
Menelaah Pergerakan Perempuan dalam Buku Kapten Hanya Ingin ke Dili
Saya melihat cerminan masyarakat lokal dalam buku Kapten Hanya Ingin ke Dili yang memuat kisah tentang perempuan yang diambil dari latar belakang pulau Timor.
Karya sastra adalah cerminan kehidupan masyarakat. Ketika membaca karya sastra seperti novel, cerpen dan puisi. Pembaca akan menemukan makna tersendiri tentang dirinya. Saya melihat cerminan masyarakat lokal dalam buku Kapten Hanya Ingin ke Dili. Buku ini berisi sebelas cerita pendek yang memuat kisah-kisah tentang perempuan yang diambil dari latar belakang pulau Timor.
Sebagai seorang putra lokal dari Timor, saya tertarik untuk mengupas buku Kapten Hanya Ingin ke Dili yang ditulis oleh Felix K. Nesi, buku ini berupaya memperlihatkan jiwa perempuan serentak mengajak pembaca merefleksikan tokoh perempuan di hari Perempuan Internasional.
Kisah Kapten Hanya Ingin Ke Dili adalah satu dari beberapa cerita berlatar sejarah invasi Jepang ke Timor yang kemudian dicatat oleh Felix tentang masa itu terdapat fakta pembunuhan yang mengakibatkan 151 tentara Australia, 300-an tentara Belanda, 75 tentara Portugal, 4.000 tentara Jepang dan setidaknya 100.000 penduduk sipil Timor meninggal. Ain Iba, Suaminya dan pengikut-pengikutnya adalah orang-orang sipil di Timor yang pernah ditangkap oleh Jepang tahun 1943.
Dalam sejarah itu, gaya heroik dalam tokoh-tokoh perempuan pada zaman kolonialis di Timor menjadi satu isu penting. Digambarkan dalam cerita, terdapat seorang perempuan bernama Ain Iba seorang perempuan yang berani membunuh pasukan dari Tasmania Batalion 2/40 Pasukan Australia serta serdadu Inggris yang merencanakan perjalanan mereka ke Dili (hal. 111).
Ain Iba melakukan pembunuhan sebagai respons atas tindakan orang asing yang dengan acuh tak acuh membuang sumber daya alam milik Ain Iba beserta keluarganya. Pembunuhan ini menjadi satu-satunya usaha perempuan memberantas bahkan menghapus ketidakadilan yang diakibatkan oleh kedatangan orang-orang asing.
Berkaitan dengan pembunuhan, dalam cerpen berjudul Mene saya menemukan gambaran kesatria seorang tokoh perempuan bernama Mene. Kisahnya melibatkan Tuan Belanda yang sangat otoriter menyusahkan Mene. Ia memaksa Mene untuk mengambil persediaan makanan dan minum lokal seperti sopi (minuman keras khas Timor) dan makanan lainnya di lumbung makanan yang disebut Lopo.
Tidak hanya sikap otoriter tuan Belanda, hasrat seksual sang tuan digambarkan seperti kuda liar sehingga memandang mene sebagai objek seksual paling nikmat baginya. Peristiwa ini menghantar kita untuk melihat penderitaan perempuan dan perjuangan perempuan dalam melawan ketidakadilan.
Melalui tokoh Mene, kita dapat melihat sikap keberanian Perempuan. Meski tuan Belanda merayunya, ia bersikeras melawan untuk mempertahankan harga dirinya. Hanya dengan satu pukulan tangga kayu, ia mampu membunuh Tuan Belanda. Berkat peristiwa ini, perempuan Timor bernama Mene ini kemudian dikenal sebagai "orang sakti" dan "tukang sihir" yang akan menjadi pemimpin perang.
Selain membaca kisah heroik dari tokoh perempuan, pembaca juga akan dihantar lebih ke dalam tentang patologi sosial yang terjadi dalam masyarakat. Felix dan kumpulan ceritanya menyingkap kenyataan perempuan di hadapan kaum Adam. Sebuah cerita tentang Evi yang dilecehkan oleh seorang sopir oto bernama Danker.
Dua hari yang lalu, ia mencolek pantat Evi. Evi marah bukan main: ‘Anjing, Kau!’, Evi membentak begitu. Tetapi ia bilang: ‘Pantatmu bagus, lalu kenapa? Apakah kau mau melapor saudaramu yang banci itu? (Hal. 34)
Dalam beberapa kisah di buku ini, pembaca akan diajak bermigrasi dari persoalan “pantat” menuju persoalan “penis”. Dalam cerita Mayat-Mayat yang Hilang, tokoh Neno memerkosa batang pisang sebagai ganti perempuan. Felix Nesi menangkap realitas masyarakat tentang praktik sunat yang mengharuskan laki-laki untuk menyetubuhi perempuan. Namun Felix dengan idenya berusaha menelanjangi birahi kaum Adam (hal. 54).
Menengok lebih ke dalam tentang “penis”, di beberapa cerita seperti "Iblis Padang Sabana" (hal. 57-62) juga menampilkan situasi tragis di mana perempuan menjadi korban kekerasan seksual dan kebrutalan. Yeni Lakhau siswa SMP, Bidan Desa dan Ain Mene di perkosa dan dibunuh oleh seorang pemuda di semak-semak dekat waduk Aostee.
Felix dalam buku ini sebetulnya mempertegas situasi perempuan dalam penindasan serta menuntun perempuan untuk mawas diri terhadap hasrat seksual laki-laki yang dapat menguasai dan menghancurkan perempuan.
