Edisi Jumat, 14 Agustus 2026

Beranda
Hal yang Seharusnya Dilakukan oleh Guru di Indonesia setelah Nonton Serial Teach You a Lesson
Ilustrasi: Soompi.com

Hal yang Seharusnya Dilakukan oleh Guru di Indonesia setelah Nonton Serial Teach You a Lesson

Isu kekerasan pada remaja, selalu menghadirkan dilema moral yang mendalam. Dalam serial drama Korea berjudul Teach You a Lesson, kita dihadapkan pada kenyataan pahit mengenai hilangnya wibawa guru dan merajalelanya penindasan di lingkungan sekolah. Saat sistem hukum dan institusi konvensional dianggap terlalu lunak atau mandul dalam melindungi korban, muncul pertanyaan ekstrem, apakah kekerasan dapat dibenarkan untuk mendisiplinkan remaja yang bermasalah?

Yons HungaYons Hunga 30 Juni 2026 8 menit baca
156

"Apakah kekerasan pada anak (remaja) dapat diperbolehkan?"

Itu adalah pertanyaan yang muncul setelah saya menonton beberapa episode pada film Dram Korea berjudul Teach You a Lesson. Ya, saya akhirnya menonton Drama Korea wkwkwkwk

Sesungguhnya, saya tidak begitu tertarik nonton Drama Korea alias Drakor. Dalam benak saya, menonton drama Korea hanya buang-buang waktu, meski beberapa kali mantan kekasih saya yang seorang perawat pernah menyarankan untuk menonton Drama Korea. Baginya, adegan dalam film drama Korea tersebut, dibuat dengan cara yang menawan, karena telah melalui proses riset yang mendalam. Itulah sebabnya, drama Korea, seperti kata mantan saya, tak pernah gagal memuaskan penontonnya.

Waktu saya mencoba mencaritahu informasi awal tentang drama ini sebelum memutuskan menontonnya, saya menemukan bahwa Drama Korea Teach You a Lesson adalah adaptasi webtoon True Education yang mengangkat realitas kelam perundungan sekolah. Saya juga mengiranya demikian. Namun, drama ini tidak sesederhana perundungan semata. Ada sentuhan politik di dalamnya. Bila ditilik lebih jauh, drama ini juga menghadirkan orang tua yang angkuh, bisa juga pihak administrasi sekolah yang berantakan, nepotisme, dan korupsi yang semuanya dicampur aduk menjadi satu.

Fokus cerita terletak pada anjloknya otoritas pendidikan di tengah maraknya kekerasan pelajar. Menteri Pendidikan Korea Selatan, yang, setelah saya nonton film ini, rupanya juga berperan sebagai kandidat kuat calon presiden berdasarkan hasil polling yang ditunjukkan, kemudian membentuk Biro Perlindungan Hak Pendidikan (BPHP) yang berwenang merombak sistem sekolah.

Daya tarik utama yang membuat drama ini begitu mudah dinikmati, adalah karena setiap episode menghadirkan konflik yang beda-beda dan langsung tuntas. Dan, bagi saya yang tidak suka nonton Drama Korea, apalagi sampai 10 episode, butuh 8 hari untuk menuntaskannya dan di hari ke-9, mulai mengingat beberapa hal yang perlu saya tuliskan di sini hehe.

Ada ironi yang disorot di sini, seperti si kaya dan pemegang kuasa bisa dengan enteng mengakali sistem dan mendikte hukum, sementara rakyat kecil tanpa bekingan dipaksa membayar harga paling mahal. Namun, pertanyaan saya tetap sama: Apakah kekerasan pada anak (remaja) dapat diperbolehkan di lingkungan pendidikan?

Isu kekerasan pada remaja, selalu menghadirkan dilema moral yang mendalam. Dalam serial drama Korea berjudul Teach You a Lesson, kita dihadapkan pada kenyataan pahit mengenai hilangnya wibawa guru dan merajalelanya penindasan di lingkungan sekolah. Saat sistem hukum dan institusi konvensional dianggap terlalu lunak atau mandul dalam melindungi korban, muncul pertanyaan ekstrem, apakah kekerasan dapat dibenarkan untuk mendisiplinkan remaja yang bermasalah?

