
Putar Kopi dan Menikah
Kodrat perempuan itu hanya 4 yaitu, menstruasi(haid), mengandung, melahirkan, dan menyusui. selain dari pada ini dalam pernikahan ada istilahnya kerja bakti
Cerita ini bermula ketika saya dimintai memutar kopi untuk beberapa orang bibi pada saat kumpul keluarga. Saya yang biasa bercanda dengan mereka mengatakan, "ini kalau suruh saya putar kopi, jangan marah jika rasa kopinya sebentar amburadul." Lalu salah satu bibi menyeletuk, "jika tidak tahu putar kopi tidak usah menikah saja nanti." Saya kaget dong, ucapan bercanda saya ditanggapi serius dengan menyerang menggunakan kalimat begitu seolah-olah kehidupan pernikahan harus berlandaskan "cukup tahu putar kopi maka pernikahan itu aman."
Wah gatal ni tenggorokan saya, bibi ini membangunkan sisi lain dalam diri saya. Saya lalu membalas dengan mengatakan, "jika nanti saya punya suami kalau dia mau minum kopi ya putar sendiri, jangan apa-apa semua dibebankan kepada perempuan. Dan setahu saya pernikahan tidak didasarkan hanya tahu putar kopi atau tidak."
Ini menjadi warning buat saya sendiri, kita perempuan bukan didesain hanya untuk melayani. Kodrat perempuan hanya 4 yaitu: menstruasi(haid), mengandung, melahirkan dan menyusui. Selain daripada itu dalam pernikahan ada istilah yang namanya kerja bakti.
Diskusi
0 komentar aktif dari pembaca dan kontributor komunitas.
Ikut berdiskusi
Tambahkan komentar, balas thread, atau kelola komentar Anda sendiri.
Anda perlu login untuk mengirim komentar, membalas, atau mengelola komentar sendiri.
Belum ada diskusi.
Jadilah orang pertama yang memulai percakapan untuk berita ini.
Bacaan Terkait
Berita lain yang layak dibaca setelah ini
Atas Nama Timor
Polemik gelar “Sesepuh Raja Timor” bukan sekadar penghormatan adat, tetapi menyangkut legitimasi, representasi, dan siapa yang berhak berbicara atas nama Timor.
Mentalitas Budak dan Perbudakan di Sumba
Tulisan ini merupakan refleksi atas pemberitaan media Prancis yang menyoroti praktik perbudakan di Sumba. Berangkat dari kegelisahan terhadap sikap sebagian masyarakat yang cenderung menganggap persoalan tersebut sebagai sesuatu yang lumrah, tulisan ini mengulas perbudakan sebagai warisan sejarah yang seharusnya telah ditinggalkan. Dengan merujuk pada Max Havelaar karya Multatuli, tulisan ini menganalisis bagaimana sistem penindasan dapat melahirkan "mentalitas budak", yakni kesadaran yang menerima ketidakadilan sebagai kewajaran. Selain mengkritik pembiaran sosial dan penggunaan budaya sebagai legitimasi perbudakan, tulisan ini juga mendorong pemerintah untuk memperkuat komitmen penghapusan perbudakan melalui kebijakan yang lebih konkret.
Pajak Global Mengubah Peta Persaingan Investasi Indonesia.
Global Minimum Tax menandai berakhirnya era "race to the bottom" dalam pajak. Bagi Indonesia, ini ujian sekaligus peluang. Tantangannya adalah memastikan reformasi pajak berjalan beriringan dengan pembangunan iklim investasi yang sehat, adil, dan berkelanjutan!.
ASN Pemda Jelata Bicara: "Cerminnya Masih Ada, Pak?"
Opini ini menanggapi stereotip tentang 'ASN malas' dengan ketimpangan realistas ASN daerah yang bermodalkan kantong pribadi.
Bagaimana kalo Kartini hidup di NTT?
Jika Kartini hidup di NTT? bagaimana isi suratnya pada teman-temannya di Eropa?
Mikro, Ndasmu
Sebuah isi pikiran, yang sebaiknya tidak dikeluarkan.
Agnez Monica Harus Belajar Manajemen Waktu dari Arni Wolla
Kalau kalian adalah orang Sumba dan mengikuti perseteruan Arni Wolla dengan seorang pemilik studio yang juga orang Sumba yang menetap di Bali dan telah malang melintang di dunia permusikan tentang lagu pertama Arni Wolla, kalian pasti tidak percaya bahwa seorang Arni Wolla bahkan keluar sebagai seorang jenius.
Nasib Kerja Keras di Negeri Oligarki
Tulisan ini mengkritik narasi kerja keras dan janji pertumbuhan inklusif sebagai harapan palsu di tengah ketimpangan ekonomi yang ekstrem. Data menunjukkan dominasi oligarki dalam sektor ekstraksi yang melanggengkan pengerukan kekayaan, sementara generasi muda dari kalangan biasa menghadapi keterbatasan akses ekonomi akibat sistem yang elitis.
Lindungi anak perempuan atau Didik Anak Laki-laki?
refleksi urgensi protect your daughter, educate your son