Edisi Selasa, 28 Juli 2026

Beranda
Kembali ke Beranda
Sajak Pucuk, Puisi-puisi Yohan Mataubana
Ilustrasi: Kareni/Pixabay.com

Sajak Pucuk, Puisi-puisi Yohan Mataubana

Puisi-puisi Yohan Mataubana. Yohan Mataubana. Lahir di Kupang dan berdomisili di Maumere. Buku terbarunya Tanda Kurban yang Dinamakan Cinta (2024).

Yohan MataubanaYohan Mataubana 27 Juli 2026 3 menit baca
5
Sajak Pucuk, Puisi-puisi Yohan Mataubana

27 Juli 2026

Puisi

Sajak Pucuk, Puisi-puisi Yohan Mataubana

Oleh: Yohan Mataubana

PUNCAK 1


Di sini, senyap adalah bahasa yang paling jernih.  

Bahkan waktu ikut tertahan.  

Jauh di bawah, dunia masih riuh dengan gemanya sendiri,  

sementara langit dan aku bersepakat untuk diam.  


Ayo, Jiwa, beristirahatlah.  

Pegunungan ini bukan tentang ketinggian,  

melainkan tentang kehilangan diri dalam setiap langkah.  

Lepaskan beban; biarkan angin yang menjinjingnya pergi.  

Kau akan merasa lebih ringan.  


Jangan cari Aku di kejauhan.  

Aku ada dalam hening yang kau dengar,  

dalam hangat yang kau rasakan di dada setelah lelah.  

Kita selalu bertemu, bukan sebagai dua, melainkan satu.  


Dan ketika kau sadar, batas antara kita melebur.  

Yang tersisa hanyalah keutuhan tanpa nama.  

Seperti hujan yang kembali ke laut,  

pulang, dalam kesempurnaan yang tunggal.

.


BAGAIMANA BADAI MENEMUKAN NAMANYA


Kita terperangkap dalam senja tembaga—

langit merendah, awan menggelayut bagai selimut usang.

Di padang,  rintik hujan berdetak

seperti arloji yang lupa diputar.

Kita abai pada gemuruh yang menggunung,

hanya saling menyelami—kau dan aku.


Saat langit terbelah,

memamerkan urat-urat halilintar di pelupuk langit,

kita justru merangkai senyum

dalam setiap gelegar yang mengoyak keyakinan.

Laksana dua akar yang bersimpuh

di tanah yang retak.


Badai kelam menyapu permukaan kulit,

merobek napas, menenggelamkan teriak.

Namun di tengah riuh yang memekakkan,

dalam pusaran konflik yang berlarut,

kita tetap merasakan denyut nadi masing-masing—

seperti pelita yang enggan padam.


Kini di ujung senja yang sekarat,

saat fajar merayap dengan luka-lukanya,

di hamparan bekas perjuangan,

kita ulurkan jemari yang lelah

untuk menorehkan kalimat terakhir.


Pada akhirnya, ketika dingin menyergap,

cahaya suram membalut tubuh kita,

kita berpelukan—bukan untuk berpisah,

tapi menjadi satu nisan yang tak terbaca.


Kelak waktu akan mengalir,

meninggalkan kita bersama segala yang mati.

Rangka kita akan menjadi pupuk

bagi tunas-tunas cinta yang lebih tabah,

disirami oleh embun perpisahan kita.


2025

.


IBU: SERATUS TAHUN YANG TAK PUDAR


Debu waktu melekat erat di tulang-tulangmu,

Siang dan malam basahmu

Kini menjadi tempat peristirahatan abadi.

Untukmu, semua tawa membeku,

Hidup bagai kidung yang terpotong di tengah nada.


Sekarang, lihat—inilah waktumu merengkuh senyum,

Sementara kami memikul tangis.

Kau yang menanggung duri zaman

Serta meneguk getir perjuangan,

Karena kami akhirnya paham

Segala yang terampas—


Karya tanganmu yang terenggut,

Senandung yang putus di puncak lagu,

Kata-kata tertahan di kerongkongan,

Salah yang tak sempat ditebus.

Tersenyumlah, justru ketika kami meratap

Untuk pedih yang tak kunjung reda,

Luka yang membara dalam sumsum

Agar kami dapat mengerti.


Ibu dari sorot mata lelah

Di masa yang telah menjadi debu,

Ibu dari rintihan

Di jalan berbatu nestapa,

Ibu dengan langkah tak pernah goyah

Menembus belukar derita,

Ibu berjiwa kuat, berhati lembut—


Setelah badai kehidupan

Menggempur jasadmu

Selama seratus tahun,

Kenangan tentangmu justru kian hidup,

Terdengar oleh mereka yang masih peduli.


Anak-anakmu kini bersimpuh, berbisik lirih:

“Biarkan debu kembali pada debu,

Biarkan waktu mengikis bentuk ini—

Tapi satu hal mustahil mereka lenyapkan:

Di relung paling sunyi,

Kau tetap bernapas dalam kenangan.”


2025

.


PUNCAK 2


Di puncak diam,  

kita adalah dua angin  

yang saling mengembara  

tanpa perlu kata.


Kaki-kaki gunung  

telah menjadi saksi  

bagaimana kabut dan matahari  

bergantian merawat luka.


Di sini, bahkan batu  

punya bahasa sendiri—  

mengajari kita tentang kesabaran  

yang tak berharap balas.


Suara sungai di bawah  

hanyalah gema dari masa lalu  

yang berhasil kita tinggalkan  

di lekuk-lekuk lembah.


Kini, di ketinggian ini,  

kita bukan lagi pendaki  

yang mengejar puncak,  

melainkan bagian dari langit  

yang merengkuh bumi.


Dan ketika kabut turun  

menyelimuti bahu kita,  

kau dan aku  

adalah satu doa  

yang tak perlu diucapkan.


2025

---

Diskusi

1 komentar aktif dari pembaca dan kontributor komunitas.

1 komentar

Ikut berdiskusi

Tambahkan komentar, balas thread, atau kelola komentar Anda sendiri.

Anda perlu login untuk mengirim komentar, membalas, atau mengelola komentar sendiri.

Belum ada diskusi.

Jadilah orang pertama yang memulai percakapan untuk berita ini.

Bacaan Terkait

Berita lain yang layak dibaca setelah ini

Menampilkan 3 bacaan terkait