
Membaca Ulang Segala Omong Kosong tentang Diri Sendiri
Tulisan ini berisi hasil diagnosa kejiwaan saya, yang, ya, kalau kau tertarik untuk tertawa bersamaku, silahkan dibaca
Hari ini saya mengambil hasil tes kejiwaan di Rumah Sakit Umum Daerah Umbu Rara Meha, sebuah rumah sakit milik Pemerintah Daerah di kabupaten saya berasal. Bayangan saya, datang pagi = pulang cepat. Setidaknya, itulah yang terlintas di benak saya ketika harus berurusan dengan yang namanya pelayanan publik. Sebab, dalam konteks pelayanan publik, datang lebih awal akan mendapatkan pelayanan lebih awal. Hukumnya memang berlaku demikian. Itulah sebabnya, orang-orang sering menggalakkan yang namanya disiplin, di mana waktu di-manage dengan baik.
Hari ini saya memang datang lebih awal. Tidak diberitahu sebelumnya bahwa datang untuk mengambil hasil serangkaian tes itu di waktu jam buka pelayanan publik. Saya kira, mengambil SKS untuk kejiwaan mengikuti term demikian. Sebagai salah satu "pasien" hari pertama, satu Minggu adalah waktu yang paling cukup, seharusnya, untuk menentukan saya mendapatkan hasil yang telah dijanjikan. Sayangnya, itu tidak berlaku demikian.
"Belum diprint," kata petugas menjelaskan.
"Petugas yang print SKS sedang sakit," katanya lagi berusaha menjelaskan.
Saya tahu, penjelasan tersebut sudah tidak masuk akal lagi bagi saya, sebab, dalam hitungan saya, 1 Minggu adalah waktu yang cukup. Apalagi, masih ada hari kedua, ketiga dan keempat untuk "pasien-pasien" lainnya.
Sesungguhnya, itulah yang membuat saya malas dengan yang namanya on time. Sebab, tepat waktu apapun yang kau anut, "kita tunggu yang lain" adalah konsekuensi logis dari mengumpulkan banyak orang.
Saya sudah tidak ingin membayangkan macam-macam lagi soal ini.
Oh iya, hari ini, saya mengambil surat keterangan sehat. Namanya Surat Keterangan Kesehatan Jiwa. Kalau kalian berpikir bahwa yang menjalani serangkaian tes kejiwaan adalah orang-orang, yang, ya, bisa dikatakan jiwanya sakit, di negeri ini tidak berlaku demikian.
Setelah serangkaian penantian yang "makan waktu", lalu memutuskan untuk ngopi di Alfamart, saya kembali ke tempat di mana orang-orang berkumpul, menunggu SKS mereka selesai ditandatangani. Dan, ya, hasilnya saya, tentu saja dinyatakan SEHAT jiwanya.
Membaca itu, saya sudah cukup puas. Lalu, beberapa teman saya tanyai dengan candaan, jawab mereka sama: masih waras. Tentu saja ketika mendengar itu, saya ingin sekali tahu bagian "warasnya" saya di mana. Beberapa teman saya temukan menertawai diri sendiri dengan hasil yang mereka terima. Itu membuat saya tergelitik untuk membaca ulang segala omong kosong tentang diri sendiri.
Saya duduk di sudut selasar rumah sakit, memandangi deretan angka-angka skor validitas di bagian atas: 61, 62, 52, 60, 51, 39.... Angka-angka dingin yang mencoba merumuskan isi kepada saya. Ketika mata saya mulai menyisir baris demi baris kalimat di bawahnya, saya tidak tahu harus tertawa atau merasa tersinggung. Lembar hasil MMPI (Minnesota Multiphasic Personality Inventory) ini membaca diri saya dengan ketelanjangan yang brutal sekaligus menyebalkan.
