Edisi Rabu, 19 Agustus 2026

Beranda
Gempa Flores dan Ironi "Bon di Kios"
Gambar: wikipedia.org/isbcenter.com/news.detik.com
Konten opini
Tulisan ini memuat sudut pandang penulis. Redaksi meninjau kelayakan tayang, tetapi isi pendapat tetap menjadi tanggung jawab penulis.

Gempa Flores dan Ironi "Bon di Kios"

Gubernur Maluku sumbang satu miliar, Gubernur Sulawesi sumbang lima ratus juta, sementara Gubernur NTT suruh masyarakat bon di kios.

Yohan MataubanaYohan Mataubana 19 Agustus 2026 3 menit baca
27

Runtuhnya rumah warga, bangunan gereja, rumah sakit, hingga sekolah akibat gempa bumi yang mengguncang Pulau Flores pada 15 Agustus 2026 bukanlah sekadar tragedi geologis. Di balik puing-puing infrastruktur fisik, terselip krisis lain yang tak kalah meremukkan yakni lambatnya kehadiran negara dalam memastikan hak dasar para korban, terutama urusan perut dan dahaga.

Di tengah situasi darurat ini, sebuah satire melintas cepat dan memantik perbincangan di linimasa media sosial warga Flobamora: "Gubernur Maluku sumbang satu miliar, Gubernur Sulawesi sumbang lima ratus juta, sementara Gubernur NTT suruh masyarakat bon di kios."

Bagi pembaca sepintas, kalimat itu mungkin memancing tawa getir. Namun, membedah satire ini lebih dalam akan memperlihatkan tentang anomali kepemimpinan dan tumpulnya kepekaan birokrasi kita.

Ungkapan "bon di kios" dalam konteks bencana memiliki implikasi sosiologis yang sangat dalam. Di NTT, kios kecil adalah fondasi ekonomi subsisten di tingkat akar rumput. Ketika kekuasaan yang memegang otoritas anggaran dan logistik terkesan lamban atau absen, lalu muncul persepsi bahwa masyarakat harus menanggung sendiri beban krisisnya dengan berutang di warung tetangga yang notabene juga ikut menjadi korban gempa di situlah nalar publik tercederai.

Hal ini bisa dikatakan sebagai bentuk pelepasan tanggung jawab struktural. Solidaritas dari provinsi tetangga yang mengalirkan dana miliaran rupiah seharusnya memantik rasa malu kolektif pada level elite daerah. Bantuan dari luar menegaskan bahwa empati itu riil, sementara lelucon "bon di kios" adalah sinyal bahaya bahwa ketidakpedulian itu nyata dan sedang dirasakan langsung oleh para pengungsi di tenda-tenda darurat.

Bencana alam memang di luar kendali manusia, tetapi skala penderitaan pasca-bencana adalah murni produk dari kebijakan manusia. Lambatnya distribusi logistik di Flores pasca gempa bukanlah semata-mata karena akses jalan yang terputus, melainkan persoalan manajemen krisis. Ketika birokrasi terjebak pada rantai administrasi yang kaku dan lamban, rakyat yang lapar dan terluka dipaksa menunggu.

Pada titik ini, satire "bon di kios" menemukan wujud aslinya, ia semacam menjadi salah satu cara masyarakat marginal mempertahankan kewarasannya di tengah absennya negara. Ia adalah bentuk perlawanan naratif dari mereka yang suaranya tak terdengar di ruang-ruang rapat darurat birokrasi.

Kini, tugas pemerintah daerah bukanlah sibuk bersikap defensif atau mengklarifikasi sentimen di media sosial, melainkan membuktikan sebaliknya dengan kerja nyata. Aparat birokrasi harus memiliki keberanian memotong kompas administrasi penyaluran Dana Tak Terduga (DTT). Kebutuhan dasar seperti air bersih, makanan, dan tenda yang layak harus terdistribusi hari ini juga.

Solidaritas komunitas, kaum muda, dan warga yang membangun lumbung bantuan mandiri di berbagai daerah memang patut diapresiasi tinggi, tetapi itu sama sekali tidak boleh dijadikan alibi bagi negara untuk lepas tangan.

Gempa Flores 2026 adalah ujian bagi kontrak sosial kita. Jika kepercayaan rakyat terhadap negara ikut runtuh bersamaan dengan ambruknya fasilitas publik karena narasi "bon di kios" dibiarkan menjadi kenyataan pahit, maka kebangkrutan moral kekuasaan benar-benar telah terjadi. Masyarakat Flores butuh logistik dan kepastian, bukan anjuran untuk berutang di atas tanah mereka yang sedang retak.

