Edisi Selasa, 28 Juli 2026

Beranda
Kembali ke Beranda
145 Tahun Injil Masuk Sumba: Melolo Kembali Menjadi Saksi Sejarah Kekristenan di Pulau Sumba
Wereldmuseum Amsterdam/Enhance HD with AI

145 Tahun Injil Masuk Sumba: Melolo Kembali Menjadi Saksi Sejarah Kekristenan di Pulau Sumba

Sejarah masuknya Injil di Sumba dimulai pada 9 Juni 1881. Pada hari itu, Pendeta J.J. van Alphen, seorang zendeling dari Nederlandsch Gereformeerde Zendings Vereniging (NGZV) atau Perhimpunan Zending Gereformeerde Belanda, mendarat di Waingapu. Kedatangannya menandai dimulainya pelayanan zending secara resmi di Pulau Sumba. Namun, sejarah tersebut sesungguhnya berakar lebih jauh dari sekadar kedatangan seorang misionaris.

Redaksi NdonguRedaksi Ndongu 9 Juni 2026 6 menit baca
107
145 Tahun Injil Masuk Sumba: Melolo Kembali Menjadi Saksi Sejarah Kekristenan di Pulau Sumba

9 Juni 2026

Humba

145 Tahun Injil Masuk Sumba: Melolo Kembali Menjadi Saksi Sejarah Kekristenan di Pulau Sumba

Oleh: Redaksi Ndongu

Suara puji-pujian menggema di Melolo, Sumba Timur, Selasa (9/6/2026). Ribuan umat Kristen berkumpul di halaman Pastori GKS Melolo untuk memperingati 145 tahun masuknya Injil di Pulau Sumba. Perayaan yang turut dihadiri Bupati Sumba Timur, Umbu Lili Pekuwali, hadir bersama Sekretaris Daerah, pimpinan OPD, tokoh gereja, para pendeta, dan jemaat yang datang dari berbagai kabupaten. Wakil Bupati Sumba Tengah Marthinus Umbu Djoka juga tampak mengikuti ibadah syukur yang tahun ini mengusung tema "Kobarkan Api Injil", diambil dari Mazmur 96:3, merupakan sebuah momen untuk mengenang perjalanan panjang pekabaran Injil yang telah membentuk wajah Sumba hingga hari ini.

Bagi banyak orang, sejarah masuknya Injil di Sumba dimulai pada 9 Juni 1881. Pada hari itu, Pendeta J.J. van Alphen, seorang zendeling dari Nederlandsch Gereformeerde Zendings Vereniging (NGZV) atau Perhimpunan Zending Gereformeerde Belanda, mendarat di Waingapu. Kedatangannya menandai dimulainya pelayanan zending secara resmi di Pulau Sumba. Namun, sejarah tersebut sesungguhnya berakar lebih jauh dari sekadar kedatangan seorang misionaris.

Sebelum Van Alphen tiba, benih-benih kekristenan telah lebih dahulu hadir melalui masyarakat Sabu yang bermigrasi ke Sumba pada abad ke-19. Migrasi masyarakat Sabu ke Melolo dan Kambaniru berlangsung sejak tahun 1838 dan berlanjut pada tahun 1862. Sebagian besar dari mereka telah memeluk agama Kristen. Kehadiran komunitas ini menjadi perjumpaan awal masyarakat Sumba dengan ajaran Kristen. Perpindahan penduduk tersebut tidak terlepas dari kebijakan pemerintah kolonial Belanda yang saat itu berupaya menekan praktik perdagangan budak yang masih marak terjadi di kawasan timur Nusantara. Hubungan antara Sumba dan Sabu sendiri telah terjalin jauh sebelum masa kolonial. Dalam tradisi masyarakat setempat dikenal kisah leluhur Humba Meha dan Hawu Meha yang dipercaya memiliki hubungan kekerabatan. Relasi historis dan budaya itu menjadi jembatan yang mempertemukan kedua pulau selama berabad-abad.

Pada pertengahan abad ke-19, Pulau Sumba masih dikenal sebagai wilayah yang kerap dilanda konflik antarsuku, pencurian ternak, dan perdagangan budak. Residen Timor Isaac Esser melihat kondisi tersebut sebagai persoalan serius. Karena keterbatasan aparat pemerintah kolonial, ia meminta NGZV mengirimkan misionaris ke Sumba. Harapannya, melalui pendidikan, pelayanan sosial, dan pemberitaan Injil, kehidupan masyarakat dapat mengalami perubahan. Permintaan itu kemudian membuka jalan bagi hadirnya para penginjil di Pulau Sumba.