Di paragraf awal, mesin atau siapapun itu orangnya yang membuat teks ini menyebut saya sebagai orang yang merespon jawaban secara terbuka dan serius. Skor kebohongan saya rendah. "Sangat valid untuk dianalisa," tulisnya. Baguslah, setidaknya saya tidak dicap sebagai pembohong di atas kertas formal ini. Sebab, tentu saja saya bukan politisi, meski saya lulus dari perkuliahan yang membidangi politik dan pemerintahan.
Namun, kegembiraan kecil itu langsung runtuh di kalimat berikutnya. Saya disebut represif terhadap masalah dan memiliki kecenderungan mengingkari. Kurang memiliki insight perubahan. Tingkah laku tidak diselaraskan dengan tuntutan sosial. Dan, kau tahu? Puncaknya adalah pada kalimat, kemungkinan besar ia memiliki hambatan diri yang tidak bisa dikontrol.
"Omong kosong macam apa ini?" batin saya menolak. Saya hanya mencoba jujur, tapi kejujuran itu justru diterjemahkan sebagai kegagalan mengontrol diri. Lebih parah lagi, ada catatan kecil yang menusuk: klien berusaha berkesan negatif terhadap diri sendiri..., menunjukkan gejala psikotis akut atau gangguan fisik lainnya. Di bagian bawahnya bahkan tertulis konfirmasi bahwa saya menunjukkan diri psikotis, meski dianggap kurang valid karena saya berusaha sadar untuk terlihat "rusak."
Memasuki bagian Simptom Klinis & Diagnosa, bacaan ini menjadi semakin asing sekaligus menakutkan bagi saya yang hanya butuh selembar Surat Keterangan sehat.
Selembar kertas yang saya terima ini menangkap basah sifat pemberontakan saya. Klien menunjukkan perilaku sering menentang terutama terhadap nilai-nilai perilaku feminisme yang ada. Saya disebut cenderung bersikap maskulin, aktif, agresif dan dominan dalam hubungan sosial. Hahaha ini layak untuk saya ketawai, sebab tulisan yang tertera ini, berbanding terbalik dengan apa yang saya lakukan sehari. Ini jelas sangat berbanding terbalik dari apa yang saya perbuat atau bahkan dari teman-teman dekat saya tahu bagaimana sikap saya soal feminisme.
Barangkali, hanya berbekal berlembar-lembar kertas ini, orang lain akan melihat saya sebagai sosok yang tangguh dan menyenangi kompetisi fisik. Maaf, saya pinjam dulu kata-katanya pak Prabowo, Sorry yeeeeeeeeeeeeeeeee.
Di sinilah letak ironinya. Di balik penantian membosankan di birokrasi publik tadi pagi, kertas ini justru mendiagnosa saya dengan gangguan penyesuaian diri atau gangguan somatoform. Hehe, kalau saja tahu betapa saya sangat bosan ketika mengisi 567 soal kejiwaan ini, barangkali mesin yang mengelola jawaban pada Surat Keterangan Sehat saya akan berkata berbeda.
Sudah, daripada saya pusing dengan jawaban ini, kertas-kertas ini saya isi saja dalam tas yang saya bawa. Namun, setibanya di rumah, saya lagi-lagi membaca surat ini. Rasa penasaran saya kembali membuncah. Apalagi, saya melihat teman saya mengunggah story WhatsApp dengan caption anti sosial diikuti dengan emoji ketawa. Membaca itu, saya juga ngakak. Bagaimana tidak? Teman saya ini kurang sosial apa coba? Wkwkwkwk eh, ini memang layak diketawain, sih.
Di rumah, Saya membalik halaman dan membaca lebih dalam ke paragraf terakhir, setelah sekali lagi saya membaca ulang tulisan yang ada dari awal. Di sana, karakter saya dibelah menjadi dua kutub yang ekstrem. Di satu sisi, Saya adalah tipe orang yang hangat, periang, dan sentimentil. Sangat sensitif, bersemangat dan penuh inisiatif. Namun, di sisi lain saya adalah bom waktu yang rapuh. Saya dinilai sangat bergantung pada hubungan interpersonal kurang percaya diri, dan mudah cemas.