Setelah berkelana dari “pantat” menuju “penis”, pembaca akan kembali digiring ke dalam cerita menarik tentang selangkangan si Janda. Dalam kisah tentang Di Tuda Ni Kekuh (hal. 14-21) pembaca akan melihat perdebatan Ni Kekuh dan Sang Pastor. Si Pastor mencari si Janda Duru Nah dengan motif untuk membaptis si Janda, namun rupanya maksud dibalik itu adalah Si Pastor mencari Janda Duru Nah karena sudah menyetubuhi perempuan itu dan sedang mengandung anak dari Sang Pastor itu. Sementara Ni Kekuh menyembunyikan Janda Duru Nah demi keamanan.
Lain halnya dalam kisah Tanta Lalus. Dalam cerpen yang berjudul Tanta Lalus (hal.65-72), pembaca akan menemukan kekuatan cinta seorang perempuan. Meski Tanta Lalus dan Siub Suli telah menikah. Dibalik pernikahan itu rupanya Siub Suli tidak mencintai Tanta Lalus, ia lebih mencintai perempuan lain, sementara Tanta Lalus sangat tulus mencintai Siub Suli, bahkan sampai suaminya sakit patah tulang pun, Tanta Lalus berupaya dengan segala cara agar suaminya sembuh.
Dalam buku ini, pembaca akan menemukan ketampanan Felix Nesi memotret perempuan dalam berbagai spektrum kemerdekaan, dari yang terbelenggu oleh persoalan kemanusiaan sampai yang bersinar dalam kebebasan. Felix dalam cerita-ceritanya seperti membuka jendela yang penuh cahaya pada perjuangan perempuan yakni konteks sosial, sejarah, dan sastra.
Ketika membaca buku ini tentu saja pembaca diingatkan tentang perubahan, kesetaraan, dan pembebasan dari belenggu yang masih mengikat. Selain itu dalam buku ini tokoh-tokoh perempuan memancarkan inspirasi bahwa kedamaian dapat dicapai, baik dalam perlawanan fisik maupun dalam pembebasan jiwa.
Perjalanan membaca halaman-halaman cerita Felix Nesi membuat pikiran pembaca akan banyak mengenang dan merenungkan kembali kata-kata bijak Emy Suy: Perempuan harus bisa menjahit, setidaknya menjahit lukanya sendiri. Namun, dalam setiap luka yang dijahit, juga terbentang ruang untuk penyembuhan dan kebangkitan. Bagaimanapun keadaannya, perempuan tetaplah pilar kekuatan dan harapan dalam masyarakat. Dalam dunia sastra, Felix Nesi menghidupkan perempuan dalam bentangan cerita yang menjadi cermin sosial yang mendalam. Dari kecerdasan Ain Iba, ketegaran Mene, hingga kebijaksanaan Ibu, mereka memberi suara pada keberanian, rasa ingin tahu, dan tekad yang tak tergoyahkan.
Mengikuti jejak Felix Nesi, tentu saja akan mengilhami setiap kita untuk “merantau” ke dalam ruang-ruang keberanian demi menggali dan menerangi peran perempuan dalam perjalanan panjang menuju kemerdekaan sejati, baik dalam konteks sastra maupun realitas sosial kita. Selamat memaknai peringatan hari Perempuan Internasional.
Judul : Kapten Hanya Ingin ke Dili
Penulis : Felix K. Nesi
Tahun terbit : Januari 2023
Halaman buku: 113 halaman
Penerbit : Marjin kiri
ISBN : 978-602-0788-39-5
.
Biodata Penulis
Yohan Mataubana. Lahir di Kupang dua puluh lima tahun yang lalu. Mencintai Timor dan kini sedang menanti buku puisinya terbit “Tanda yang Dinamakan Cinta” (2024). Penulis dapat dihubungi melalui WA: 081238358085.
Diskusi
0 komentar aktif dari pembaca dan kontributor komunitas.
Ikut berdiskusi
Tambahkan komentar, balas thread, atau kelola komentar Anda sendiri.
Anda perlu login untuk mengirim komentar, membalas, atau mengelola komentar sendiri.
Belum ada diskusi.
Jadilah orang pertama yang memulai percakapan untuk berita ini.
Bacaan Terkait
Berita lain yang layak dibaca setelah ini
Gempa Flores dan Ironi "Bon di Kios"
Gubernur Maluku sumbang satu miliar, Gubernur Sulawesi sumbang lima ratus juta, sementara Gubernur NTT suruh masyarakat bon di kios.
Mobil MBG dan Sepeda Motor Ringsek Tertimpa Pohon Tumbang di Sikka, Korban Dipastikan Selamat
Sebuah mobil operasional program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan satu unit sepeda motor tertimpa pohon tumbang di wilayah Habiheret, Desa Waiara, Kecamatan Kewapante, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, pada Kamis (30/7/2026) menjelang siang.
Sajak Pucuk, Puisi-puisi Yohan Mataubana
Puisi-puisi Yohan Mataubana. Yohan Mataubana. Lahir di Kupang dan berdomisili di Maumere. Buku terbarunya Tanda Kurban yang Dinamakan Cinta (2024).
LPSK Dampingi 13 Korban TPPO Asal Jabar Bersaksi di PN Maumere
Cinta yang Kekal, Sedang Kenangan Biarlah Berlalu
Apresiasi Puisi “Hujan Minggu Subuh dan Dingin yang Menjelma Kenangan” dan “Cinta yang Kekal” Karya Selo Lamatapo
Menampilkan 5 bacaan terkait