Edisi Selasa, 22 September 2026

Beranda
Saat "Janda" Menjadi Bahan Candaan, Apa yang Sebenarnya Sedang Kita Tertawakan?
Ilustrasi: depositphotos.com

Saat "Janda" Menjadi Bahan Candaan, Apa yang Sebenarnya Sedang Kita Tertawakan?

Mengapa penting membicarakan janda? Ada apa dengan para janda? Tulisan ini adalah perspektif saya tentang bagaimana janda seharusnya diperlakukan.

Antoni ResiAntoni Resi 24 Juni 2026 4 menit baca

Mengapa penting membicarakan janda?

Tulisan ini sebenarnya tidak ada niat sebelumnya untuk saya tulis. Tepat pukul 23.00 WITA, saya sedang asyik menggulir layar ponsel. Ini memang sudah menjadi kebiasaan saya; jika mata belum juga bisa terpejam, saya biasanya membaca status dan komentar-komentar lucu para netizen di Facebook. Entah mengapa, cara itu cukup ampuh membuat rasa kantuk datang dan mengantar saya menuju mimpi indah.

Dari satu status ke status lainnya saya terus menggulir ke bawah. Eitsss... mata saya sebenarnya sudah mulai sayup. Namun tiba-tiba muncul sebuah status dari akun Koalisi Perempuan Indonesia dengan pesan singkat: "Selamat Hari Janda Sedunia."

Sepintas, pesan dalam status itu seakan-akan membuka mata saya lebar-lebar. Niat hati ingin segera tidur, tetapi otak justru mulai berkecamuk.

"Ada apa dengan para janda?"

Rasa penasaran pun muncul. Saya mulai membuka beberapa referensi, dan ternyata memang benar bahwa Hari Janda Sedunia, atau yang secara resmi dikenal sebagai Hari Janda Internasional (International Widows Day), diperingati setiap tanggal 23 Juni. Peringatan ini diresmikan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 2010 sebagai upaya untuk mengakhiri diskriminasi, stigma sosial, dan kemiskinan yang masih kerap dialami oleh jutaan janda di berbagai belahan dunia.

Membaca status itu membuat saya kembali berpikir. Di kalangan masyarakat atau orang muda, tak jarang kata "janda" seperti camilan yang renyah untuk dikunyah. Kita bisa lihat, di persekutuan doa, pemimpin doa tak jarang menyentil tentang janda agar selalu diperhatikan sang Kuasa, atau di kalangan orang muda, kata "janda" menjadi bahan candaan, misalkan janda pirang, bahkan pada program pemerintah, janda menjadi sasaran rentan yang setidaknya diprioritaskan meskipun itu hanya semboyan.

Jika kita melihat lebih luas terkait janda, memang khususnya di Pulau Sumba, ada perempuan menjadi janda karena suaminya meninggal, jarang sekali perempuan menjanda karena alasan cerai atau ditinggalkan suami. Memang menarik di Pulau Sumba ini, proses adat yang panjang, memakan biaya, waktu, tenaga, dan melibatkan banyak orang serta menjaga hubungan persaudaraan dan kekeluargaan, barangkali menjadi salah satu alasan pasangan rumah tangga sulit bercerai, ditambah lagi dengan kepercayaan agama bahwa pernikahan "sekali" seumur hidup.

By the way, melihat kondisi janda di kalangan masyarakat kita yang sesungguhnya khidmat didoakan serta rapi dalam pajangan target pelayanan pemerintah, saya merasa hal ini menjadi basi dan keyakinan saya menjadi abu-abu. Kenapa saya katakan demikian, selama ini kata "janda" sering kali lebih banyak dipenuhi oleh stigma daripada empati. Dalam berbagai percakapan sehari-hari, status janda kerap menjadi bahan candaan, gosip, bahkan prasangka yang tidak adil. Padahal, di balik status itu ada cerita kehidupan yang tidak selalu mudah.

Janda selalu menjadi sasaran subjektivitas seksual, tidak jarang oknum-oknum menganggap para janda adalah sosok yang mudah didekati. Para janda dinilai lemah dan rentan. Kondisi ini acapkali membuat relasi kuasa dimanfaatkan demi keuntungan seksual atau mungkin kepentingan politik. Dalam kondisi budaya patriarki, di mana perempuan didoktrin untuk bergantung pada laki-laki, para janda dinilai kehilangan arah sehingga seluruh gerak-gerik mereka setelah menjanda dinilai atau diberikan stereotip yang buruk.

Bicara tentang "janda", apa pun latar belakangnya, menjadi janda bukanlah cita-cita siapa pun. Itu adalah sebuah keadaan yang hadir sebagai bagian dari perjalanan hidup seseorang. Yang menarik untuk direnungkan, mengapa masyarakat sering begitu mudah memberi label kepada seorang janda, tetapi jarang memberikan perhatian yang sama kepada seorang duda? Seolah-olah status janda membawa beban sosial yang lebih berat. Mereka sering dituntut untuk menjaga sikap, menjaga pergaulan, bahkan menjaga jarak, karena takut menjadi sasaran prasangka yang sebenarnya belum tentu benar.

Padahal, seorang janda tetaplah seorang manusia biasa. Mereka adalah ibu, anak, saudara, tetangga, bahkan pemimpin di tengah masyarakat. Mereka memiliki hak yang sama untuk dihormati, bekerja, berkarya, dan menjalani kehidupan tanpa harus dibayangi stigma yang melekat hanya karena status perkawinannya.