Diskusi

0 komentar aktif dari pembaca dan kontributor komunitas.

0 komentar

Ikut berdiskusi

Tambahkan komentar, balas thread, atau kelola komentar Anda sendiri.

Anda perlu login untuk mengirim komentar, membalas, atau mengelola komentar sendiri.

Belum ada diskusi.

Jadilah orang pertama yang memulai percakapan untuk berita ini.

Bacaan Terkait

Berita lain yang layak dibaca setelah ini

Atas Nama Timor
#Opini

Atas Nama Timor

Polemik gelar “Sesepuh Raja Timor” bukan sekadar penghormatan adat, tetapi menyangkut legitimasi, representasi, dan siapa yang berhak berbicara atas nama Timor.

10 Agustus 2026 Try Tualaka
Mobil MBG dan Sepeda Motor Ringsek Tertimpa Pohon Tumbang di Sikka, Korban Dipastikan Selamat
#Berita

Mobil MBG dan Sepeda Motor Ringsek Tertimpa Pohon Tumbang di Sikka, Korban Dipastikan Selamat

Sebuah mobil operasional program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan satu unit sepeda motor tertimpa pohon tumbang di wilayah Habiheret, Desa Waiara, Kecamatan Kewapante, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, pada Kamis (30/7/2026) menjelang siang.

30 Juli 2026 Yohan Mataubana
Mentalitas Budak dan Perbudakan di Sumba
#Opini

Mentalitas Budak dan Perbudakan di Sumba

Tulisan ini merupakan refleksi atas pemberitaan media Prancis yang menyoroti praktik perbudakan di Sumba. Berangkat dari kegelisahan terhadap sikap sebagian masyarakat yang cenderung menganggap persoalan tersebut sebagai sesuatu yang lumrah, tulisan ini mengulas perbudakan sebagai warisan sejarah yang seharusnya telah ditinggalkan. Dengan merujuk pada Max Havelaar karya Multatuli, tulisan ini menganalisis bagaimana sistem penindasan dapat melahirkan "mentalitas budak", yakni kesadaran yang menerima ketidakadilan sebagai kewajaran. Selain mengkritik pembiaran sosial dan penggunaan budaya sebagai legitimasi perbudakan, tulisan ini juga mendorong pemerintah untuk memperkuat komitmen penghapusan perbudakan melalui kebijakan yang lebih konkret.

28 Juli 2026 Rifal Umbu Djawa
Sajak Pucuk, Puisi-puisi Yohan Mataubana
#Puisi

Sajak Pucuk, Puisi-puisi Yohan Mataubana

Puisi-puisi Yohan Mataubana. Yohan Mataubana. Lahir di Kupang dan berdomisili di Maumere. Buku terbarunya Tanda Kurban yang Dinamakan Cinta (2024).

27 Juli 2026 Yohan Mataubana
LPSK Dampingi 13 Korban TPPO Asal Jabar Bersaksi di PN Maumere
#Berita

LPSK Dampingi 13 Korban TPPO Asal Jabar Bersaksi di PN Maumere

27 Juli 2026 Yohan Mataubana
Cinta yang Kekal, Sedang Kenangan Biarlah Berlalu
#Kritik Sastra

Cinta yang Kekal, Sedang Kenangan Biarlah Berlalu

Apresiasi Puisi “Hujan Minggu Subuh dan Dingin yang Menjelma Kenangan” dan “Cinta yang Kekal” Karya Selo Lamatapo

26 Juli 2026 Yohan Mataubana
Pajak Global Mengubah Peta Persaingan Investasi Indonesia.
#Opini
#Ekonomi

Pajak Global Mengubah Peta Persaingan Investasi Indonesia.

Global Minimum Tax menandai berakhirnya era "race to the bottom" dalam pajak. Bagi Indonesia, ini ujian sekaligus peluang. Tantangannya adalah memastikan reformasi pajak berjalan beriringan dengan pembangunan iklim investasi yang sehat, adil, dan berkelanjutan!.

22 Juli 2026 Tini Landang
ASN Pemda Jelata Bicara: "Cerminnya Masih Ada, Pak?"
#Opini

ASN Pemda Jelata Bicara: "Cerminnya Masih Ada, Pak?"

Opini ini menanggapi stereotip tentang 'ASN malas' dengan ketimpangan realistas ASN daerah yang bermodalkan kantong pribadi.

21 Juli 2026 Petatas Ungu
Bagaimana kalo Kartini hidup di NTT?
#Opini

Bagaimana kalo Kartini hidup di NTT?

Jika Kartini hidup di NTT? bagaimana isi suratnya pada teman-temannya di Eropa?

2 Juli 2026 Kici Kiciw