Edisi Minggu, 9 Agustus 2026

Beranda
Kembali ke Beranda
Lindungi anak perempuan atau Didik Anak Laki-laki?
Ilustrasi: Getty Images/SanyaSM

Lindungi anak perempuan atau Didik Anak Laki-laki?

refleksi urgensi protect your daughter, educate your son

milia dwiputrimilia dwiputri 24 Juni 2026 3 menit baca
60

Pernahkah kamu mendengar istilah protect your daughter, educate your son? Sepenggal kalimat yang kerap muncul dalam lingkar kasus kekerasan seksual yang harus direfleksikan. Sebenarnya terdapat sejumlah perspektif berbeda, tetapi kali ini saya ingin mengulasnnya dalam pemahaman bagaimana kita tidak lagi menyalahkan korban KS sepihak dan membangun kesadaran bahwa tanggung jawab sepenuhnya atas tindakan yang terjadi terletak pada pelaku.

Dalam lingkar masyarakat, korban KS sering menjadi sasaran empuk untuk disalahkan. Situasi ini tentu membuat korban harus menanggung beban ganda. Korban tidak saja harus melawan rasa traumanya tetapi juga menerima stigma negatif dari masyarakat. Suatu kekeliruan yang dilakukan berulang kali ketika juga membebani pundak korban yang harus berperan dalam pencegahan terjadinya kasus kekerasan seksual.

harusnya ko jangan diam, ko berteriak”, “ko punya pakaian juga mungkin yang mengumpan makanya dia tergoda”, “kau juga ikut-ikut saja”, dan bahasa lainnya.  

Kekerasan terjadi pure atau murni niat pelaku, yang memegang kendali sepenuhnya adalah pelaku.

Istilah protect your daughter tidak berhenti dalam cakupan bagaimana anak perempuan selalu dididik untuk berpakaian sopan, untuk tidak keluar malam, untuk bisa jaga diri, untuk menghormati laki-laki tetapi juga berjalan seimbang dengan ++educate your son++. Laki-laki juga harus dididik adil sejak pola pikir. Laki-laki harus dididik agar tidak menjadi pelaku. Karena akar permasalahan dalam kasus kekerasan seksual bukan terletak pada selembar pakaian tetapi apa yang ada dalam isi kepala pelaku. Selembar pakaian yang menutupi tubuh perempuan tidak pernah mengklaim persetujuan dan tidak ada pakaian yang menghapus hak seorang perempuan untuk merasa aman dan nyaman.

Disini kita bisa melihat bagaimana urgensi educate your son atau sederhananya didik juga ko punya anak laki-laki. Karena kalau hanya perempuan yang dibebani berbagai tanggung jawab sampai pada posisi menjadi korban pun masih terus disudutkan nyatanya tidak pernah tuntas memutus rantai kekerasan seksual.

Seorang anak laki-laki harus dididik bagaimana memperlakukan perempuan dengan baik, bagaimana memandang seorang perempuan dalam keadaan utuh yang harus dihormati, bagaimana perihal batasan, persetujuan (consent), bagaimana bertanggung jawab atas setiap tindakan yang dilakukan dengan porsi yang sama.

Lebih lanjut, kita yang hidup dalam masyarakat juga harus belajar bahwa pertama, kekerasan terjadi bukan salah korban. Stop berlindung dan menormalisasi pada pakaian dan pergaulan korban. Karena bahkan dalam ilmu kriminologi sudah dijabarkan bahwa pakaian tidak pernah menjadi faktor terjadinya KS. KS, bahkan terjadi pada korban yang menggunakan pakaian tertutup, pakaian rapi, pakaian kantor dan lain sebagainya. Ini juga seakan-akan melegitimasi kondisi dimana pelaku merasa tidak ada urgensi untuk bertanggung jawab sepenuhnya. Kedua, ajar anak terkait persetujuan (consent) bahwa relasi atau hubungan antara laki-laki dan perempuan sepenuhnya atas kesepakatan. Ketiga, berhenti menormalisasi tindakan-tindakan yang tidak layak dan pantas. Seperti stop bercanda atau guyon terkait hal-hal yang berbau seks, karena pelecehan berkedok jokes kerap terjadi pada tongkrongan. Stop candaan fisik. Stop selalu melindungi pelaku dibalik “namanya laki-laki begitu su”, ini tidak sama sekali membanggakan tetapi paling memualkan.

Diskusi

0 komentar aktif dari pembaca dan kontributor komunitas.

0 komentar

Ikut berdiskusi

Tambahkan komentar, balas thread, atau kelola komentar Anda sendiri.

