Edisi Selasa, 20 Oktober 2026

Beranda
Alegori Gua Plato dan Kekuasaan Mutlak
Ilustrasi: Adobe Stock

Alegori Gua Plato dan Kekuasaan Mutlak

Ardhes BlandhivayArdhes Blandhivay 20 Oktober 2026 4 menit baca

Alegori Gua adalah kisah filosofis yang ditulis oleh filsuf Yunani kuno, Plato yang berbentuk percakapan antara Glaukon dan Socrates. Tahanan dikurung di dalam gua yang gelap. Mereka mendapatkan keyakinan dan berpegang teguh pada bayangan yang sudah mereka kenal. Maka, pemahaman mereka meluas, dan menyadari bahwa bayangan di dalam gua hanyalah ilusi. Ketika seorang tahanan melarikan diri dan menemukan dunia luar, awalnya kesulitan menyesuaikan diri dengan kecerahan dan kebenaran baru yang mereka temui.

Ketika seseorang tahanan tercerahkan dan kembali ke gua untuk berbagi pengetahuan baru, individu yang tercerahkan menghadapi ketidakpercayaan dan permusuhan. Para tahanan lain marah. Tidak dapat memahami apa yang dijelaskan. Mereka bangga dapat menggambarkan dan memprediksi bayangan dengan akurat, mereka menolak untuk menerima bahwa bayangan itu bukanlah kebenaran mutlak. Oleh karena itu, para tahanan menyadari bahwa tahanan yang dibebaskan itu, tidak dapat melihat dalam gelap, maka mereka menyalahkan kekurangan ini pada kepergian orang tersebut. Sejak saat itu, para tahanan menyerang dan membunuh siapapun yang mencoba membebaskan mereka.

Saya selalu ingat kisah itu. Alegori ini sangat terkenal dalam buku Republik milik Plato. Di dalam ilmu filsafat hukum, yang juga saya pelajari, alegori itu sering ditafsirkan sebagai cara melihat kebenaran politik dan konsep republikanisme yang dikaitkan dengan penguasa. Keyakinan Presiden seperti bayangan di dinding gua, perlu lebih dari satu tahanan untuk disadarkan.

Alegori ini, memberikan refleksi terhadap peran oposisi dalam negara demokrasi. Oposisi adalah tahanan yang telah dibebaskan keluar, penglihatan tahanan itu secara bertahap menyesuaikan diri dengan cahaya. Dan menjadi tahu bahwa keyakinan penguasa tidaklah mutlak. Karena ia tahu, bahwa itu bukan kebenaran. Maka dari itu, ia mencoba menjelaskan bahwa ada dunia di luar bayangan. Tidak ada kekuasaan yang mutlak, kekuasaan harus dibatasi hukum dan konstitusi. Para tahanan, yang belum pernah melihat apapun kecuali bayangan, bangga dapat menggambarkan dan memprediksi bayangan dengan akurat, mereka menolak untuk menerima.

John Dalberg-Acton mengatakan, “Power tends to corrupt. Absolute power corrupts absolutely” Oposisi lahir bukan tanpa sebab, ia hadir karena penyalahgunaan kekuasaan yang lagi-lagi dialami oleh negara ini. Menyalahgunakan kewenangan atau wewenang menjadi masalah yang tidak dapat terhindarkan. Kekuasaan memang harus dibatasi. Tidak mutlak. Jika ditelaah lebih dalam, penyalahgunaan wewenang terlihat, ketika saat menjabat. Penyalahgunaan kekuasaan, digunakan untuk kepentingan individu, kelompok atau meraih keuntungan sepihak. Ketika mereka menyadari bahwa tahanan yang dibebaskan itu, tidak dapat melihat dalam gelap, mereka menyalahkan kekurangan itu pada kepergian orang tersebut dari penahanan dan pengalamannya di dunia luar. Sejak saat itu, para tahanan menyerang dan membunuh siapapun yang mencoba membebaskan mereka. Tentunya, para tahanan yang menolak, adalah gaya kepemimpinan yang berpusat pada kekuasaan secara mutlak pada satu pemimpin atau kelompok, tanpa ruang bagi partisipasi publik dan perbedaan pendapat.

