Edisi Sabtu, 15 Agustus 2026

Beranda
Ekspektasi Kosong dalam Review Drakor ‘Teach You A Lesson’ oleh Yons Hunga
Ilustrasi: Netflix

Ekspektasi Kosong dalam Review Drakor ‘Teach You A Lesson’ oleh Yons Hunga

Membaca cara Yons Hunga memberi judul pada sebuah tulisannya tentang drakor Teach You A Lesson, sungguh menggugah adrenalin saya untuk segera memburu apa saja yang dia kemas secara matang itu. Namun apakah isinya menjawab judul yang ada? Ataukah hanya memuat ‘kecerewetan’ Yons semata tanpa menjawab pertanyaannya sendiri tentang “apakah kekerasan terhadap remaja/pelajar dapat dibenarkan?”

Buah NenasBuah Nenas 1 Juli 2026 3 menit baca
83

Saya akan memulai tulisan ini dengan mengulang pertanyaan dengan tanda tanya besar yang ditulis oleh Yons Hunga dalam reviewnya terhadap drakor Teach You A Lesson. ‘Apakah kekerasan terhadap remaja/pelajar dapat dibenarkan?’

Sebuah review, biasanya memuat ulasan, hasil analisis, hasil pemikiran, mengenai objek/subjek yang diulas. Namun pada review panjang yang ditulis oleh Yons Hunga, yang linknya dikirimkan kepada saya dengan percaya diri oleh dirinya sendiri, saya justru menemukan beberapa hal yang menggantung dan seenaknya tidak dijawab oleh penulis, dalam hal ini Yons Hunga.

Di bagian judul, Yons menulis ‘hal yang harus dilakukan guru setelah menonton serial teach you a lesson’, namun setelah menghabiskan waktu kurang lebih 7/8 menit untuk membaca isi tulisannya, saya sebagai seorang guru tidak menemukan trik/tips/saran yang begitu jitu, sesuai dengan judul yang ada. Jadi apa yang dijanjikan Yons dalam review tontonannya kali ini? Ekspektasi kosong?

Mendapati beberapa pertanyaan yang menggantung dan isi review yang bikin elus dada karena jengkel ini, maka saya dengan jengkel pula akan berani mengatakan bahwa review drakor yang ditulis Yons kali ini, sedikit mengecewakan. Sebagai orang yang belum menonton drama tersebut, saya berekspektasi untuk menemukan kisah yang rampung dan memuaskan pada review yang ditulis Yons, tetapi yang saya temui malah kenyataan bahwa ia seperti menipu pembaca dengan memberi iming-iming judul yang menjanjikan solusi, resolusi, dan jawaban atas banyak pertanyaan, namun akhirnya malah tidak ada apa-apa selain narasi-narasi dengan diksi tingkat tinggi yang saya sebut di awal sebagai ‘kecerewetan’ saja. Jadi siapa yang mau buang-buang waktu untuk membaca kecerewetan seseorang? Sial sekali saya melakukannya dan waktu saya terbuang.

Meski demikian, menarik ketika Yons menampilkan sebuah cuplikan dari drakor tersebut yang menurut saya lumayan memberi kesan yang kuat dari drama Korea tersebut. “Jika dokter takut pada pasiennya, mereka tak akan bisa disembuhkan. Jika pengacara takut pada clientnya, mereka tak akan bisa dibela. Namun jika guru takut dengan muridnya, mana bisa mengajar dengan benar?” Sekali lagi, cuplikan ini memiliki makna yang kuat sekali, sekaligus menjadi PR besar kepada pembaca, dan menjadi refleksi ‘ngeri’ bagi saya secara pribadi. “Jadi saya harus bagaimana sebagai guru?” “Jadi apakah kekerasan terhadap pelajar/remaja dapat dibenarkan?”. Dan jadi sekali lagi Yons Hunga sangat seenaknya karena memberi judul dan membuat isi tulisan tanpa jawaban yang meninggalkan 2 pertanyaannya, yang membuat saya tidak akan tidur tenang selama beberapa minggu. Ini sungguh tidak tahu diri. Siapa yang tidak tahu diri itu? Siapa lagi jika bukan si reviewer?

Jadi saya akan mengakhiri kupasan saya dengan mengulang pertanyaan dengan tanda tanya besar itu; ‘apakah kekerasan terhadap temaja/pelajar dapat dibenarkan?’ Saya pikir jawabannya adalah tidak. Sebab kata ‘kekerasan’ sendiri telah mengandung konotasi negatif yang akan melahirkan korban secara nyata. Dan menjadikan anak/remaja/pelajar/siapapun sebagai korban? Saya pikir ini tidak dapat dibenarkan. Namun Yons tidak memberikan jawaban ini, ia membiarkan pembaca reviewnya memutuskan sendiri, dan itu tidak dapat dibenarkan, ENAK SAJA!!!

Diskusi

0 komentar aktif dari pembaca dan kontributor komunitas.

0 komentar

Ikut berdiskusi

Tambahkan komentar, balas thread, atau kelola komentar Anda sendiri.

Anda perlu login untuk mengirim komentar, membalas, atau mengelola komentar sendiri.

Belum ada diskusi.

Jadilah orang pertama yang memulai percakapan untuk berita ini.

Bacaan Terkait

Berita lain yang layak dibaca setelah ini

Menampilkan 1 bacaan terkait