
Cinta yang Kekal, Sedang Kenangan Biarlah Berlalu
Apresiasi Puisi “Hujan Minggu Subuh dan Dingin yang Menjelma Kenangan” dan “Cinta yang Kekal” Karya Selo Lamatapo
Aan Mansyur pernah bilang, “masa lalu tidak pernah hilang dalam ingatan manusia, kita menyebutnya sebagai kenangan." Masa lalu adalah kenangan yang tak akan hilang. Meski sekecil apapun kenangannya, ia tetap ada sebagai masa lalu seseorang.
Di suatu kesempatan, saya bertemu dengan seorang penulis, Selo lamatapo, putra kelahiran Kolontobo, Ile Ape Lembata, 31 Juli 1992. Penulis yang hemat saya sangat kreatif dan sudah dikenal banyak orang. Pada 15 September 2019, tulisannya yang berjudul “Penggali Sumur yang Ingin Pensiun” sempat tayang di media Indonesia. Saya satu dari sekian pembaca yang menyukai tulisan-tulisannya. Selain karena sudah dikenal banyak orang, ia pun tampak inspiratif dalam menulis. Saya sempatkan waktu untuk membaca tulisan-tulisannya di Aletheia blogspot.
Ada dua puisi yang menarik bagi saya untuk diulas dan diapresiasi. Pertama: “Hujan Minggu Subuh dan Dingin yang Menjelma Kenangan”. Puisi yang hemat saya memantik kita untuk melihat-lihat dialog rindu yang menjelma kenangan itu seperti apa. Tokoh Si “lelaki” dan Si “Maria” di dalamnya menjadikan puisi ini sebagai suatu bentuk gambaran di mana relasi cinta menjadi kenangan. Aan Mansyur (yang di kenal sebagai penulis puisi romantisme) juga membahasakan persoalan tentang dialog cinta. Puisinya yang berjudul “Ketika Ada yang Bertanya tentang Cinta” menjadi suatu permenungan yang besar kepada siapa saja yang bertanya tentang cinta.
“Ketika ada yang bertanya tentang cinta/ apakah sungguh yang dibutuhkan adalah kemewahan kata-kata/ atau cukup ketidaksempurnaan kita?”. Mangkinkah Selo dan Mansyur sedang bergelut dengan cinta?(kita tidak tahu) yang pasti bahwa menulis adalah bagian dari pergulatan penyair terhadap hidupnya. kadang kala tulisan penulis adalah peristiwa yang sudah menjadi kenangan dan diingatnya lalu di torehkan ke dalam bentuk tulisan, seperti yang saya temukan dalam puisi-puisi Selo. Di sini Selo mencoba membuktikan bahwa adakalanya kenangan itu datang mengenang secara tiba-tiba, dan bagaimana mengatasinya.
Selo Membaca Kenangan: “Kaukah itu Maria?”
Di Minggu subuh (waktu selesai mimpi barangkali), Selo menulis kenangan bagai hujan yang jatuh seperti rindu. Ia menulis tentang seseorang yang tiba-tiba saja didatangkan dari embun yang dilihat lelaki itu dari kaca jendela. "Kaukah itu, Maria?" Pertanyaan yang mengandaikan bahwa lelaki itu sedang terhanyut oleh hujan yang datang sebagai rindu dan dingin yang menjelma kenangan.
Sayangnya, rindu sedang berpihak pada kesepian. Tetapi justru di balik kesepian itu, pertanyaan "Kaukah itu, Maria?" menjadi titik permenungan puisi ini. Semacam dialog batin. Pernahkah kalian ditinggalkan luka oleh seseorang yang kalian cintai? Seperti itulah rasa di dalam gambaran puisi ini.
Selebihnya, puisi ini mengajarkan kita untuk jatuh pada khayalan yang entah mau kita jawab seperti apa. Yang utama adalah penulis sedang memberi gambaran akan situasi dan juga dialog batin yang mengharuskan dia menjumpai ilusi antar-embun yang menjelma air mata seorang perempuan bernama Maria (bisa jadi Maria adalah cewek yang disayangi oleh lelaki itu menurut gambaran penulis, tetapi bisa juga Selo itu adalah si "lelaki". Siapa tahu? Hanya penulis yang menyimpan rahasia itu).
Seperti yang dikatakan Aan Mansyur, "Masa lalu tidak pernah hilang dalam ingatan manusia, kita menyebutnya sebagai kenangan." Dan bisa dikatakan ini gambaran situasi luka.
Hujan Minggu Subuh
dan Dingin yang Menjelma Kenangan
.
minggu subuh
hujan jatuh seperti rindu
berderai-derai
dan dingin menjelma kenangan
.
di tepi kasur
lelaki murung duduk dengkul
bagai menerapkan tubuh kekasih
.
di kaca jendela
embun basah menjelma wajah sedih
seorang perempuan
yang menolak dipeluk
.
