
Lindungi anak perempuan atau Didik Anak Laki-laki?
refleksi urgensi protect your daughter, educate your son
Pernahkah kamu mendengar istilah protect your daughter, educate your son? Sepenggal kalimat yang kerap muncul dalam lingkar kasus kekerasan seksual yang harus direfleksikan. Sebenarnya terdapat sejumlah perspektif berbeda, tetapi kali ini saya ingin mengulasnnya dalam pemahaman bagaimana kita tidak lagi menyalahkan korban KS sepihak dan membangun kesadaran bahwa tanggung jawab sepenuhnya atas tindakan yang terjadi terletak pada pelaku.
Dalam lingkar masyarakat, korban KS sering menjadi sasaran empuk untuk disalahkan. Situasi ini tentu membuat korban harus menanggung beban ganda. Korban tidak saja harus melawan rasa traumanya tetapi juga menerima stigma negatif dari masyarakat. Suatu kekeliruan yang dilakukan berulang kali ketika juga membebani pundak korban yang harus berperan dalam pencegahan terjadinya kasus kekerasan seksual.
“harusnya ko jangan diam, ko berteriak”, “ko punya pakaian juga mungkin yang mengumpan makanya dia tergoda”, “kau juga ikut-ikut saja”, dan bahasa lainnya.
Kekerasan terjadi pure atau murni niat pelaku, yang memegang kendali sepenuhnya adalah pelaku.
Istilah protect your daughter tidak berhenti dalam cakupan bagaimana anak perempuan selalu dididik untuk berpakaian sopan, untuk tidak keluar malam, untuk bisa jaga diri, untuk menghormati laki-laki tetapi juga berjalan seimbang dengan ++educate your son++. Laki-laki juga harus dididik adil sejak pola pikir. Laki-laki harus dididik agar tidak menjadi pelaku. Karena akar permasalahan dalam kasus kekerasan seksual bukan terletak pada selembar pakaian tetapi apa yang ada dalam isi kepala pelaku. Selembar pakaian yang menutupi tubuh perempuan tidak pernah mengklaim persetujuan dan tidak ada pakaian yang menghapus hak seorang perempuan untuk merasa aman dan nyaman.
Disini kita bisa melihat bagaimana urgensi educate your son atau sederhananya didik juga ko punya anak laki-laki. Karena kalau hanya perempuan yang dibebani berbagai tanggung jawab sampai pada posisi menjadi korban pun masih terus disudutkan nyatanya tidak pernah tuntas memutus rantai kekerasan seksual.
Seorang anak laki-laki harus dididik bagaimana memperlakukan perempuan dengan baik, bagaimana memandang seorang perempuan dalam keadaan utuh yang harus dihormati, bagaimana perihal batasan, persetujuan (consent), bagaimana bertanggung jawab atas setiap tindakan yang dilakukan dengan porsi yang sama.
Lebih lanjut, kita yang hidup dalam masyarakat juga harus belajar bahwa pertama, kekerasan terjadi bukan salah korban. Stop berlindung dan menormalisasi pada pakaian dan pergaulan korban. Karena bahkan dalam ilmu kriminologi sudah dijabarkan bahwa pakaian tidak pernah menjadi faktor terjadinya KS. KS, bahkan terjadi pada korban yang menggunakan pakaian tertutup, pakaian rapi, pakaian kantor dan lain sebagainya. Ini juga seakan-akan melegitimasi kondisi dimana pelaku merasa tidak ada urgensi untuk bertanggung jawab sepenuhnya. Kedua, ajar anak terkait persetujuan (consent) bahwa relasi atau hubungan antara laki-laki dan perempuan sepenuhnya atas kesepakatan. Ketiga, berhenti menormalisasi tindakan-tindakan yang tidak layak dan pantas. Seperti stop bercanda atau guyon terkait hal-hal yang berbau seks, karena pelecehan berkedok jokes kerap terjadi pada tongkrongan. Stop candaan fisik. Stop selalu melindungi pelaku dibalik “namanya laki-laki begitu su”, ini tidak sama sekali membanggakan tetapi paling memualkan.
Diskusi
0 komentar aktif dari pembaca dan penulis komunitas.
Ikut berdiskusi
Tambahkan komentar, balas thread, atau kelola komentar Anda sendiri.
Anda perlu login untuk mengirim komentar, membalas, atau mengelola komentar sendiri.
Belum ada diskusi.
Jadilah orang pertama yang memulai percakapan untuk berita ini.
Bacaan Terkait
Berita lain yang layak dibaca setelah ini
Nyawa di Ujung Pensil: Suara dari Timur yang Terabaikan
Tulisan ini hadir untuk mengenang anak dan saudara kita di Ngada, NTT yang menceritakan keresahan penulis terkait kemiskinan struktural.
Hangera dan Martabat Laki-laki dalam Tradisi Sumba
Hangera dalam adat Sumba memiliki konteks dan tahapan. Tinggal di rumah perempuan tak otomatis melanggar adat; yang penting proses, persetujuan, serta konteks.
Menelusuri indikasi TPPO dalam budaya Sumba
Menelusuri indikasi TPPO dalam praktik sosial budaya Sumba, dari perjodohan hingga perbudakan tradisional, dengan menempatkan kemanusiaan sebagai yang utama.
Gempa Flores dan Pertanyaan Teologis: Apakah Sedikitnya Korban Bukti Mukjizat?
Menarik kesimpulan bahwa jumlah korban sedikit adalah bukti bahwa Tuhan menunjukkan mukjizat merupakan cara berpikir yang keliru.
Gempa Flores dan Ironi "Bon di Kios"
Gubernur Maluku sumbang satu miliar, Gubernur Sulawesi sumbang lima ratus juta, sementara Gubernur NTT suruh masyarakat bon di kios.
Atas Nama Timor
Polemik gelar “Sesepuh Raja Timor” bukan sekadar penghormatan adat, tetapi menyangkut legitimasi, representasi, dan siapa yang berhak berbicara atas nama Timor.
Mentalitas Budak dan Perbudakan di Sumba
Tulisan ini merupakan refleksi atas pemberitaan media Prancis yang menyoroti praktik perbudakan di Sumba. Berangkat dari kegelisahan terhadap sikap sebagian masyarakat yang cenderung menganggap persoalan tersebut sebagai sesuatu yang lumrah, tulisan ini mengulas perbudakan sebagai warisan sejarah yang seharusnya telah ditinggalkan. Dengan merujuk pada Max Havelaar karya Multatuli, tulisan ini menganalisis bagaimana sistem penindasan dapat melahirkan "mentalitas budak", yakni kesadaran yang menerima ketidakadilan sebagai kewajaran. Selain mengkritik pembiaran sosial dan penggunaan budaya sebagai legitimasi perbudakan, tulisan ini juga mendorong pemerintah untuk memperkuat komitmen penghapusan perbudakan melalui kebijakan yang lebih konkret.
Pajak Global Mengubah Peta Persaingan Investasi Indonesia.
Global Minimum Tax menandai berakhirnya era "race to the bottom" dalam pajak. Bagi Indonesia, ini ujian sekaligus peluang. Tantangannya adalah memastikan reformasi pajak berjalan beriringan dengan pembangunan iklim investasi yang sehat, adil, dan berkelanjutan!.
ASN Pemda Jelata Bicara: "Cerminnya Masih Ada, Pak?"
Opini ini menanggapi stereotip tentang 'ASN malas' dengan ketimpangan realistas ASN daerah yang bermodalkan kantong pribadi.