
Gempa Flores dan Pertanyaan Teologis: Apakah Sedikitnya Korban Bukti Mukjizat?
Menarik kesimpulan bahwa jumlah korban sedikit adalah bukti bahwa Tuhan menunjukkan mukjizat merupakan cara berpikir yang keliru.
Postingan seperti ini barusan muncul di beranda media sosial saya dengan nama akun yg berbeda.

Ada satu komentar yang sangat bagus untuk dibaca, sehingga saya memutuskan untuk copy paste di sini:
Ada beberapa persoalan teologis dan juga cara berpikir yang perlu dikritisi dari tulisan ini. Yang paling bermasalah adalah menarik kesimpulan bahwa jumlah korban yang sedikit merupakan bukti langsung bahwa Tuhan atau Bunda Maria secara khusus meredakan gempa dan tsunami karena masyarakat Flores berdevosi kepada mereka.... Kita boleh mengimani penyelenggaraan dan perlindungan Tuhan, tetapi kita tidak mempunyai dasar untuk memastikan bahwa suatu peristiwa alam tertentu terjadi atau berhenti karena intervensi khusus seperti itu.
Beberapa hal yang menurut saya perlu dibedakan:
1. Kekuatan gempa tidak secara otomatis menentukan jumlah korban.Magnitudo 7,7 memang sangat besar, tetapi korban jiwa dipengaruhi banyak faktor: lokasi episentrum, kedalaman, jarak dari permukiman, kualitas bangunan, kondisi tanah, kepadatan penduduk, waktu kejadian, kesiapsiagaan, dan apakah terjadi tsunami.
2. Pukul 06.00 memang bisa menjadi salah satu faktor yang mengurangi korban, tetapi kita tidak bisa langsung mengatakan bahwa Tuhan sengaja memilih jam tersebut untuk menyelamatkan masyarakat. Itu sudah masuk pada penafsiran terhadap maksud Allah yang tidak dapat kita pastikan.
3. Tidak terjadinya tsunami juga tidak otomatis merupakan mukjizat. Tsunami tidak ditentukan hanya oleh besar kecilnya magnitudo. Mekanisme patahan, arah pergeseran dasar laut, lokasi sumber gempa, dan perpindahan vertikal dasar laut sangat menentukan apakah gempa menghasilkan tsunami yang signifikan.
4. Patung Yesus dan Bunda Maria yang tetap berdiri juga tidak dapat dijadikan bukti objektif mukjizat.Itu tentu bisa menjadi tanda iman yang menguatkan bagi orang yang mengalaminya. Tetapi secara teologis, kita perlu berhati-hati membedakan antara tanda yang menguatkan iman dan bukti bahwa suatu mukjizat telah terjadi.
5. Yang paling problematis adalah kalimat bahwa masyarakat Flores selamat karena setia berdevosi kepada Bunda Maria. Kalau logika ini diterapkan, muncul pertanyaan yang sangat sulit: "bagaimana dengan orang-orang yang meninggal dalam gempa, Apakah mereka kurang beriman atau kurang dilindungi?" Tentu kita tidak boleh sampai pada kesimpulan seperti itu.
Justru iman Kristiani mengajarkan sesuatu yang lebih dalam: Tuhan tetap hadir baik ketika kita diselamatkan maupun ketika kita mengalami penderitaan. Kita boleh berkata, “Puji Tuhan, kami selamat.” Kita boleh bersyukur atas kecilnya korban. Kita boleh melihat keselamatan itu sebagai rahmat Tuhan. Tetapi berbeda sekali antara mengatakan “kami bersyukur karena Tuhan menyertai kami” dengan mengatakan “Tuhan menyelamatkan kami karena kami lebih setia berdevosi daripada orang-orang di tempat lain.”
Demikian juga dengan Bunda Maria. Kita boleh percaya pada doa dan teladan keibuan Maria, tetapi jangan menjadikan Maria seolah-olah mempunyai kuasa untuk mengendalikan gempa secara langsung. Dalam iman Katolik, segala rahmat dan keselamatan tetap bersumber pada Allah dalam Kristus.
Menurut saya, justru refleksi yang lebih matang secara teologis adalah, kita tidak tahu mengapa gempa sebesar itu menimbulkan korban yang relatif sedikit. Kita tidak perlu mengklaim mengetahui maksud tersembunyi Tuhan. Kita cukup bersyukur bahwa banyak orang diselamatkan, berbelaskasihan kepada mereka yang kehilangan rumah dan anggota keluarga, dan belajar memperbaiki kesiapsiagaan menghadapi bencana berikutnya.