Anda perlu login untuk mengirim komentar, membalas, atau mengelola komentar sendiri.

Belum ada diskusi.

Jadilah orang pertama yang memulai percakapan untuk berita ini.

Bacaan Terkait

Berita lain yang layak dibaca setelah ini

Mentalitas Budak dan Perbudakan di Sumba
#Opini

Mentalitas Budak dan Perbudakan di Sumba

Tulisan ini merupakan refleksi atas pemberitaan media Prancis yang menyoroti praktik perbudakan di Sumba. Berangkat dari kegelisahan terhadap sikap sebagian masyarakat yang cenderung menganggap persoalan tersebut sebagai sesuatu yang lumrah, tulisan ini mengulas perbudakan sebagai warisan sejarah yang seharusnya telah ditinggalkan. Dengan merujuk pada Max Havelaar karya Multatuli, tulisan ini menganalisis bagaimana sistem penindasan dapat melahirkan "mentalitas budak", yakni kesadaran yang menerima ketidakadilan sebagai kewajaran. Selain mengkritik pembiaran sosial dan penggunaan budaya sebagai legitimasi perbudakan, tulisan ini juga mendorong pemerintah untuk memperkuat komitmen penghapusan perbudakan melalui kebijakan yang lebih konkret.

28 Juli 2026 Rifal Umbu Djawa
Pajak Global Mengubah Peta Persaingan Investasi Indonesia.
#Opini
#Ekonomi

Pajak Global Mengubah Peta Persaingan Investasi Indonesia.

Global Minimum Tax menandai berakhirnya era "race to the bottom" dalam pajak. Bagi Indonesia, ini ujian sekaligus peluang. Tantangannya adalah memastikan reformasi pajak berjalan beriringan dengan pembangunan iklim investasi yang sehat, adil, dan berkelanjutan!.

22 Juli 2026 Tini Landang
ASN Pemda Jelata Bicara: "Cerminnya Masih Ada, Pak?"
#Opini

ASN Pemda Jelata Bicara: "Cerminnya Masih Ada, Pak?"

Opini ini menanggapi stereotip tentang 'ASN malas' dengan ketimpangan realistas ASN daerah yang bermodalkan kantong pribadi.

21 Juli 2026 Petatas Ungu
Bagaimana kalo Kartini hidup di NTT?
#Opini

Bagaimana kalo Kartini hidup di NTT?

Jika Kartini hidup di NTT? bagaimana isi suratnya pada teman-temannya di Eropa?

2 Juli 2026 Kici Kiciw
Mikro, Ndasmu
#Opini

Mikro, Ndasmu

Sebuah isi pikiran, yang sebaiknya tidak dikeluarkan.

2 Juli 2026 Yons Hunga
Putar Kopi dan Menikah
#Opini

Putar Kopi dan Menikah

Kodrat perempuan itu hanya 4 yaitu, menstruasi(haid), mengandung, melahirkan, dan menyusui. selain dari pada ini dalam pernikahan ada istilahnya kerja bakti

1 Juli 2026 Asthy Anastasia
Agnez Monica Harus Belajar Manajemen Waktu dari Arni Wolla
#Opini

Agnez Monica Harus Belajar Manajemen Waktu dari Arni Wolla

Kalau kalian adalah orang Sumba dan mengikuti perseteruan Arni Wolla dengan seorang pemilik studio yang juga orang Sumba yang menetap di Bali dan telah malang melintang di dunia permusikan tentang lagu pertama Arni Wolla, kalian pasti tidak percaya bahwa seorang Arni Wolla bahkan keluar sebagai seorang jenius.

27 Juni 2026 Redaksi Ndongu
Nasib Kerja Keras di Negeri Oligarki
#Opini

Nasib Kerja Keras di Negeri Oligarki

Tulisan ini mengkritik narasi kerja keras dan janji pertumbuhan inklusif sebagai harapan palsu di tengah ketimpangan ekonomi yang ekstrem. Data menunjukkan dominasi oligarki dalam sektor ekstraksi yang melanggengkan pengerukan kekayaan, sementara generasi muda dari kalangan biasa menghadapi keterbatasan akses ekonomi akibat sistem yang elitis.

25 Juni 2026 Rian Dede
Saat "Janda" Menjadi Bahan Candaan, Apa yang Sebenarnya Sedang Kita Tertawakan?
#Opini

Saat "Janda" Menjadi Bahan Candaan, Apa yang Sebenarnya Sedang Kita Tertawakan?

Mengapa penting membicarakan janda? Ada apa dengan para janda? Tulisan ini adalah perspektif saya tentang bagaimana janda seharusnya diperlakukan.

23 Juni 2026 Antoni Resi