Dan kalimat penutupnya benar-benar menjadi "hadiah" atas penantian seharian ini: jika ia pasien, dapat saja ia memiliki tendensi paranoid, lingkungan sekitar dianggapnya merepotkan dirinya. Ia akan bersikap sensitif terhadap tindakan atau opini orang lain dan akan bersikap curiga terhadap sesuatu yang dianggapnya janggal.
Oh, jelas. Saya selalu menaruh curiga terhadap apa saja, termasuk pada kebaikan-kebaikan kecil yang saya dapat tanpa tahu, kenal apalagi ia adalah seorang politisi.
Pada akhirnya saya melipat kertas itu memasukkannya ke dalam tas lalu tersenyum kecut. Tentu saja, sebelum saya simpan, saya terlebih dahulu memindainya untuk kebutuhan di kemudian hari.
Huffff, menunggu berjam-jam demi selembar kertas yang mengatakan bahwa saya adalah orang hangat yang paranoid, agresif yang cemas, dan pemberontak yang somatoform, barangkali adalah salah satu pengalaman yang menyebarkan dalam hidup. Tiba-tiba saja saya membenarkan isi surat ini, ketika sebelumnya saya merasa janggal dengan pelayanan publik yang saya dapatkan. Namun, saya tetap merasa lega karena dunia birokrasi ini akhirnya berhasil memahami betapa rumitnya isi kepala saya.
Diskusi
0 komentar aktif dari pembaca dan kontributor komunitas.
Ikut berdiskusi
Tambahkan komentar, balas thread, atau kelola komentar Anda sendiri.
Anda perlu login untuk mengirim komentar, membalas, atau mengelola komentar sendiri.
Belum ada diskusi.
Jadilah orang pertama yang memulai percakapan untuk berita ini.
Bacaan Terkait
Berita lain yang layak dibaca setelah ini
Bagaimana Jika Idealismemu Saya Tukar dengan Kemapanan Hidup?
Idealisme tidak pernah lahir dari kehidupan yang serba mudah. Ia tumbuh dari benturan, dengan kenyataan, dengan kekuasaan, bahkan dengan perut yang lapar. Sebab, gagasan yang tak pernah diuji oleh kenyataan, hanyalah angan-angan yang kebetulan terdengar indah.
Roberto "Generasi Emas" Martinez
Sebuah ulasan singkat tentang bagaimana Roberto Martinez mengelola tim nasional bertabur bintang hingga dijuluki generasi emas, mulai dari Timnas Belgia hingga Timnas Portugal.
Mikro, Ndasmu
Sebuah isi pikiran, yang sebaiknya tidak dikeluarkan.
Hal yang Seharusnya Dilakukan oleh Guru di Indonesia setelah Nonton Serial Teach You a Lesson
Isu kekerasan pada remaja, selalu menghadirkan dilema moral yang mendalam. Dalam serial drama Korea berjudul Teach You a Lesson, kita dihadapkan pada kenyataan pahit mengenai hilangnya wibawa guru dan merajalelanya penindasan di lingkungan sekolah. Saat sistem hukum dan institusi konvensional dianggap terlalu lunak atau mandul dalam melindungi korban, muncul pertanyaan ekstrem, apakah kekerasan dapat dibenarkan untuk mendisiplinkan remaja yang bermasalah?
Mahasiswa, Sampah dan Kebijakan Pemerintah
Dari 100 ekonomi terbesar di bumi, 51% adalah milik perusahaan. Dan ketika perusahaan membengkak dalam artian finansial, maka kekuatan perusahaan juga ikut membengkak. Akibatnya, terjadi perubahan sikap dari pemerintah yang sebelumnya dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat, beralih pada kepedulian pada perusahaan dengan segala modalnya itu.
Menampilkan 5 bacaan terkait