Kemudian saya "sepakat" bahwa memperingati "hari janda" adalah tepat. Hari Janda Internasional diperingati bukan sekadar untuk mengucapkan "selamat", tetapi untuk mengingatkan kita bahwa masih banyak perempuan yang berjuang melanjutkan hidup setelah kehilangan pasangan. Mereka tidak membutuhkan belas kasihan yang berlebihan, melainkan penghargaan, kesempatan, dan perlakuan yang adil sebagai sesama manusia.

Malam itu, rasa kantuk saya memang sempat tertunda gara-gara sebuah status di media sosial. Namun, saya bersyukur karena dari status sederhana itu, saya diingatkan bahwa di balik satu kata yang sering kita ucapkan dengan mudah—"janda"—tersimpan begitu banyak cerita perjuangan yang mungkin selama ini luput dari perhatian kita. Akhirnya, pikiran saya yang begitu gusar terobati dan menghantar saya tertidur dengan lelap.

Antoni Resi

Ditulis Oleh Antoni Resi

80

Diskusi

0 komentar aktif dari pembaca dan penulis komunitas.

0 komentar

Ikut berdiskusi

Tambahkan komentar, balas thread, atau kelola komentar Anda sendiri.

Anda perlu login untuk mengirim komentar, membalas, atau mengelola komentar sendiri.

Belum ada diskusi.

Jadilah orang pertama yang memulai percakapan untuk berita ini.

Bacaan Terkait

Berita lain yang layak dibaca setelah ini

Nyawa di Ujung Pensil: Suara dari Timur yang Terabaikan
#Opini

Nyawa di Ujung Pensil: Suara dari Timur yang Terabaikan

Tulisan ini hadir untuk mengenang anak dan saudara kita di Ngada, NTT yang menceritakan keresahan penulis terkait kemiskinan struktural.

3 September 2026 Keren Marselin
Hangera dan Martabat Laki-laki dalam Tradisi Sumba
#Opini

Hangera dan Martabat Laki-laki dalam Tradisi Sumba

Hangera dalam adat Sumba memiliki konteks dan tahapan. Tinggal di rumah perempuan tak otomatis melanggar adat; yang penting proses, persetujuan, serta konteks.

30 Agustus 2026 Antoni Resi
Menelusuri indikasi TPPO dalam budaya Sumba
#Opini

Menelusuri indikasi TPPO dalam budaya Sumba

Menelusuri indikasi TPPO dalam praktik sosial budaya Sumba, dari perjodohan hingga perbudakan tradisional, dengan menempatkan kemanusiaan sebagai yang utama.

26 Agustus 2026 Antoni Resi
Gempa Flores dan Pertanyaan Teologis: Apakah Sedikitnya Korban Bukti Mukjizat?
#Opini

Gempa Flores dan Pertanyaan Teologis: Apakah Sedikitnya Korban Bukti Mukjizat?

Menarik kesimpulan bahwa jumlah korban sedikit adalah bukti bahwa Tuhan menunjukkan mukjizat merupakan cara berpikir yang keliru.

23 Agustus 2026 Asthy Anastasia
Gempa Flores dan Ironi "Bon di Kios"
#Opini

Gempa Flores dan Ironi "Bon di Kios"

Gubernur Maluku sumbang satu miliar, Gubernur Sulawesi sumbang lima ratus juta, sementara Gubernur NTT suruh masyarakat bon di kios.

19 Agustus 2026 Yohan Mataubana
Pahillir atau Maharri: Tradisi Sumba yang Menjaga Batas antara Mertua, Menantu dan Ipar
#Humba

Pahillir atau Maharri: Tradisi Sumba yang Menjaga Batas antara Mertua, Menantu dan Ipar

Tulisan ini membahas budaya Pahillir atau Maharri yang dilakukan oleh masyarakat Sumba

14 Agustus 2026 Antoni Resi
Atas Nama Timor
#Opini

Atas Nama Timor

Polemik gelar “Sesepuh Raja Timor” bukan sekadar penghormatan adat, tetapi menyangkut legitimasi, representasi, dan siapa yang berhak berbicara atas nama Timor.

10 Agustus 2026 Try Tualaka
Bagaimana Jika Pelaku Kekerasan Seksual adalah Pasanganmu?
#Refleksi

Bagaimana Jika Pelaku Kekerasan Seksual adalah Pasanganmu?

Tulisan ini membahas tentang kekerasan seksual dalam rumah tangga, bentuk-bentuk KDRT, serta pentingnya korban berani melapor demi perlindungan hukum.

6 Agustus 2026 Antoni Resi
Mentalitas Budak dan Perbudakan di Sumba
#Opini

Mentalitas Budak dan Perbudakan di Sumba

Tulisan ini merupakan refleksi atas pemberitaan media Prancis yang menyoroti praktik perbudakan di Sumba. Berangkat dari kegelisahan terhadap sikap sebagian masyarakat yang cenderung menganggap persoalan tersebut sebagai sesuatu yang lumrah, tulisan ini mengulas perbudakan sebagai warisan sejarah yang seharusnya telah ditinggalkan. Dengan merujuk pada Max Havelaar karya Multatuli, tulisan ini menganalisis bagaimana sistem penindasan dapat melahirkan "mentalitas budak", yakni kesadaran yang menerima ketidakadilan sebagai kewajaran. Selain mengkritik pembiaran sosial dan penggunaan budaya sebagai legitimasi perbudakan, tulisan ini juga mendorong pemerintah untuk memperkuat komitmen penghapusan perbudakan melalui kebijakan yang lebih konkret.

28 Juli 2026 Rifal Umbu Djawa