
Siswa Butuh Didengar, Bukan Hanya Dihakimi
Siswa perlu didengarkan dan dipahami, bukan dihakimi, agar BK menjadi ruang aman untuk berkembang.
Sekolah bukan sekadar tempat bagi siswa untuk memperoleh ilmu pengetahuan, melainkan juga ruang bagi mereka untuk tumbuh, mengenali diri mereka sendiri, dan belajar menghadapi berbagai persoalan kehidupan yang nantinya akan dihadapi. Namun, dalam prosesnya, tidak semua siswa mampu menunjukkan perilaku yang sesuai dengan harapan lingkungan sekolah. Dalam beberapa kondisi, ada siswa yang mengalami penurunan prestasi, ada yang sulit memahami materi, sering melanggar aturan sekolah hingga terjerumus pada pergaulan bebas. Sayangnya, perilaku-perilaku tersebut lebih sering ditelan mentah-mentah oleh orang lain dari pada dipahami terlebih dahulu pemicunya.
Ada saat di mana siswa yang mengalami penurunan prestasi dianggap malas belajar, padahal belum tentu demikian kenyataannya, sebab kita tak bisa menilai keseluruhan keadaan seseorang hanya dari satu dua perilaku yang belum jelas penyebabnya. Bisa jadi, ada tekanan yang belum mampu mereka ungkapkan, ada keadaan yang sulit mereka ceritakan, atau persoalan pribadi yang memengaruhi keseharian mereka. Sehingga sekolah perlu memberi ruang untuk mendengarkan apa yang ingin siswa ceritakan dan mencoba memahami alasan dibalik setiap perilakunya.
BK Bukanlah Ruang Penghakiman
Bimbingan dan Konseling (BK) memiliki peran penting dalam membantu siswa menghadapi berbagai persoalan, baik yang berkaitan dengan kegiatan pembelajaran, kehidupan pribadi siswa, hubungan sosial, maupun perencanaan masa depan. Akan tetapi, pada kenyataannya masih banyak yang beranggapan bahwa layanan BK hanya mengurus siswa yang melanggar aturan dan berbuat nakal, sehingga BK kerap dipandang sebagai sesuatu yang menakutkan.
Pandangan tersebut perlu untuk diluruskan, sebab BK bukan sekadar ruang penghakiman siswa, melainkan juga bagian dari layanan pendidikan yang bertujuan membantu peserta didik berkembang secara optimal dan menuju ke arah kebaikan. Untuk mengusahakan hal tersebut, BK harus mulai menerapkan pendekatan yang bersifat komunikatif dan mengutamakan dialog kepada siswa secara individu agar dapat memahami permasalahan yang sedang dihadapi oleh masing-masing siswa.
Mengapa demikian? Sebab ketika siswa berani untuk mulai menceritakan masalahnya, siswa tersebut pastinya berharap banyak untuk tidak terlebih dahulu dihakimi dan disalahkan begitu saja. Pada kondisi inilah guru BK memiliki kesempatan yang besar untuk berupaya memahami kebutuhan siswa dan memberikan bantuan yang dibutuhkan.
Mendengarkan adalah Langkah Awal untuk Memahami
Mendengarkan lebih dari sekadar membiarkan seseorang berbicara. Mendengarkan juga berarti memberikan perhatian, berusaha memahami apa yang disampaikan dari sudut pandang orang lain, dan tidak terburu-buru menarik kesimpulan tanpa menyimak lebih lanjut. Dalam layanan BK, sikap ini menjadi penting karena siswa sangat membutuhkan kesempatan untuk dapat menyampaikan pengalaman dan perasaannya secara terbuka tanpa takut dihakimi atau bahkan dipandang sebelah mata tanpa berusaha dipahami.
Contoh sederhananya, ketika ada seorang siswa yang sering tidak mengerjakan tugas dan tambah kesulitan ketika diminta untuk mengerjakan sebuah soal, namun guru justru memandang siswa tersebut sebagai siswa yang malas dan tidak mau giat belajar, maka bisa saja penangannya akan berhenti pada sebuah teguran dan hukuman yang cenderung tidak menyelesaikan permasalahan. Tetapi, akan berbeda jika seorang guru memilih untuk menggali penyebab dari permasalahan yang dialami, banyak informasi yang bisa didapatkan sehingga guru lebih mudah memahami posisi siswa yang mengalami permasalahan tersebut. Bisa saja siswa mengalami kesulitan dalam mengatur waktu, atau terdapat kondisi yan mengganggunya dalam proses belajar.
Namun, itu hanyalah contoh belaka yang bisa dijadikan pelajaran, bukan berarti setiap siswa yang mengalami permasalahan harus dibiarkan dan dibenarkan karena penyebabnya. Aturan dan tanggung jawab tetap diperlukan dalam pendidikan. Penegakan aturan harus disertai dengan upaya memahami keadaan siswa dan tidak hanya berfokus pada hukuman tanpa penyelesaian permasalahan.
Membangun Kepercayaan Siswa
Agar BK benar-benar menjadi ruang pendampingan, kepercayaan antara siswa dan guru BK perlu dibangun. Siswa harus tahu terlebih dahulu bahwa mereka memiliki hak untuk memperoleh bantuan tanpa harus dipermalukan atau dilabeli negatif. Selain itu, guru BK juga harus menjaga kerahasiaan informasi yang disampaikan oleh siswa. Seperti yang dipaparkan dalam Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan Islam dan Humaniora karya Adinda Hariana Safitri dkk yang berjudul “Kode Etik Profesi Bimbingan dan Konseling” bahwa salah satu kode etik ABKIN adalah menjaga privasi dan kerahasiaan.