Barangkali, dalam sudut pandang HAM, kekerasan dalam bentuk apapun, fisik maupun emosional, tidak pernah bisa ditoleransi. Membalas kekerasan dengan kekerasan hanya akan melahirkan siklus trauma yang berkepanjangan. Alih-alih memahami letak kesalahan mereka, pendekatan represif dikawatirkan justru menanamkan kebencian, merusak mental, dan membentuk remaja menjadi individu yang lebih agresif di masa depan.

Namun, kegagalan sistem pendidikan dalam memberikan efek jera kepada pelaku perundungan seringkali membuat publik bersimpatik pada tindakan tegas yang tidak konvensional. Dalam serial inilah saya menemukan jawabannya. Apabila diterima dengan baik, akan dibalas dengan baik. Dan, apabila (murid) menggunakan kekerasan, balas dengan kekerasan. Walaupun kekerasan fisik tidak dapat dibenarkan, menonton drama ini membuat saya berpikir bahwa memang dibutuhkan penegakan disiplin yang kuat, tegas dan adil agar para pelaku benar-benar jera.

Kalau cerita dulu, yang diwariskan secara turun-temurun, sih, katanya kalau ada guru yang memukul murid karena ia nakal, maka ketika sampai di rumah, akan dipukuli lagi. Pada beberapa kesempatan, saya menemukan kebenaran cerita itu. Pun demikian ketika saya sudah berkepala dua, yang nyaris kepala tiga ini, menemukan kekerasan pada anak didik, orang-orang tua di beranda media sosial saya mendukung hal itu dengan dalih yang sama, dengan cerita yang sama, dengan nostalgia kekerasan yang diwariskan yang sama.

Ada satu scene di mana Na Hwa-jin yang diperankan oleh Kim Mu-yeol memberikan nasihat pada seorang guru, yang takut pada muridnya.

"Jika dokter takut pasiennya,

mereka tak akan bisa disembuhkan.

Jika pengacara takut kliennya,

mereka tak akan bisa dibela.

Namun, jika guru takut muridnya...

mana bisa mengajar dengan benar?"

~ Na Hwa-jin

Lalu ketika guru, yang, setelah saya pikir-pikir, ini orang mirip dengan aktor sekaligus mantan pegulat profesional WWE, John Cena. Ketika melihat anak murid yang selalu di-bully Jun Hyeong, Na Hwa jin memberi nasihat begini, "sampai kapan kau terus terusan ditindas Gyeong-min?" katanya dengan nada penuh tanya, semata untuk memancing Gyeong-min melawan perundungan yang ia terima selama ini. Percakapan mereka pun berlanjut.

"Jangan asal bicara kalau tak tahu. Kalau aku melawan, memangnya keadaan akan berubah?"

"Siapa yang menyuruhmu melawan? Kabur saja. Orang yang menyuruhmu melawan, pasti tidak pernah dipukuli."

Seenteng itu jawaban atas sebuah kasus perundungan. Kalau kau berada dalam situasi demikian, sebaiknya kabur saja. Kabur di sini barangkali, dimaksudkan untuk lari untuk menghindari perundungan.

Permasalahannya menjadi kompleks ketika si perundung ini adalah anak seorang politisi. Di sinilah letak menariknya film ini. Saat menonton episode pertama, ketika politisi ini menjadi tahanan politisi lainnya, saya membayangkan betapa buruknya politik itu.

"Kau sudah gila? Kita ada di pihak yang sama. Kita ada di partai yang sama. Sialan!" teriak Ryu meluapkan kekesalannya.

Namun, yang membuat saya tertarik adalah, jawaban menteri Choi Gang-seok yang berasal dari partai yang sama ini, "dalam bidang pendidikan, tidak ada pihak-pihak berbeda." Bagi saya, mas menteri Choi yang diperankan oleh aktor veteran Lee Sung-min ini, adalah dambaan kita semua, sebagai orang Indonesia, di mana ia bisa menggunakan kekuasaan dan wewenangnya dengan berani tepat sasaran.

Saat menonton drama ini, saya membayangkan sesuatu yang nyaris mustahil terjadi. Seandainya ada Menteri Pendidikan di Indonesia yang fokus membuat gebrakan nyata seperti ini, yang punya roadmap pendidikan yang jelas, tanpa mengubah-ubah kurikulum, mungkin kondisi pendidikan kita bisa jauh lebih baik. Mungkin tidak ada kasus perundungan di sekolah. Mungkin tidak ada cerita pendidikan kita tertinggal jauh dari negara lain. Mungkin tidak ada drama para menteri yang sibuk serong kiri, serong kanan, hanya agar bisa menjilat kekuasaan dengan baik.