Empat tahun sebelum Van Alphen tiba, pelayanan Kristen sebenarnya telah berlangsung. Pada tahun 1877, Pendeta M. Teffer yang bertugas di Pulau Sabu mulai melayani komunitas Kristen di Melolo dan Kambaniru. Untuk membantu pelayanan tersebut, ia menugaskan dua guru jemaat asal Ambon, yakni David Hutuhuli di Melolo dan Eduard Thenu di Kambaniru. Keduanya melayani masyarakat Sabu yang telah menetap di Sumba dan menjadi pelopor pelayanan gereja di wilayah tersebut. Ketika Van Alphen tiba pada 1881, ia membuat kesepakatan dengan Pendeta Teffer. Pelayanan kepada masyarakat Sumba menjadi tanggung jawab Van Alphen, sedangkan komunitas Sabu tetap dilayani oleh Teffer.

Setelah mendarat di Waingapu pada 9 Juni 1881, Van Alphen sempat kembali ke Kupang untuk melakukan koordinasi dengan pemerintah kolonial. Dua bulan kemudian, tepatnya pada 5 September 1881, ia kembali bersama istrinya dan menetap di Melolo yang saat itu menjadi pusat kegiatan zending di Sumba. Melolo menjadi titik awal pelayanan Injil kepada masyarakat Sumba. Dari wilayah inilah berbagai upaya penginjilan, pendidikan, dan pelayanan sosial mulai dilakukan. Namun, perjalanan itu tidak selalu mudah.

Pada tahun 1883, istri Van Alphen meninggal dunia saat melahirkan. Bayi yang dikandungnya juga tidak dapat diselamatkan. Duka mendalam membuat Van Alphen meninggalkan Sumba dan tinggal selama beberapa tahun di Salatiga, Jawa Tengah. Setelah menikah kembali, ia kembali ke Sumba pada tahun 1886 untuk melanjutkan pelayanan yang sempat terhenti.

Seiring waktu, para misionaris lain mulai berdatangan ke Sumba. Pendeta Willem Pos tiba pada tahun 1890 dan melayani di Melolo. Ia mendirikan sekolah rakyat dan menjadi salah satu tokoh penting dalam pengembangan pendidikan. Dua tahun kemudian, Pendeta Cornelis de Bruijn menyusul dan ditempatkan di Kambaniru. Pada tahun yang sama, Willem Pos membaptis empat orang Sumba di Kambaniru. Peristiwa itu menjadi salah satu baptisan awal masyarakat asli Sumba yang tercatat dalam sejarah gereja.

Meski demikian, perkembangan kekristenan pada masa awal berlangsung lambat. Hingga tahun 1893 jumlah orang Kristen di Sumba baru mencapai sekitar 303 orang. Perkembangan yang lebih besar terjadi setelah kedatangan Pendeta Douwe Klaas Wielenga pada tahun 1904. Wielenga bukan hanya seorang pendeta, tetapi juga memiliki pengetahuan medis. Ia membuka klinik kesehatan sederhana dan aktif membangun pelayanan pendidikan.

Pada tahun 1907, ia merintis Pos Penginjilan Payeti yang kemudian berkembang menjadi salah satu pusat pelayanan Gereja Kristen Sumba. Sekolah-sekolah didirikan di berbagai wilayah. Pelayanan kesehatan pun semakin berkembang hingga menjadi cikal bakal sejumlah fasilitas kesehatan yang dikenal masyarakat Sumba hingga sekarang. Melalui pendidikan dan pelayanan kesehatan, Injil diperkenalkan bukan hanya lewat khotbah, tetapi juga melalui tindakan nyata yang menjawab kebutuhan masyarakat.

Salah satu tonggak penting terjadi pada tahun 1916 ketika Jemaat Kambaniru resmi berdiri sebagai gereja mandiri. Pada saat itu ditahbiskan penatua dan diaken untuk pertama kalinya. Awalnya jemaat tersebut masih didominasi komunitas Kristen asal Sabu. Namun seiring waktu semakin banyak masyarakat Sumba yang menerima Injil. Pada tahun 1937, jemaat Sumba di Kambaniru berdiri sendiri dan dipimpin oleh orang-orang Sumba. Peristiwa itu menunjukkan bahwa Injil telah berakar dalam kehidupan masyarakat lokal.