Saya mencoba memberikan argumen yang objektif, yaitu data Varieties of Democracy (V-Dem) Institute 2026, yang menyatakan bahwa Indonesia berada dalam klasifikasi rezim otokrasi elektoral, sejajar dengan sejumlah negara lain. Penyebabnya adalah pelemahan praktik demokrasi liberal, kebebasan sipil, dan kontrol oligarki. Dengan hasil tersebut, saya menguji apakah oposisi yang melemah membuat negara jatuh pada sistem otoritarianisme dan anti kritik.

Pertama, tidak adanya oposisi terhadap pemerintah, suatu hal yang baru terjadi sejak reformasi. Koalisi yang terlalu gemuk, berimbas pada pembagian jabatan kabinet tanpa meritokrasi. Disinilah, kita bisa melihat bagaimana hegemoni kekuasaan meruntuhkan fungsi oposisi sebagai check and balances. Maka pada tahun 2026, tercipta Kabinet Bayangan. Ketika fungsi itu mandek, inisiatif membentuk kabinet bayangan menjadi langkah darurat yang dicoba. Mereka ingin pemerintah memiliki sparing partner yang sepadan agar mereka lebih serius mengelola negara. Publik dapat teredukasi, mengenai bagaimana seharusnya kebijakan publik dikelola.

Kedua, respon pemerintah terhadap kabinet bayangan dengan label "antek asing" atau "londo ireng" adalah bentuk dari bagaimana para tahanan dalam alegori gua plato. Ketika mereka menolak untuk menerima bahwa bayangan, bukanlah kebenaran mutlak. Mereka menyalahkan kekurangan tahanan yang keluar. Pengalamannya di dunia luar, sama sekali tidak dianggap. Oposisi tidak lagi dilihat sebagai suatu sistem dalam negara demokrasi, tetapi ancaman atau kaum pembuat onar. Disinilah negara gagal membacanya, dan memilih untuk tetap menjadi tahanan.

Ketiga, aspirasi dan kritik yang dihasilkan oposisi, selalu menabrak menara gading. Presiden di kelilingi oleh orang-orang yang tidak kompeten. Sejak saat itu, para tahanan menyerang dan membunuh siapapun yang mencoba membebaskan mereka. Oposisi dianggap pengganggu. Lalu, dari mana mereka mempunyai hak tunggal untuk menafsirkan kebenaran mutlak soal bela negara dan nasionalisme? Karena mereka bangga dapat menggambarkan dan memprediksi bayangan dengan akurat, mereka menolak untuk menerima bahwa bayangan itu bukanlah kebenaran mutlak.

Referensi:

  1. https://geotimes.id/opini/alegori-gua-sebagai-metode-memahami-realitas/
  2. https://ff.unpar.ac.id/menguak-makna-realitas-dalam-perumpamaan-gua-plato-andreas-doweng-bolo-s-s-m-hum/
  3. https://1000wordphilosophy.com/2023/05/26/allegory-of-the-cave/
  4. https://www.kabinetbayangan.id/
  5. https://www.mediajustitia.com/berita/koalisi-masyarakat-sipil-deklarasikan-kabinet-bayangan/
  6. https://www.v-dem.net/documents/75/VDem_Institute_Democracy_Report_2026_lowres.pdf
  7. https://www.britannica.com/biography/John-Emerich-Edward-Dalberg-Acton-1st-Baron-Acton
  8. https://dandapala.com/article/detail/korupsi-dan-kekuasaan
  9. https://www.gutenberg.org/ebooks/31278
Ardhes Blandhivay

Ditulis Oleh Ardhes Blandhivay

6

Diskusi

0 komentar aktif dari pembaca dan penulis komunitas.