"Untuk membesarkan satu anak butuh satu kampung.

Polisi, kejaksaan, Kemkomdigi, dan Kemhum, semua harus ikut andil."

~ Menteri Choi.

Saya kira, dengan banyaknya permasalahan yang kompleks dalam film ini, sudah cukup membuat saya suka, karena mengaitkan dunia pendidikan dan politik di saat yang bersamaan. Namun, saat tiba di episode 7, saya merasa bahwa Teach You a Lesson benar-benar masuk dalam ruang masyarakat kita, di mana di sini membahas soal ketergantungan judi online.

Salah satu anggota tim Biro Perlindungan Hak Pendidikan (BPHP), Bong Geun-dae, menyamar secara mendalam untuk membantu seorang ayah yang putus asa. Ayah tersebut kehilangan putranya yang melarikan diri akibat kecanduan judi online dan terlilit hutang yang sangat besar.

Di dunia nyata, fenomena ini menjadi darurat sosial yang sangat mengkhawatirkan karena melibatkan jutaan pemain dari berbagai kelompok usia. Episode ini sukses memotret kepanikan orang tua dan guru yang sering kali terlambat menyadari perubahan perilaku anak hingga semuanya berujung fatal.

Khusus episode ini, sesungguhnya saya sangat ingin memberikan sedikit tambahan soal potret buram kehidupan orang-orang yang terjerat kasus judi online. Saya membayangkan orang-orang di sekeliling saya yang begitu hobi bermain judol, di mana bandar judi kerap memanfaatkan celah di ruang digital, yang membuat mereka terjerat hutang. Sayangnya, pada cerita-cerita saya dalam kasus ini, pelaku judi online adalah orang-orang mengerti, yang, ya, secara pendidikan mereka bukanlah sekelompok anak SMA. Secara pikiran, mereka tidak juga sesempit itu. Namun, yang namanya ketagihan, itu tidak bisa dilawan. Kecuali orang itu punya niat melawan.

Hufffffft menulis ini capek juga, ya. Saya mau tutup, tapi izinkanlah saya menyelesaikannya dengan menulis beberapa paragraf lagi.

Ada satu hal yang saya kira, bisa menjadi pembelajaran bersama bagi kita semua, terlebih para people pleaser, ketika saya menonton drama ini pada episode 9. Bahwa sesungguhnya, kebaikan yang tidak memiliki batasan, lebih sering menghasilkan hubungan yang timpang, karena hanya akan membuatmu dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak menghargai batasan pertemanan.

Bayangkan dirimu tidak bisa menolak ketika dimintai tolong oleh temanmu. Dimintai ini, dikasih. Dimintai itu, dikasih. Alhasil, karena kebaikanmu, kau pun dimanfaatkan. Dirugikan. Itulah yang terjadi pada Jang Seong Gu, perankan oleh Lee Woo-je, menjadi korban perundungan oleh teman sekolahnya, Lee Chi Ho (diperankan oleh Kim Jae Seon), dan dipaksa untuk selalu menyalakan hotspot agar pelaku terus terhubung ke internet.

Tahu apa yang terjadi setelah itu? Kebaikan itu dimanfaatkan. Jang Seong Gu tidak hanya menyediakan hotspot gratis, tapi juga meminjamkan akun-akun miliknya di berbagai platform. Akun itu dipakai untuk menjual barang dan memesan barang, bahkan melakukan berbagai transaksi yang membuatnya menanggung segala konsekwensinya ketika tagihan datang di mana pembayarannya tetap dibebankan kepada pemilik akun itu. Padahal, ia sama sekali tidak memesan, menjual ataupun bertransaksi. Di sinilah kebaikan itu menjadi jalan masuk bagi perundungan yang dialaminya.

Pada akhirnya, Teach You a Lesson memang lahir sebagai otokritik terhadap bobroknya sistem pendidikan di Korea Selatan. Namun, juga sukses menyentil masalah struktural di banyak negara, termasuk Indonesia. Tentu saja, kalau para pejabatnya menonton dan turut merasakannya.

