
Memeluk Bagas: Menyembuhkan Luka Patriarki Keluarga Indonesia
Kritik Feminis Dekolonial atas Film Ipar itu Benalu (2026)
Memeluk Bagas: Menyembuhkan Luka Patriarki Keluarga Indonesia
Kritik Feminis Dekolonial atas Film Ipar itu Benalu (2026)
Judul: Ipar itu Benalu (2026)
Sutradara: Aditya Santana
Produksi: ADSFORT
Platform: NOICE
Durasi: 1 Jam 40 Menit
“Saya ingin memeluk Bagas.”
Demikian lontaran spontan saya dan beberapa kawan setelah menonton Ipar itu Benalu (Aditya Santana, 2026). Gambaran langka dalam perfilman Indonesia, bukan laki-laki yang menindas perempuan tetapi laki-laki yang sedang berusaha merdeka dari penindasan patriarki. Film ini berdurasi 1 jam 40 menit yang tayang di Noice. Film ini bukan tentang perselingkuhan, rebutan harta atau adegan sex sebagaimana tren industri film hari ini untuk menarik penonton.
Ipar itu Benalu mengambil isu yang biasa dianggap remeh temeh atau malah kerap dijadikan olok-olokan “Ikatan Suami Takut Istri.” Apakah ada suami yang terang-terangan di depan keluarganya membela istrinya dan memosisikan istrinya penting atau malah jauh lebih penting daripada saudara kandungnya atau ibu kandungnya? Ada, namanya Bagas (Aditya Santana). Meski pun hanya dalam film, tapi cukup menghibur dan bisa menjadi inspirasi keluarga terutama para laki-laki yang selama ini juga telah menjadi korban patriarki tapi tidak menyadarinya.
Interseksionalitas Laki-laki: Bagas di Persimpangan Keluarga
Selama ini interseksionalitas lebih banyak disematkan pada perempuan karena memang lebih banyak perempuanlah yang menjadi korban. Setelah menonton film ini, rupanya ada juga laki-laki yang hidup dalam persimpangan atau lapisan interseksionalitas.
Identitas Bagas, bukan hanya laki-laki. dia adalah anak sulung dari seorang ibu yang menjanda, kakak tertua dari 3 anak muda yang menggantungkan hidupnya pada Bagas. Bagas juga adalah suami dari Tika (Verliza) yang sedang hamil. Identitas lainnya, Bagas dengan kondisi ekonomi pas-pasan dan pekerjaan sebagai kontraktor yang kembang kempis. Sebagaimana posisi laki-laki dalam budaya patriarki, Bagas haruslah jadi laki-laki yang kuat yang jadi sandaran dua keluarga. Pertama, sebagai kepala keluarga dalam keluarganya, dia dan Tika istrinya, sebagai anak laki-laki sulung, Bagas diposisikan sebagai pengganti bapaknya. Bagas menjadi kepala dua keluarga sekaligus, ditambah lagi penanggung jawab keluarga adiknya, Gilang dan istrinya Saskia. Mereka semua tinggal di rumah bagas dan Tika.
Bagas dituntut menjadi suami yang ideal bagi Tika, anak yang berbakti pada ibunya, kakak yang mengayomi adik-adiknya dan iparnya dalam waktu yang bersamaan. Ketiga identitasnya inilah yang bertabrakan di persimpangan jalan menghancurkan dirinya, korbannya tidak hanya laki-laki bernama Bagas tetapi juga ada perempuan yang menjadi korban. Dia itu Tika istri bagas. Sebagai orang luar yang masuk dalam keluarga, kerap kali istri dianggap menjadi pengganggu harmoni keluarga.. Misalnya dalam lontaran Nadira, salah satu adik Bagas
“Maksud aku, apa pun yang terjadi di dunia ini, aku tetap adiknya Kak Bagas, kalau Mbak Tika istrinya Kak Bagas, bisa diganti kapan saja, Mbak.”
Tika dianggap orang luar yang masuk dalam keluarga Bagas. Dia hanya orang lain.
Gambaran kolonialitas gender dalam keluarga, Bagas dituntut menjadi dobel bapak atau dobel kepala keluarga. Doktrin yang terkenal dalam urusan keluarga di Indonesia misalnya, “darah itu lebih kental daripada air atau “tidak ada mantan adik, kakak, mantan ibu, mantan ayah tapi ada mantan istri.” Ungkapan ini berpotensi menjadi racun yang menghancurkan relasi suami istri. Menyamarkan ke-benalu-an dan kejahatan keluarga sendiri.