Perjalanan gereja kembali diuji ketika Jepang menduduki Sumba pada tahun 1942. Para misionaris Belanda ditangkap dan dibawa keluar daerah. Sebelum penangkapan itu terjadi, mereka mengambil langkah penting dengan menahbiskan guru-guru Injil lokal menjadi pendeta. Guru Injil Hapu Mbay ditahbiskan pada 3 Maret 1942, disusul Herman Malo beberapa hari kemudian. Mereka menjadi pendeta pribumi pertama yang memimpin gereja di tengah situasi perang. Namun, masa itu juga menyisakan luka. Hapu Mbay kemudian ditangkap dan dieksekusi oleh tentara Jepang pada tahun 1945. Hingga kini lokasi makamnya belum diketahui.

Lima tahun setelah berakhirnya pendudukan Jepang, tepatnya pada 15 Januari 1947, Gereja Kristen Sumba (GKS) resmi berdiri sebagai sinode yang mandiri. Sejak saat itu, tongkat estafet pelayanan sepenuhnya berada di tangan putra-putri Sumba sendiri. Kini, setelah 145 tahun berlalu sejak kedatangan Van Alphen di Waingapu, jejak pelayanan para perintis itu masih dapat dirasakan. Gereja-gereja berdiri di berbagai pelosok pulau. Sekolah dan fasilitas kesehatan berkembang. Ribuan orang bertumbuh dalam iman dan pendidikan. Karena itu, peringatan 145 Tahun Injil Masuk Sumba merupakan ungkapan syukur atas perjalanan panjang iman yang telah membentuk masyarakat Sumba dari generasi ke generasi.

Seratus empat puluh lima tahun setelah Van Alphen pertama kali tiba di Waingapu, wajah kekristenan di Sumba telah berubah jauh. Gereja berdiri di berbagai wilayah, dari pesisir hingga pedalaman. Sekolah, rumah sakit, dan berbagai lembaga pelayanan yang lahir dari pekerjaan zending masih melayani masyarakat hingga hari ini. Nama-nama seperti M. Teffer, J.J. van Alphen, Willem Pos, Cornelis de Bruijn, Douwe Klaas Wielenga, Hapu Mbay, Herman Malo, dan banyak tokoh lainnya tetap menjadi bagian dari sejarah panjang itu.

Melolo yang dahulu menjadi salah satu pusat awal pekabaran Injil kembali menjadi tempat peringatan 145 tahun Injil masuk Sumba. Di wilayah inilah jejak-jejak awal pelayanan itu masih dikenang, sementara generasi sekarang melanjutkan kisah yang telah dimulai sejak abad ke-19. Sejarah itu masih terus berjalan hingga hari ini.

Diskusi

0 komentar aktif dari pembaca dan kontributor komunitas.

0 komentar

Ikut berdiskusi

Tambahkan komentar, balas thread, atau kelola komentar Anda sendiri.

Anda perlu login untuk mengirim komentar, membalas, atau mengelola komentar sendiri.

Belum ada diskusi.

Jadilah orang pertama yang memulai percakapan untuk berita ini.

Bacaan Terkait

Berita lain yang layak dibaca setelah ini

Maskot ETMC XXXV Flores Timur 2026 Tuai Polemik, Penggunaan AI dalam Proses Desain Jadi Sorotan
#Daerah

Maskot ETMC XXXV Flores Timur 2026 Tuai Polemik, Penggunaan AI dalam Proses Desain Jadi Sorotan

Peluncuran maskot resmi El Tari Memorial Cup (ETMC) XXXV Flores Timur 2026 yang diberi nama Si Boli memicu perdebatan di tengah masyarakat. Polemik muncul setelah pemenang sayembara, Tarwan Stanislaus, mengakui bahwa proses perancangan maskot tersebut melibatkan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) sebagai alat bantu pada tahap awal.

6 Juli 2026 Redaksi Ndongu
Breaking News! Rektor Unkriswina Sumba Pecat Tidak Dengan Hormat Oknum Dosen Terduga Pelaku Kekerasan Seksual
#Daerah

Breaking News! Rektor Unkriswina Sumba Pecat Tidak Dengan Hormat Oknum Dosen Terduga Pelaku Kekerasan Seksual

Universitas Kristen Wira Wacana (UNKRISWINA) Sumba resmi memberhentikan tidak dengan hormat seorang dosen tetap berinisial RAL yang diduga melakukan kekerasan seksual terhadap seorang mahasiswi berinisial. Keputusan tersebut mulai berlaku pada Rabu (1/7/2026) dan diumumkan dalam konferensi pers yang digelar pimpinan universitas di Kampus UNKRISWINA Sumba, Waingapu, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur.

1 Juli 2026 Redaksi Ndongu
Agnez Monica Harus Belajar Manajemen Waktu dari Arni Wolla
#Opini

Agnez Monica Harus Belajar Manajemen Waktu dari Arni Wolla

Kalau kalian adalah orang Sumba dan mengikuti perseteruan Arni Wolla dengan seorang pemilik studio yang juga orang Sumba yang menetap di Bali dan telah malang melintang di dunia permusikan tentang lagu pertama Arni Wolla, kalian pasti tidak percaya bahwa seorang Arni Wolla bahkan keluar sebagai seorang jenius.