Sebagai penutup, saya mengutip satu quote, yang, saya kira dibutuhkan oleh kita semua dari seorang Na Hwa-jin:

"Dengar baik-baik. Setiap orang di negara ini berhak atas pendidikan yang setara. Dan melalui itu, semua berhak untuk bahagia. Itu berarti kita bersekolah untuk bahagia. Namun, jika ada yang menghalangi itu, siapapun itu, harus dapat pelajaran yang sesungguhnya."

Oh iya, judul tulisan ini adalah Hal yang Seharusnya Dilakukan oleh Guru di Indonesia setelah Nonton Teach You a Lesson. Namun, karena saya bukan seorang guru, tidak ada jawaban yang secara gamblang bisa diambil dari tulisan ini. Ya, semoga ada guru yang membaca tulisan ini, dan, melakukan refleksi kritis untuk menciptakan ruang aman di sekolah, membangun komunikasi yang empatik dengan siswa, serta lebih waspada terhadap tanda-tanda intimidasi yang mengancam kesejahteraan mental, baik bagi peserta didik maupun tenaga pendidik itu sendiri.

Diskusi

3 komentar aktif dari pembaca dan kontributor komunitas.

3 komentar

Ikut berdiskusi

Tambahkan komentar, balas thread, atau kelola komentar Anda sendiri.

Anda perlu login untuk mengirim komentar, membalas, atau mengelola komentar sendiri.

Belum ada diskusi.

Jadilah orang pertama yang memulai percakapan untuk berita ini.

Bacaan Terkait

Berita lain yang layak dibaca setelah ini

Menjadi Waras itu Gila
#Catatan

Menjadi Waras itu Gila

Sebuah usaha untuk menjadi waras di negeri yang, ya, terserah kau mau menyebutnya apa.

11 Agustus 2026 Yons Hunga
Sebab Cantik Itu Luka dan Luka-luka yang Lupa
#Resensi Buku

Sebab Cantik Itu Luka dan Luka-luka yang Lupa

Sebuah review atas karya Eka Kurniawan berjudul Cantik itu Luka

10 Agustus 2026 Yons Hunga
Bagaimana Jika Idealismemu Saya Tukar dengan Kemapanan Hidup?
#Refleksi

Bagaimana Jika Idealismemu Saya Tukar dengan Kemapanan Hidup?

Idealisme tidak pernah lahir dari kehidupan yang serba mudah. Ia tumbuh dari benturan, dengan kenyataan, dengan kekuasaan, bahkan dengan perut yang lapar. Sebab, gagasan yang tak pernah diuji oleh kenyataan, hanyalah angan-angan yang kebetulan terdengar indah.

1 Agustus 2026 Yons Hunga
Roberto "Generasi Emas" Martinez
#Olahraga

Roberto "Generasi Emas" Martinez

Sebuah ulasan singkat tentang bagaimana Roberto Martinez mengelola tim nasional bertabur bintang hingga dijuluki generasi emas, mulai dari Timnas Belgia hingga Timnas Portugal.

8 Juli 2026 Yons Hunga
Mikro, Ndasmu
#Opini

Mikro, Ndasmu

Sebuah isi pikiran, yang sebaiknya tidak dikeluarkan.

2 Juli 2026 Yons Hunga
Membaca Ulang Segala Omong Kosong tentang Diri Sendiri
#Catatan

Membaca Ulang Segala Omong Kosong tentang Diri Sendiri

Tulisan ini berisi hasil diagnosa kejiwaan saya, yang, ya, kalau kau tertarik untuk tertawa bersamaku, silahkan dibaca

22 Juni 2026 Yons Hunga
Mahasiswa, Sampah dan Kebijakan Pemerintah
#Opini

Mahasiswa, Sampah dan Kebijakan Pemerintah

Dari 100 ekonomi terbesar di bumi, 51% adalah milik perusahaan. Dan ketika perusahaan membengkak dalam artian finansial, maka kekuatan perusahaan juga ikut membengkak. Akibatnya, terjadi perubahan sikap dari pemerintah yang sebelumnya dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat, beralih pada kepedulian pada perusahaan dengan segala modalnya itu.

15 Juni 2026 Yons Hunga

Menampilkan 7 bacaan terkait