
Di Sela-sela Pipisku
Puisi ini ditulis mewakili suara perempuan di kampung yang tak ada air bersih.
Sesuatu yang basah membangunkanku dari tidur;
Rupanya kelaminku hampir mencair.
Ini yang ke-17 kali di malam ini.
Apa aku kencing manis lagi?
.
Aku melangkah ke kakus dengan terseok-seok
Menyeret pinggang linuku yang barangkali akan patah.
Urat-urat di dekat kelaminku berdenyut,
Seperti lampu ti'oek yang ditiup angin; sebentar menyala sebentar mau padam.
.
Tes.
Sialan! Hanya satu tetes.
Kumaki selangkanganku yang terasa longgar berjam-jam namun tak mengeluarkan apa-apa.
Dasar tidak berguna!
.
Tumitku keram.
Lubang pantatku pedih, perutku kembung oleh bau tinja kering dari lobang kakus.
Kencing manis bangsat! Aku dipermainkan berkali-kali.
.
Sudah 7 menit, aku masih jongkok di kloset.
Pinggangku makin manoso, bibir kelaminku lebih lagi.
Aha, aku tahu.
Kencing manis ini disebabkan oleh air di kampungku yang berkapur.
.
Minggu lalu dokter menyarankanku untuk minum aqua saja.
Kupikir dia gila! Mending uangnya kupakai beli benang untuk tambal kutang dan cd-ku yang sobek,
ketimbang membeli air plastik.
.
Atau begini saja.
Mengapa puskesmas tidak menyediakan aqua gratis?
Misalkan mereka bekerja sama dengan dinas kesehatan, atau lobi ke bupati dan para dewan perwakilan rakyat?
.
Tapi tunggu!
Siapa yang peduli dengan kencing manisku; kencing manis kami?
Aku dan perempuan lainnya sudah kencing manis sejak kecil.
Siapa yang punya waktu luang untuk memikirkan kelamin kami, siapa yang mau tahu bagaimana kondisi rahim kami?
.
Aku menyeka keringat di pelipisku,
memandang sarang laba-laba raksasa di atap kakus.
Kupicingkan mata kabeakku,
mencari-cari jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan yang muncul di sela-sela pipisku ini.
.
Tes.
Satu tetes lagi setelah 15 menit.
Kurasa sebentar lagi tali perutku akan keluar jika aku terus-terusan mengedan.
maka bertambahlah penyakit pada kelaminku; kencing manis dan ambein.
.
05.11.2022
Diskusi
1 komentar aktif dari pembaca dan kontributor komunitas.
Ikut berdiskusi
Tambahkan komentar, balas thread, atau kelola komentar Anda sendiri.
Anda perlu login untuk mengirim komentar, membalas, atau mengelola komentar sendiri.
Belum ada diskusi.
Jadilah orang pertama yang memulai percakapan untuk berita ini.
Bacaan Terkait
Berita lain yang layak dibaca setelah ini
Sajak Pucuk, Puisi-puisi Yohan Mataubana
Puisi-puisi Yohan Mataubana. Yohan Mataubana. Lahir di Kupang dan berdomisili di Maumere. Buku terbarunya Tanda Kurban yang Dinamakan Cinta (2024).
Ekspektasi Kosong dalam Review Drakor ‘Teach You A Lesson’ oleh Yons Hunga
Membaca cara Yons Hunga memberi judul pada sebuah tulisannya tentang drakor Teach You A Lesson, sungguh menggugah adrenalin saya untuk segera memburu apa saja yang dia kemas secara matang itu. Namun apakah isinya menjawab judul yang ada? Ataukah hanya memuat ‘kecerewetan’ Yons semata tanpa menjawab pertanyaannya sendiri tentang “apakah kekerasan terhadap remaja/pelajar dapat dibenarkan?”
Menampilkan 2 bacaan terkait