merata antara Indonesia Barat deng Timur, ato antara pusat deng daerah. Bisa jadi Kartini akan bersurat tentang program-program ’lahan basah’ yang bikin anak-anak keracunan dengan efisiensi dimana-mana ato tentang calon manajer Kopdes Merah Putih yang lagi latihan militer huuu haaa
Kalo Kartini hidup di NTT, dia akan liat hal yang beda jauh deng kondisi di Jawa. Dia akan liat perempuan perempuan yang kerja tiap waktu; menenun, bertani, mengurus rumah, urus anak-suami, jalan naik turun bukit pi timba air, bangun jam tiga subuh tapi tidur tengah malam. Di satu sisi, dia akan dianggap bentuk kekuatan perempuan. Tetapi di sisi lain ju, ini beban ganda yang tidak diakui sebagai kerja yang bernilai.
Tapi ee.. kalo Kartini hidup di NTT, dia juga harus belajar dari kita pu perempuan-perempuan lokal. Dia akan liat penenun-[enenun yang terus jaga pengetahuan turun-temurun, mama-mama yang bisa racik obat dari ramuan-ramuan di hutan, perempuan-perempuan yang mbangun solidaritas di komunitas, dan mereka yang ciptakan ruang-ruang kekuatan dalam keterbatasan.
Di sini, kita bisa balik pertanyaan. bukan hanya "Bagaimana kalo Kartini hidup di NTT? tapi "Bagaimana kita baca Kartini dari NTT?
Emansipasi tir boleh dipahami sebagai konsep tunggal yang datang dari satu tokoh, tetapi sebagai proses yang hidup, beragam, dan kontekstual. Ada banyak perempuan seperti Kartini yang ada di NTT, tapi sentralitas Jawa mengaburkan semua itu.
Kartini memang ajarkan kita untuk berpikir kritis terhadap ketidakadilan. Tapi perempuan NTT hari ini mengajarkan bahwa perjuangan itu tidak selalu berbentuk perlawanan terbuka. Ia bisa hadir dalam kerja sehari-hari, dalam ketahanan menghadapi kondisi sulit, dan dalam upaya kecil
Pada akhirnya, ini bukan tentang Kartini saja, tapi cermin untuk bertanya apakah semangat emansipasi benar-benar hidup, atau hanya kita simpan sebagai simbol yang dirayakan deng kebaya lalu story di medsos tanpa paham apa yang itu emanisipasi
Mikir yuksssss
Diskusi
0 komentar aktif dari pembaca dan kontributor komunitas.
Ikut berdiskusi
Tambahkan komentar, balas thread, atau kelola komentar Anda sendiri.
Anda perlu login untuk mengirim komentar, membalas, atau mengelola komentar sendiri.
Belum ada diskusi.
Jadilah orang pertama yang memulai percakapan untuk berita ini.
Bacaan Terkait
Berita lain yang layak dibaca setelah ini
Atas Nama Timor
Polemik gelar “Sesepuh Raja Timor” bukan sekadar penghormatan adat, tetapi menyangkut legitimasi, representasi, dan siapa yang berhak berbicara atas nama Timor.
Mentalitas Budak dan Perbudakan di Sumba
Tulisan ini merupakan refleksi atas pemberitaan media Prancis yang menyoroti praktik perbudakan di Sumba. Berangkat dari kegelisahan terhadap sikap sebagian masyarakat yang cenderung menganggap persoalan tersebut sebagai sesuatu yang lumrah, tulisan ini mengulas perbudakan sebagai warisan sejarah yang seharusnya telah ditinggalkan. Dengan merujuk pada Max Havelaar karya Multatuli, tulisan ini menganalisis bagaimana sistem penindasan dapat melahirkan "mentalitas budak", yakni kesadaran yang menerima ketidakadilan sebagai kewajaran. Selain mengkritik pembiaran sosial dan penggunaan budaya sebagai legitimasi perbudakan, tulisan ini juga mendorong pemerintah untuk memperkuat komitmen penghapusan perbudakan melalui kebijakan yang lebih konkret.
Pajak Global Mengubah Peta Persaingan Investasi Indonesia.
Global Minimum Tax menandai berakhirnya era "race to the bottom" dalam pajak. Bagi Indonesia, ini ujian sekaligus peluang. Tantangannya adalah memastikan reformasi pajak berjalan beriringan dengan pembangunan iklim investasi yang sehat, adil, dan berkelanjutan!.
ASN Pemda Jelata Bicara: "Cerminnya Masih Ada, Pak?"
Opini ini menanggapi stereotip tentang 'ASN malas' dengan ketimpangan realistas ASN daerah yang bermodalkan kantong pribadi.
Mikro, Ndasmu
Sebuah isi pikiran, yang sebaiknya tidak dikeluarkan.
Putar Kopi dan Menikah
Kodrat perempuan itu hanya 4 yaitu, menstruasi(haid), mengandung, melahirkan, dan menyusui. selain dari pada ini dalam pernikahan ada istilahnya kerja bakti
Agnez Monica Harus Belajar Manajemen Waktu dari Arni Wolla
Kalau kalian adalah orang Sumba dan mengikuti perseteruan Arni Wolla dengan seorang pemilik studio yang juga orang Sumba yang menetap di Bali dan telah malang melintang di dunia permusikan tentang lagu pertama Arni Wolla, kalian pasti tidak percaya bahwa seorang Arni Wolla bahkan keluar sebagai seorang jenius.
Nasib Kerja Keras di Negeri Oligarki
Tulisan ini mengkritik narasi kerja keras dan janji pertumbuhan inklusif sebagai harapan palsu di tengah ketimpangan ekonomi yang ekstrem. Data menunjukkan dominasi oligarki dalam sektor ekstraksi yang melanggengkan pengerukan kekayaan, sementara generasi muda dari kalangan biasa menghadapi keterbatasan akses ekonomi akibat sistem yang elitis.
Lindungi anak perempuan atau Didik Anak Laki-laki?
refleksi urgensi protect your daughter, educate your son