Dekolonial Bagas Terhadap Kuasa Patriarki dalam Harmoni Keluarganya
Menonton Ipar itu Benalu bagi sebagian perempuan yang punya pengalaman berkubang dalam harmoni keluarga yang semu adalah proses penyembuhan luka hatinya. Kepatuhan perempuan/istri terhadap suami, mertua dan ipar adalah gambaran kesempurnaan sebuah relasi keluarga. Tokoh Bagas menghancurkan gambaran harmoni ini dengan memilih keluar dari pakem Keluarga Sakinah.
Langkah berani Bagas membongkar mitos kultural seperti hubungan saudara kandung, ibu kandung selamanya sedangkan suami istri belum tentu. Doktrin ini memaksa laki-laki untuk menjadikan istrinya sebagai orang asing dan loyal secara membabi buta terhadap keluarga dalam garis biologisnya.
Tindakan Bagas menolak kolonial keluarga patriarki terhadap Tika, istrinya, menegaskan bahwa jalan menuju pembebasan perempuan dari ruang domestik yang toksik dan mitos tentang keluarga, tidak hanya bertumpu pada perjuangan perempuan itu sendiri. Proses ini butuh kerelaan dan kesadaran laki-laki untuk membongkar dan menolak struktur kuasa patriarki yang diwariskan padanya turun temurun.
Beberapa tindakan dekolonial yang meruntuhkan maskulinitas dan kepatuhan magis anak laki-laki pada ibunya, saat Bagas menangis dan memarahi ibunya. Ipar itu Benalu memandu penonton untuk membongkar, menggugat dan memutus rantai kolonialitas dalam harmoni semu keluarga besar biologis yang mengabaikan relasi kemanusian dan cinta suami istri. Ini bisa menjadi tontonan keluarga secara khusus bisa digunakan sebagai materi untuk kursus atau diskusi calon pengantin di lembaga formal dan informal.
Satu hal yang perlu dipertimbangkan dari film ini, pemilihan judul Ipar itu Benalu menunjukkan belum sepenuhnya film ini merupakan gerakan dekolonial. Karena judulnya masih menggunakan sudut pandang Tika. Atau juga hanya mencuri kepopuleran Ipar itu Maut. Padahal, secara kualitas dan nilai-nilai edukasi, Ipar itu Benalu justru memberi warna baru yang cemerlang untuk masa depan keluarga harmoni atas dasar cinta dan kemanusian. Film ini akan menjadi tindakan dekolonial yang utuh jika menggunakan view Bagas sehingga pilihan judulnya menjadi Keluarga Itu Benalu. Ini menjadi pertanyaan refleksi bersama apakah betul "harta yang paling berharga adalah keluarga?"
Diskusi
2 komentar aktif dari pembaca dan penulis komunitas.
Ikut berdiskusi
Tambahkan komentar, balas thread, atau kelola komentar Anda sendiri.
Anda perlu login untuk mengirim komentar, membalas, atau mengelola komentar sendiri.
Belum ada diskusi.
Jadilah orang pertama yang memulai percakapan untuk berita ini.
Bacaan Terkait
Berita lain yang layak dibaca setelah ini
Reality Or Fantasy:Escapism Anak Sebagai Respons Terhadap Lingkungan dalam Pan’s Labyrinth
Rekomendasi film Pan’s Labyrinth yang membahas escapism pada anak melalui dunia fantasi sebagai respons terhadap lingkungan yang penuh tekanan.
Seberapa Jauh Kita Mau Percaya pada Sesuatu yang Mustahil?
Film animasi ini berkisah tentang Peter, seorang anak yatim-piatu, yang ditinggal mati oleh kedua orangtuanya saat terjadi perang.
Bagaimana Cara Melihat Krisis Dunia Menurut Haemin Sunim dalam Buku "The Things You Can See Only When You Slow Down"
Hal yang Seharusnya Dilakukan oleh Guru di Indonesia setelah Nonton Serial Teach You a Lesson
Isu kekerasan pada remaja, selalu menghadirkan dilema moral yang mendalam. Dalam serial drama Korea berjudul Teach You a Lesson, kita dihadapkan pada kenyataan pahit mengenai hilangnya wibawa guru dan merajalelanya penindasan di lingkungan sekolah. Saat sistem hukum dan institusi konvensional dianggap terlalu lunak atau mandul dalam melindungi korban, muncul pertanyaan ekstrem, apakah kekerasan dapat dibenarkan untuk mendisiplinkan remaja yang bermasalah?
Menampilkan 4 bacaan terkait