Kepercayaan tidak tumbuh hanya melalui nasihat, tetapi juga melalui pengalaman ketika siswa merasa dihargai dan diperlakukan secara manusiawi. Ketika lingkungan sekolah mampu menghadirkan rasa aman, siswa diharapkan lebih berani mencari bantuan sebelum persoalan yang dihadapi berkembang menjadi semakin sulit.
Pada akhirnya, pendidikan tidak sesederhana membentuk manusia yang patuh terhadap segala aturan, tetapi juga tumbuh sebagai individu yang mampu memahami dirinya sendiri, bertanggung jawab atas segala keputusan dan bisa menghargai pendapat orang lain. Bimbingan dan Konseling dapat menjadi salah satu ruang penting untuk mewujudkan pendidikan yang lebih manusiawi. Melalui pendampingan yang tepat, siswa tidak hanya dibantu menyelesaikan masalah, tetapi juga belajar mengenali penyebabnya dan menentukan langkah yang lebih baik.
Siswa tetaplah seorang manusia biasa yang memiliki kemungkinan besar untuk melakukan kesalahan. Namun, sekolah sebagai tempat di mana siswa mengembang ilmu tidak seharusnya menilai mereka hanya dari perilaku buruk yang terlihat. Sebab, tidak ada manusia yang benar-benar tahu apa yang terjadi pada manusia yang lainnya. Mungkin saja ada persoalan yang belum tersampaikan dan bantuan yang belum mereka dapatkan.
Siswa butuh didengar, bukan hanya dihakimi. Karena terkadang, perubahan tidak dimulai dari bentakan dan teguran yang paling keras, melainkan dari kesediaan seseorang untuk mendengarkan dan memahami perasaan siswa yang butuh didengar.
Diskusi
0 komentar aktif dari pembaca dan penulis komunitas.
Ikut berdiskusi
Tambahkan komentar, balas thread, atau kelola komentar Anda sendiri.
Anda perlu login untuk mengirim komentar, membalas, atau mengelola komentar sendiri.
Belum ada diskusi.
Jadilah orang pertama yang memulai percakapan untuk berita ini.
Bacaan Terkait
Berita lain yang layak dibaca setelah ini
Nyawa di Ujung Pensil: Suara dari Timur yang Terabaikan
Tulisan ini hadir untuk mengenang anak dan saudara kita di Ngada, NTT yang menceritakan keresahan penulis terkait kemiskinan struktural.
Hangera dan Martabat Laki-laki dalam Tradisi Sumba
Hangera dalam adat Sumba memiliki konteks dan tahapan. Tinggal di rumah perempuan tak otomatis melanggar adat; yang penting proses, persetujuan, serta konteks.
Menelusuri indikasi TPPO dalam budaya Sumba
Menelusuri indikasi TPPO dalam praktik sosial budaya Sumba, dari perjodohan hingga perbudakan tradisional, dengan menempatkan kemanusiaan sebagai yang utama.
Gempa Flores dan Pertanyaan Teologis: Apakah Sedikitnya Korban Bukti Mukjizat?
Menarik kesimpulan bahwa jumlah korban sedikit adalah bukti bahwa Tuhan menunjukkan mukjizat merupakan cara berpikir yang keliru.
Gempa Flores dan Ironi "Bon di Kios"
Gubernur Maluku sumbang satu miliar, Gubernur Sulawesi sumbang lima ratus juta, sementara Gubernur NTT suruh masyarakat bon di kios.
Atas Nama Timor
Polemik gelar “Sesepuh Raja Timor” bukan sekadar penghormatan adat, tetapi menyangkut legitimasi, representasi, dan siapa yang berhak berbicara atas nama Timor.
Mentalitas Budak dan Perbudakan di Sumba
Tulisan ini merupakan refleksi atas pemberitaan media Prancis yang menyoroti praktik perbudakan di Sumba. Berangkat dari kegelisahan terhadap sikap sebagian masyarakat yang cenderung menganggap persoalan tersebut sebagai sesuatu yang lumrah, tulisan ini mengulas perbudakan sebagai warisan sejarah yang seharusnya telah ditinggalkan. Dengan merujuk pada Max Havelaar karya Multatuli, tulisan ini menganalisis bagaimana sistem penindasan dapat melahirkan "mentalitas budak", yakni kesadaran yang menerima ketidakadilan sebagai kewajaran. Selain mengkritik pembiaran sosial dan penggunaan budaya sebagai legitimasi perbudakan, tulisan ini juga mendorong pemerintah untuk memperkuat komitmen penghapusan perbudakan melalui kebijakan yang lebih konkret.
Pajak Global Mengubah Peta Persaingan Investasi Indonesia.
Global Minimum Tax menandai berakhirnya era "race to the bottom" dalam pajak. Bagi Indonesia, ini ujian sekaligus peluang. Tantangannya adalah memastikan reformasi pajak berjalan beriringan dengan pembangunan iklim investasi yang sehat, adil, dan berkelanjutan!.
ASN Pemda Jelata Bicara: "Cerminnya Masih Ada, Pak?"
Opini ini menanggapi stereotip tentang 'ASN malas' dengan ketimpangan realistas ASN daerah yang bermodalkan kantong pribadi.