
Sajak Pucuk, Puisi-puisi Yohan Mataubana
Puisi-puisi Yohan Mataubana. Yohan Mataubana. Lahir di Kupang dan berdomisili di Maumere. Buku terbarunya Tanda Kurban yang Dinamakan Cinta (2024).

27 Juli 2026
Puisi
Sajak Pucuk, Puisi-puisi Yohan Mataubana
PUNCAK 1
Di sini, senyap adalah bahasa yang paling jernih.
Bahkan waktu ikut tertahan.
Jauh di bawah, dunia masih riuh dengan gemanya sendiri,
sementara langit dan aku bersepakat untuk diam.
Ayo, Jiwa, beristirahatlah.
Pegunungan ini bukan tentang ketinggian,
melainkan tentang kehilangan diri dalam setiap langkah.
Lepaskan beban; biarkan angin yang menjinjingnya pergi.
Kau akan merasa lebih ringan.
Jangan cari Aku di kejauhan.
Aku ada dalam hening yang kau dengar,
dalam hangat yang kau rasakan di dada setelah lelah.
Kita selalu bertemu, bukan sebagai dua, melainkan satu.
Dan ketika kau sadar, batas antara kita melebur.
Yang tersisa hanyalah keutuhan tanpa nama.
Seperti hujan yang kembali ke laut,
pulang, dalam kesempurnaan yang tunggal.
.
BAGAIMANA BADAI MENEMUKAN NAMANYA
Kita terperangkap dalam senja tembaga—
langit merendah, awan menggelayut bagai selimut usang.
Di padang, rintik hujan berdetak
seperti arloji yang lupa diputar.
Kita abai pada gemuruh yang menggunung,
hanya saling menyelami—kau dan aku.
Saat langit terbelah,
memamerkan urat-urat halilintar di pelupuk langit,
kita justru merangkai senyum
dalam setiap gelegar yang mengoyak keyakinan.
Laksana dua akar yang bersimpuh
di tanah yang retak.
Badai kelam menyapu permukaan kulit,
merobek napas, menenggelamkan teriak.
Namun di tengah riuh yang memekakkan,
dalam pusaran konflik yang berlarut,
kita tetap merasakan denyut nadi masing-masing—
seperti pelita yang enggan padam.
Kini di ujung senja yang sekarat,
saat fajar merayap dengan luka-lukanya,
di hamparan bekas perjuangan,
kita ulurkan jemari yang lelah
untuk menorehkan kalimat terakhir.
Pada akhirnya, ketika dingin menyergap,
cahaya suram membalut tubuh kita,
kita berpelukan—bukan untuk berpisah,
tapi menjadi satu nisan yang tak terbaca.
Kelak waktu akan mengalir,
meninggalkan kita bersama segala yang mati.
Rangka kita akan menjadi pupuk
bagi tunas-tunas cinta yang lebih tabah,
disirami oleh embun perpisahan kita.
2025
.
IBU: SERATUS TAHUN YANG TAK PUDAR
Debu waktu melekat erat di tulang-tulangmu,
Siang dan malam basahmu
Kini menjadi tempat peristirahatan abadi.
Untukmu, semua tawa membeku,
Hidup bagai kidung yang terpotong di tengah nada.
Sekarang, lihat—inilah waktumu merengkuh senyum,
Sementara kami memikul tangis.
Kau yang menanggung duri zaman
Serta meneguk getir perjuangan,
Karena kami akhirnya paham
Segala yang terampas—
Karya tanganmu yang terenggut,
Senandung yang putus di puncak lagu,
Kata-kata tertahan di kerongkongan,
Salah yang tak sempat ditebus.
Tersenyumlah, justru ketika kami meratap
Untuk pedih yang tak kunjung reda,
Luka yang membara dalam sumsum
Agar kami dapat mengerti.
Ibu dari sorot mata lelah
Di masa yang telah menjadi debu,
Ibu dari rintihan
Di jalan berbatu nestapa,
Ibu dengan langkah tak pernah goyah
Menembus belukar derita,
Ibu berjiwa kuat, berhati lembut—
Setelah badai kehidupan
Menggempur jasadmu
Selama seratus tahun,
Kenangan tentangmu justru kian hidup,
Terdengar oleh mereka yang masih peduli.
Anak-anakmu kini bersimpuh, berbisik lirih:
“Biarkan debu kembali pada debu,
Biarkan waktu mengikis bentuk ini—
Tapi satu hal mustahil mereka lenyapkan:
Di relung paling sunyi,
Kau tetap bernapas dalam kenangan.”
2025
.
PUNCAK 2
Di puncak diam,
kita adalah dua angin
yang saling mengembara
tanpa perlu kata.
Kaki-kaki gunung
telah menjadi saksi
bagaimana kabut dan matahari
bergantian merawat luka.
Di sini, bahkan batu
punya bahasa sendiri—
mengajari kita tentang kesabaran
yang tak berharap balas.
Suara sungai di bawah
hanyalah gema dari masa lalu
yang berhasil kita tinggalkan
di lekuk-lekuk lembah.
Kini, di ketinggian ini,
kita bukan lagi pendaki
yang mengejar puncak,
melainkan bagian dari langit
yang merengkuh bumi.
Dan ketika kabut turun
menyelimuti bahu kita,
kau dan aku
adalah satu doa
yang tak perlu diucapkan.
2025
---
Diskusi
1 komentar aktif dari pembaca dan kontributor komunitas.
Ikut berdiskusi
Tambahkan komentar, balas thread, atau kelola komentar Anda sendiri.
Anda perlu login untuk mengirim komentar, membalas, atau mengelola komentar sendiri.
Belum ada diskusi.
Jadilah orang pertama yang memulai percakapan untuk berita ini.
Bacaan Terkait
Berita lain yang layak dibaca setelah ini
LPSK Dampingi 13 Korban TPPO Asal Jabar Bersaksi di PN Maumere
Cinta yang Kekal, Sedang Kenangan Biarlah Berlalu
Apresiasi Puisi “Hujan Minggu Subuh dan Dingin yang Menjelma Kenangan” dan “Cinta yang Kekal” Karya Selo Lamatapo
Di Sela-sela Pipisku
Puisi ini ditulis mewakili suara perempuan di kampung yang tak ada air bersih.
Menampilkan 3 bacaan terkait