Dan kalau umat Flores melihat peristiwa itu sebagai kesempatan untuk semakin dekat kepada Tuhan dan semakin mempercayakan diri kepada Bunda Maria, itu sah sebagai pengalaman iman pribadi. Yang perlu dihindari adalah mengubah pengalaman iman tersebut menjadi klaim faktual: “Gempa tidak membunuh banyak orang karena Bunda Maria melindungi Flores.”
Sebab kita juga harus berhati-hati dengan teologi yang mengatakan “Tuhan menyelamatkan kita”, tetapi secara tidak langsung membuat kita bertanya “mengapa Tuhan tidak menyelamatkan mereka?”. Di situlah refleksi iman dapat berubah menjadi penjelasan yang justru tidak adil terhadap para korban.
Diskusi
0 komentar aktif dari pembaca dan kontributor komunitas.
Ikut berdiskusi
Tambahkan komentar, balas thread, atau kelola komentar Anda sendiri.
Anda perlu login untuk mengirim komentar, membalas, atau mengelola komentar sendiri.
Belum ada diskusi.
Jadilah orang pertama yang memulai percakapan untuk berita ini.
Bacaan Terkait
Berita lain yang layak dibaca setelah ini
Gempa Flores dan Ironi "Bon di Kios"
Gubernur Maluku sumbang satu miliar, Gubernur Sulawesi sumbang lima ratus juta, sementara Gubernur NTT suruh masyarakat bon di kios.
Atas Nama Timor
Polemik gelar “Sesepuh Raja Timor” bukan sekadar penghormatan adat, tetapi menyangkut legitimasi, representasi, dan siapa yang berhak berbicara atas nama Timor.
Mentalitas Budak dan Perbudakan di Sumba
Tulisan ini merupakan refleksi atas pemberitaan media Prancis yang menyoroti praktik perbudakan di Sumba. Berangkat dari kegelisahan terhadap sikap sebagian masyarakat yang cenderung menganggap persoalan tersebut sebagai sesuatu yang lumrah, tulisan ini mengulas perbudakan sebagai warisan sejarah yang seharusnya telah ditinggalkan. Dengan merujuk pada Max Havelaar karya Multatuli, tulisan ini menganalisis bagaimana sistem penindasan dapat melahirkan "mentalitas budak", yakni kesadaran yang menerima ketidakadilan sebagai kewajaran. Selain mengkritik pembiaran sosial dan penggunaan budaya sebagai legitimasi perbudakan, tulisan ini juga mendorong pemerintah untuk memperkuat komitmen penghapusan perbudakan melalui kebijakan yang lebih konkret.
Pajak Global Mengubah Peta Persaingan Investasi Indonesia.
Global Minimum Tax menandai berakhirnya era "race to the bottom" dalam pajak. Bagi Indonesia, ini ujian sekaligus peluang. Tantangannya adalah memastikan reformasi pajak berjalan beriringan dengan pembangunan iklim investasi yang sehat, adil, dan berkelanjutan!.
ASN Pemda Jelata Bicara: "Cerminnya Masih Ada, Pak?"
Opini ini menanggapi stereotip tentang 'ASN malas' dengan ketimpangan realistas ASN daerah yang bermodalkan kantong pribadi.
Bagaimana kalo Kartini hidup di NTT?
Jika Kartini hidup di NTT? bagaimana isi suratnya pada teman-temannya di Eropa?
Mikro, Ndasmu
Sebuah isi pikiran, yang sebaiknya tidak dikeluarkan.
Putar Kopi dan Menikah
Kodrat perempuan itu hanya 4 yaitu, menstruasi(haid), mengandung, melahirkan, dan menyusui. selain dari pada ini dalam pernikahan ada istilahnya kerja bakti
Agnez Monica Harus Belajar Manajemen Waktu dari Arni Wolla
Kalau kalian adalah orang Sumba dan mengikuti perseteruan Arni Wolla dengan seorang pemilik studio yang juga orang Sumba yang menetap di Bali dan telah malang melintang di dunia permusikan tentang lagu pertama Arni Wolla, kalian pasti tidak percaya bahwa seorang Arni Wolla bahkan keluar sebagai seorang jenius.