27 Juni 2026 Redaksi Ndongu
GKII Kamangi Juara Turnamen Voli 75 Tahun Paroki Sang Penebus Waingapu, Taklukkan OMK Wara Lewat Lima Set Dramatis
#Olahraga

GKII Kamangi Juara Turnamen Voli 75 Tahun Paroki Sang Penebus Waingapu, Taklukkan OMK Wara Lewat Lima Set Dramatis

OMK Wara membuka pertandingan dengan meyakinkan. Meski kedua tim saling kejar-mengejar angka, tipuan dari Yeri dan permainan kolektif yang solid membuat OMK Wara mampu membalikkan keadaan setelah sempat tertinggal. Tidak menyerah, GKII Kamangi bangkit pada set ketiga. Setelah tertinggal cukup jauh 6-12, tim asal Kamangi tersebut perlahan mengejar ketertinggalan dan memanfaatkan beberapa kesalahan lawan. Mereka sukses membalikkan keadaan dan menutup set dengan skor 25-21.

23 Juni 2026 Redaksi Ndongu
Piala Dunia 2026: Messi dan Ronaldo yang Main Bola, Fanboy Indonesia yang Bertingkah Seperti Korban Perang
#Olahraga

Piala Dunia 2026: Messi dan Ronaldo yang Main Bola, Fanboy Indonesia yang Bertingkah Seperti Korban Perang

Kita mungkin tidak lahir di Rosario, Argentina, atau Madeira, Portugal. Tetapi entah bagaimana, sebagian orang membela Messi atau Ronaldo seolah-olah mereka adalah pahlawan nasional yang harga dirinya melekat pada kehormatan keluarga.

18 Juni 2026 Redaksi Ndongu
Guru Mengadu ke MK: Polisi Punya Dapur MBG, TNI Punya Dapur MBG, DPR Juga Punya, Kepada Siapa Kami Mengadu?
#Pendidikan

Guru Mengadu ke MK: Polisi Punya Dapur MBG, TNI Punya Dapur MBG, DPR Juga Punya, Kepada Siapa Kami Mengadu?

Sejumlah guru yang menggugat Undang-Undang APBN Tahun Anggaran 2026 di Mahkamah Konstitusi (MK) mengaku tidak memiliki saluran pengaduan lain terkait dampak Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Mereka bahkan menyebut keterlibatan berbagai pihak dalam pengelolaan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) membuat Mahkamah Konstitusi menjadi tempat terakhir untuk mencari keadilan.

16 Juni 2026 Redaksi Ndongu
Gawat! Di NTT, Ada Sekolah Dasar yang Digusur demi Koperasi Merah Putih
#Pendidikan

Gawat! Di NTT, Ada Sekolah Dasar yang Digusur demi Koperasi Merah Putih

Kasus penggusuran sebagian area SD Negeri Wolomoni di Desa Niowula, Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende, menjadi potret buram bagaimana pembangunan di tingkat desa sering kali berjalan tanpa arah yang jelas. Sangat ironis ketika ruang pendidikan anak-anak harus dikorbankan demi pembangunan fisik Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih.

9 Juni 2026 Redaksi Ndongu
Temui Korban Pelecehan, Paus Leo XIV Tegur Keras 100 Uskup Spanyol: Ini Malapetaka!
#Internasional

Temui Korban Pelecehan, Paus Leo XIV Tegur Keras 100 Uskup Spanyol: Ini Malapetaka!

Selama percakapan yang berlangsung hampir satu jam, para korban membagikan pengalaman pribadi mereka yang menyakitkan. Mereka juga memberikan masukan langsung kepada Paus mengenai langkah-langkah efektif yang harus diambil oleh Gereja di masa depan.

8 Juni 2026 Redaksi Ndongu
Pastor Felix Baghi Serukan DPRD Lindungi Hak Rakyat: Negara Jangan Jadi Perantara Oligarki
#Daerah

Pastor Felix Baghi Serukan DPRD Lindungi Hak Rakyat: Negara Jangan Jadi Perantara Oligarki

Ratusan warga yang tergabung dalam Forum Komunikasi Masyarakat Sipil (FORKASI) menggelar aksi unjuk rasa di Kabupaten Nagekeo, Flores, Nusa Tenggara Timur, bertepatan dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Jumat (5/6/2026).

8 Juni 2026 Redaksi Ndongu