
Mengenal Papanggang, Tradisi Unik di Sumba Timur
Dalam kepercayaan Marapu, kematian dipandang sebagai tahap penting dalam perjalanan hidup manusia menuju kebahagiaan sejati di alam arwah. Bagi masyarakat Sumba Timur, bahkan masyarakat Sumba pada umumnya
Dalam kepercayaan Marapu, kematian dipandang sebagai tahap penting dalam perjalanan hidup manusia menuju kebahagiaan sejati di alam arwah. Bagi masyarakat Sumba Timur, bahkan masyarakat Sumba pada umumnya, keyakinan warisan leluhur ini masih tetap hidup dan dijaga hingga sekarang. Walaupun sebagian besar masyarakat telah memeluk agama Kristen, baik Protestan maupun Katolik, tradisi dan tata cara adat Marapu tetap menjadi bagian penting dalam prosesi pemakaman.
Pelaksanaan upacara kematian dilakukan dengan beragam bentuk. Ada keluarga yang menyelenggarakannya secara sederhana, namun tidak sedikit pula yang mengadakan upacara besar dan meriah dengan memotong puluhan hingga ratusan ekor hewan serta menghadirkan rombongan adat dari berbagai kampung. Besar kecilnya seremoni biasanya dipengaruhi oleh kedudukan sosial dan kemampuan ekonomi keluarga yang berduka. Dalam budaya Sumba, tata upacara pemakaman bagi kaum bangsawan atau keturunan raja tentu berbeda dengan masyarakat biasa atau hamba. Jika yang meninggal dunia keturunan bangsawan atau raja, apalagi ekonomi sanak keluarga tergolong mampu, maka tata upacaranya betul-betul spektakuler. Meriah, gegap gempita.
Prestise keluarga dipertaruhkan. Sebelum kedatangan agama-agama dunia ke Pulau Sumba, seluruh warga pulau ini menganut agama Marapu, yaitu agama lokal dengan basis pemujaan terhadap leluhur. Lambat laun agama Kristen dan Katolik menggeser agama lokal ini, kendati pengaruh Marapu terhadap sistem sosial dan kultural masyarakat Sumba masih bertahan hingga sekarang. Agama inilah yang mendasari stratifikasi sosial dari kaum bangsawan (maramba), orang bebas (kabihu), dan hamba (ata). Agama ini pula yang melahirkan berbagai ritual adat seperti tradisi salah satunya adalah upacara penguburan orang mati. Salah satu momen yang menarik perhatian ketika acara pengebumian almarhum Lukas Mbadi Kaborang, mantan Bupati Sumba Timur periode 1994-1999, adalah adanya mengiring jenazah, yang biasa disebut sebagai Papanggangu.
Dalam konteks budaya masyarakat Sumba Timur, Papanggang merujuk pada kelompok pelayan, pengiring setia, atau orang yang pada zaman dahulu memiliki status sebagai hamba dalam sistem pelapisan sosial feodal suku Sumba yang turut serta mengiringi jenazah tuannya ke liang lahat. Para papanggang berkewajiban merawat roh orang yang meninggal yang dianggap masih berada di sekitar jenazah dengan cara mempersembahkan makanan, sirih pinang, dan juga kurban ayam atau babi. Dalam acara penguburan, setelah acara seremonial berupa sambutan dan ungkapan rasa hati dari keluarga dan semua saja yang berkepentingan, upacara penguburan dimulai. Seekor kerbau lantas dikurbankan sebagai persembahan untuk upacara menghias para papanggang yang akan mengawal jenazah menuju liang kubur. Jenazah didampingi sepasang papanggang, laki-laki dan perempuan.