“kaukah itu, Maria?”
tak ada sahutan
hanya derai hujan
.
(mei,2020)
Kenangan Dibaca sebagai Cinta yang Kekal
Puisi Kedua: Cinta yang Kekal. Puisi ini mempunyai korelasi erat dengan puisi pertama. Menurut saya, ini lanjutan dari isi puisi di atas tentang si lelaki membaca kenangan ketika pertanyaannya hanya derai hujan. Setelah lelaki itu bertanya dan hanya derai hujan, maka ia kembali memilih untuk melupakan kenangan, sebab terlampau ada luka yang mengganjali pikirannya. Berarti dengan jelas puisi ini berbicara mengenai seorang lelaki yang sedang bergumul dengan luka batin. Yang pasti bahwa satu-satunya orang yang membuat lelaki itu terpesona akan ilusi, ialah Maria. Di sini kita bisa mengambil inti bahwa ketika luka masih saja ada dalam ingatan, sebaiknya lekas harus mengambil sikap kesadaran baru dengan cara berani melupakan, meski sesuatu yang bersifat luka apalagi karena cinta itu sulit dan tidak mudah dilepas (butuh waktu bertahun-tahun lamanya untuk bisa melupakan).
Cinta yang kekal
tanpa sesal,
kau memilih lupa
sebab terlampau banyak luka
kau pikul
.
kepala yang kerap mengenang
kini dingin dan kosong
.
kenangan hilang
seperti kabut ditelan terang
.
tapi cinta tinggal kekal
(Mei,2020).
Bagi saya, Selo telah menempatkan diri sebagai penulis yang pandai merawat kenangan. Ia membangkitkan imajinasi dan membawa pembaca bergumul sampai pada titik mengenang dan berani meninggalkan(introspeksi diri) kenangan jika itu luka yang parah. Di sini genaplah apa yang difirmankan Joko Pinurbo, “cinta seperti penyair berdarah dingin yang pandai menorehkan luka. Rindu seperti sajak sajak sederhana yang tak ada matinya”(JOKPIN). Cinta dan rindu dalam puisi Selo sangat kuat memegang pesan Jokpin.
Selo ingin menggambarkan kepada kita bahwa relasi cinta yang terjadi kadang bisa menimbulkan luka, apalagi jika ditinggal kekasih tanpa kabar, di saat masih ada sayang-sayangnya. Kenangan selalu ada dalam diri, dan bisa tumbuh kapan saja, yang terpenting adalah ketika kenangan mendatangkan dirimu, lekas sebaik-baiknya mengambil tindakkan penyadaran diri. Mungkin apa yang dikatakan Joko Damono itu benar, “yang fana adalah waktu dan kita abadi." Dan dalam puisi Selo, kita belajar untuk lekas yang abadi adalah cinta, sementara rindu (kenangan) biarlah berlalu.
Diskusi
1 komentar aktif dari pembaca dan penulis komunitas.
Ikut berdiskusi
Tambahkan komentar, balas thread, atau kelola komentar Anda sendiri.
Anda perlu login untuk mengirim komentar, membalas, atau mengelola komentar sendiri.
Belum ada diskusi.
Jadilah orang pertama yang memulai percakapan untuk berita ini.
Bacaan Terkait
Berita lain yang layak dibaca setelah ini
Menelaah Pergerakan Perempuan dalam Buku Kapten Hanya Ingin ke Dili
Saya melihat cerminan masyarakat lokal dalam buku Kapten Hanya Ingin ke Dili yang memuat kisah tentang perempuan yang diambil dari latar belakang pulau Timor.
Gempa Flores dan Ironi "Bon di Kios"
Gubernur Maluku sumbang satu miliar, Gubernur Sulawesi sumbang lima ratus juta, sementara Gubernur NTT suruh masyarakat bon di kios.
Mobil MBG dan Sepeda Motor Ringsek Tertimpa Pohon Tumbang di Sikka, Korban Dipastikan Selamat
Sebuah mobil operasional program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan satu unit sepeda motor tertimpa pohon tumbang di wilayah Habiheret, Desa Waiara, Kecamatan Kewapante, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, pada Kamis (30/7/2026) menjelang siang.
Sajak Pucuk, Puisi-puisi Yohan Mataubana
Puisi-puisi Yohan Mataubana. Yohan Mataubana. Lahir di Kupang dan berdomisili di Maumere. Buku terbarunya Tanda Kurban yang Dinamakan Cinta (2024).
LPSK Dampingi 13 Korban TPPO Asal Jabar Bersaksi di PN Maumere
Menampilkan 5 bacaan terkait