0 komentar

Ikut berdiskusi

Tambahkan komentar, balas thread, atau kelola komentar Anda sendiri.

Anda perlu login untuk mengirim komentar, membalas, atau mengelola komentar sendiri.

Belum ada diskusi.

Jadilah orang pertama yang memulai percakapan untuk berita ini.

Bacaan Terkait

Berita lain yang layak dibaca setelah ini

Sejarah Kelam 30 September: Forgive but Never Forget
#Esai

Sejarah Kelam 30 September: Forgive but Never Forget

Peristriwa 65, sangat menakutkan bagi para saksi mata.  Ada penangkapan sejumlah orang tanpa proses pengadilan yang terbuka dan fair

30 September 2026 Martha Hebi
Membaca Ulang Substansi Perubahan Undang-Undang Polri di Balik Bayangan Otoritarianisme
#Analisis

Membaca Ulang Substansi Perubahan Undang-Undang Polri di Balik Bayangan Otoritarianisme

Substansi dalam Undang-Undang Polri baru mengatur penempatan anggota Polri diluar organisasi kepolisian dengan mengacu pada putusan Mahkamah Konstitusi.

30 September 2026 Ardhes Blandhivay
Ada Apa dengan RUU Perampasan Aset?
#Politik

Ada Apa dengan RUU Perampasan Aset?

Kita harus melihat tujuan RUU ini sangat baik, tapi kita tetap tidak boleh lengah agar RUU ini tidak melenceng dari tujuan awalnya.

27 September 2026 Ardhes Blandhivay
Demokrasi Tanpa Republik: Fondasi Konstitusional di Indonesia
#Analisis

Demokrasi Tanpa Republik: Fondasi Konstitusional di Indonesia

Tulisan ini membahas kemunduran demokrasi, lemahnya fondasi republikanisme dan supremasi hukum, serta perlunya membangun kembali karakter politik warga negara

19 September 2026 Ardhes Blandhivay
Membaca Koperasi Merah Putih Berdasarkan Buku The Middleman Economy Karya Marina Krakovsky
#Analisis

Membaca Koperasi Merah Putih Berdasarkan Buku The Middleman Economy Karya Marina Krakovsky

KDMP dikritik sebagai desain intermediasi yang gagal: dibentuk dari atas, berisiko menambah birokrasi, menggusur warung kecil, dan tidak memenuhi enam pilar makelar bernilai.

31 Agustus 2026 Ardhes Blandhivay
Cara Pandang yang Berbeda: Indonesia dan Militerisme yang Kembali Bangkit
#Politik

Cara Pandang yang Berbeda: Indonesia dan Militerisme yang Kembali Bangkit

Anggaran pertahanan melonjak signifikan dalam dua tahun terakhir, sementara mekanisme pengawasan legislatif atas belanja tersebut lemah secara struktural.

25 Agustus 2026 Ardhes Blandhivay
Swasembada Pangan: Keniscayaan atau Retorika Politik?
#Politik

Swasembada Pangan: Keniscayaan atau Retorika Politik?

Sebuah ironi swasembada pangan di negeri penuh retorika

17 Agustus 2026 Ardhes Blandhivay
Bagaimana Cara Melihat Krisis Dunia Menurut Haemin Sunim  dalam Buku  "The Things You Can See Only When You Slow Down"
#Rekomendasi Bacaan/Tontonan

Bagaimana Cara Melihat Krisis Dunia Menurut Haemin Sunim dalam Buku "The Things You Can See Only When You Slow Down"

17 Agustus 2026 Ardhes Blandhivay
Alor dan Narasi Penyelamat dari Jakarta
#Esai

Alor dan Narasi Penyelamat dari Jakarta

Esai ini mengkritik kebijakan pertanian sentralistik di Kabupaten Alor dengan meminjam kacamata pedagogi kritis Paulo Freire.

13 Agustus 2026 Rain