Mereka dipilih dari kaum hamba yang dianggap paling setia dan disayang oleh tuannya ketika masih hidup. Para papanggang dihias dengan memakai baju, kain panjang, serta ikat kepala. Mereka juga memakai hiasan kepala berwarna emas berbentuk bulan sabit yang disebut lamba kalitinjara, serta kalung dan gelang kaki dari bahan manik-manik. Biasanya, para papanggang ini terdiri dari 4 orang, yang masing-masing 2 orang laki-laki dan 2 orang perempuan. Sebagai pendamping jenazah, para papanggang memiliki tugas yang berbeda-beda. Papanggang laki-laki pertama yang bertugas menunggang kuda memakai lamba kalitinjara. Papanggang laki-laki kedua, yang disebut lilawiki, tugasnya membawa ayam, sebagai penanda waktu karena ayam biasa berkokok ketika terbit dan terbenamnya matahari. Dalam ritual penguburan jenazah maramba yang juga adalah marapu, proses memasukkan jenazah ke liang kubur tidak boleh melampaui terbenamnya matahari, karena saat itulah arwah mulai menuju parai Marapu. Papanggang ketiga adalah perempuan, yang disebut tidung tubu. Ia memakai topi pelindung. Papanggang perempuan keempat adalah pemegang kapur atau yutu kappu, bertugas membawa pahappa (sirih pinang).
Setelah papanggang selesai dihias dengan pakaian yang indah, seekor kerbau atau seekor kuda dipotong sebagai kurban. Kerbau dan kuda yang dikurbankan diberi tanda berupa ikatan kain merah pada tanduk, ekor, atau kaki. Setiap hewan yang akan disembelih dicancang dengan tali pada kedua sisinya dengan posisi berdiri, di mana setiap sisi dipegang kuat oleh beberapa laki-laki. Seorang laki-laki, sebagai tanggu tobung kemudian mengayunkan parang dari arah bawah leher hewan tersebut. Usai penyembelihan hewan kurban, kemudian disiapkan empat kuda yang akan dinaiki oleh para papanggang. Di atas punggung kuda diletakkan lapisan kain panjang (hinggi) yang diikat dengan kain merah sebagai alas duduk atau pelana.
Jenazah dikawal dengan satu kuda yang dinaiki oleh papanggang laki-laki yang mengenakan perhiasan lamba kalitinjara, kemudian diiringi oleh ketiga papanggang yang lain. Dalam iringan ini, satu atau beberapa papanggang biasanya kerasukan (trance), sehingga harus dipapah. Apabila para papanggang dan segala perlengkapan kubur batu telah siap, maka jenazah kemudian diturunkan dan digotong menggunakan tandu ke tempat pekuburan. Dulu, ketika seorang raja atau bangsawan meninggal, papanggang atau hamba yang setia kerap dikuburkan bersama jenazah majikannya untuk melayani mereka di alam baka. Itu adalah cerita turun-temurun yang diperdengarkan pada anak-cucu orang Sumba. Namun, tradisi ini tidak lagi berlaku demikian. Meski demikian, beberapa tetap melaksanakannya, dengan menyesuaikan perubahan zaman.
.
Diskusi
0 komentar aktif dari pembaca dan kontributor komunitas.
Ikut berdiskusi
Tambahkan komentar, balas thread, atau kelola komentar Anda sendiri.
Anda perlu login untuk mengirim komentar, membalas, atau mengelola komentar sendiri.
Belum ada diskusi.
Jadilah orang pertama yang memulai percakapan untuk berita ini.
Bacaan Terkait
Berita lain yang layak dibaca setelah ini
Ruang Damai Rayakan Lima Tahun Perjalanan Lewat Bermuara 2026
Ruang Damai merayakan lima tahun perjalanan melalui Bermuara 2026, ruang dialog keberagaman untuk menjaga harapan dan menenun perubahan.
Maskot ETMC XXXV Flores Timur 2026 Tuai Polemik, Penggunaan AI dalam Proses Desain Jadi Sorotan
Peluncuran maskot resmi El Tari Memorial Cup (ETMC) XXXV Flores Timur 2026 yang diberi nama Si Boli memicu perdebatan di tengah masyarakat. Polemik muncul setelah pemenang sayembara, Tarwan Stanislaus, mengakui bahwa proses perancangan maskot tersebut melibatkan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) sebagai alat bantu pada tahap awal.
Breaking News! Rektor Unkriswina Sumba Pecat Tidak Dengan Hormat Oknum Dosen Terduga Pelaku Kekerasan Seksual
Universitas Kristen Wira Wacana (UNKRISWINA) Sumba resmi memberhentikan tidak dengan hormat seorang dosen tetap berinisial RAL yang diduga melakukan kekerasan seksual terhadap seorang mahasiswi berinisial. Keputusan tersebut mulai berlaku pada Rabu (1/7/2026) dan diumumkan dalam konferensi pers yang digelar pimpinan universitas di Kampus UNKRISWINA Sumba, Waingapu, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur.
Agnez Monica Harus Belajar Manajemen Waktu dari Arni Wolla
Kalau kalian adalah orang Sumba dan mengikuti perseteruan Arni Wolla dengan seorang pemilik studio yang juga orang Sumba yang menetap di Bali dan telah malang melintang di dunia permusikan tentang lagu pertama Arni Wolla, kalian pasti tidak percaya bahwa seorang Arni Wolla bahkan keluar sebagai seorang jenius.
GKII Kamangi Juara Turnamen Voli 75 Tahun Paroki Sang Penebus Waingapu, Taklukkan OMK Wara Lewat Lima Set Dramatis
OMK Wara membuka pertandingan dengan meyakinkan. Meski kedua tim saling kejar-mengejar angka, tipuan dari Yeri dan permainan kolektif yang solid membuat OMK Wara mampu membalikkan keadaan setelah sempat tertinggal. Tidak menyerah, GKII Kamangi bangkit pada set ketiga. Setelah tertinggal cukup jauh 6-12, tim asal Kamangi tersebut perlahan mengejar ketertinggalan dan memanfaatkan beberapa kesalahan lawan. Mereka sukses membalikkan keadaan dan menutup set dengan skor 25-21.
Piala Dunia 2026: Messi dan Ronaldo yang Main Bola, Fanboy Indonesia yang Bertingkah Seperti Korban Perang
Kita mungkin tidak lahir di Rosario, Argentina, atau Madeira, Portugal. Tetapi entah bagaimana, sebagian orang membela Messi atau Ronaldo seolah-olah mereka adalah pahlawan nasional yang harga dirinya melekat pada kehormatan keluarga.
Guru Mengadu ke MK: Polisi Punya Dapur MBG, TNI Punya Dapur MBG, DPR Juga Punya, Kepada Siapa Kami Mengadu?
Sejumlah guru yang menggugat Undang-Undang APBN Tahun Anggaran 2026 di Mahkamah Konstitusi (MK) mengaku tidak memiliki saluran pengaduan lain terkait dampak Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Mereka bahkan menyebut keterlibatan berbagai pihak dalam pengelolaan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) membuat Mahkamah Konstitusi menjadi tempat terakhir untuk mencari keadilan.
145 Tahun Injil Masuk Sumba: Melolo Kembali Menjadi Saksi Sejarah Kekristenan di Pulau Sumba
Sejarah masuknya Injil di Sumba dimulai pada 9 Juni 1881. Pada hari itu, Pendeta J.J. van Alphen, seorang zendeling dari Nederlandsch Gereformeerde Zendings Vereniging (NGZV) atau Perhimpunan Zending Gereformeerde Belanda, mendarat di Waingapu. Kedatangannya menandai dimulainya pelayanan zending secara resmi di Pulau Sumba. Namun, sejarah tersebut sesungguhnya berakar lebih jauh dari sekadar kedatangan seorang misionaris.
Gawat! Di NTT, Ada Sekolah Dasar yang Digusur demi Koperasi Merah Putih
Kasus penggusuran sebagian area SD Negeri Wolomoni di Desa Niowula, Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende, menjadi potret buram bagaimana pembangunan di tingkat desa sering kali berjalan tanpa arah yang jelas. Sangat ironis ketika ruang pendidikan anak-anak harus dikorbankan demi pembangunan fisik Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih.