Edisi Senin, 3 Agustus 2026

Beranda
Kembali ke Beranda
Piala Dunia 2026: Messi dan Ronaldo yang Main Bola, Fanboy Indonesia yang Bertingkah Seperti Korban Perang
Picture made by AI

Piala Dunia 2026: Messi dan Ronaldo yang Main Bola, Fanboy Indonesia yang Bertingkah Seperti Korban Perang

Kita mungkin tidak lahir di Rosario, Argentina, atau Madeira, Portugal. Tetapi entah bagaimana, sebagian orang membela Messi atau Ronaldo seolah-olah mereka adalah pahlawan nasional yang harga dirinya melekat pada kehormatan keluarga.

Redaksi NdonguRedaksi Ndongu 18 Juni 2026 4 menit baca
88

Piala Dunia 2026 yang digelar megah di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko selalu berhasil menyihir miliaran pasang mata. Sayangnya, ada satu hal yang jauh lebih konsisten ketimbang sepak bola itu sendiri, yakni panggung sirkus tahunan dari para pemuja fanatik Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo. Dunia mungkin sedang menikmati turnamen terbesar sepanjang sejarah dengan 48 tim dan 104 pertandingan. Namun, bagi sebagian pasukan garis keras kedua dewa lapangan hijau tersebut, pesta akbar ini tak lebih dari arena untuk melanjutkan perang suci yang sebenarnya sudah berlangsung hampir dua dekade.

Di Indonesia, fenomena ini bahkan punya warna tersendiri. Kita mungkin tidak lahir di Rosario, Argentina, atau Madeira, Portugal. Tetapi entah bagaimana, sebagian orang membela Messi atau Ronaldo seolah-olah mereka adalah pahlawan nasional yang harga dirinya melekat pada kehormatan keluarga.

Bagi kaum pemuja Cristiano, Piala Dunia edisi ini tampaknya menjadi validasi instan bahwa sang idola adalah manusia setengah dewa yang tak pernah menua. Jika Portugal menang, itu murni karena kepemimpinan dan aura Cristiano. Tetapi jika Portugal kalah, maka pelatihnya salah, rekan setimnya tidak berguna, wasitnya tidak adil, bahkan rumput stadion pun seolah ikut bersalah. Di sisi lain, para pengikut Lionel Messi pun tak kalah menggelitik. Trofi Piala Dunia yang diraih Argentina di Qatar 2022 ternyata bukan akhir dari perdebatan, melainkan bahan bakar baru. Gelar juara dunia itu diperlakukan seperti ayat suci yang mengakhiri seluruh diskusi sepak bola. Siapa pun yang masih mengagumi pemain lain dianggap sesat dari jalan kebenaran.

Kekonyolan mereka mencapai puncaknya di dunia maya Indonesia. Facebook berubah menjadi medan perang. TikTok dipenuhi video perbandingan yang diambil dari akun-akun luar negeri. Kolom komentar Instagram menjadi arena gladiator digital. Grup WhatsApp keluarga mendadak seperti studio analisis sepak bola profesional. Bahkan warung kopi di kampung-kampung yang tidak pernah sekalipun menginjak stadion internasional, bisa berubah menjadi ruang sidang yang membahas jumlah Ballon d'Or, assist, expected goals, hingga gol penalti dengan penuh emosi.

Jari-jari mereka seakan dirasuki roh analis taktik kelas dunia. Mereka sibuk membandingkan statistik yang bahkan mungkin tidak dipedulikan oleh Messi dan Ronaldo sendiri. Jumlah gol penalti dihitung dengan teliti. Rasio assist dibedah sampai ke liga-liga yang tak pernah mereka tonton. Semua dilakukan dengan semangat luar biasa demi membela miliarder yang bahkan tidak tahu nama mereka. Yang lebih lucu, fanatisme itu sering kali melampaui batas kewarasan. Ada yang memutuskan pertemanan, memblokir saudara, keluar dari grup WhatsApp, bahkan saling menghina hanya karena berbeda pandangan soal siapa GOAT yang sesungguhnya.

Ironisnya, Messi dan Ronaldo sendiri justru berkali-kali menunjukkan rasa hormat satu sama lain. Mereka saling memuji, bercanda bersama dalam iklan, dan menikmati masa senja karier dengan tenang. Tetapi para penggemar garis keras mereka justru bertindak seolah sedang memimpin perang salib modern. Dan seperti biasa, teori konspirasi pun bermunculan. Jika Argentina bermain buruk, itu pasti karena FIFA punya agenda tertentu. Jika Portugal tersingkir, pasti ada skenario jahat media global. Seolah-olah organisasi sepak bola dunia tidak memiliki pekerjaan lain selain mengatur nasib satu pemain.

Yang lebih ironis lagi, banyak di antara mereka yang lebih hafal statistik Messi dan Ronaldo daripada statistik Timnas Indonesia sendiri. Eh, tapi emang bener Timnas Indonesia punya statistik moncer? Mereka hafal jumlah Ballon d'Or, jumlah assist, dan jumlah gol dari titik penalti, tetapi lupa kapan terakhir Indonesia bermain di Piala Dunia, karena memang belum pernah, sih. Hiks hiks hiks.

Piala Dunia 2026 sejatinya adalah panggung bagi para pemain muda, negara-negara kuda hitam, dan kisah-kisah kejutan yang selalu membuat sepak bola begitu indah. Namun para fans fanatik yang bahkan tidak pernah menonton langsung, justru sibuk saling menghina, seolah turnamen ini hanya tentang dua orang yang kini sedang menikmati babak terakhir karier mereka. Padahal, jika mau sedikit bersikap waras, Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo sudah sama-sama mengubah wajah sepak bola modern. Mereka adalah dua legenda yang kebetulan hidup di zaman yang sama. Tidak ada kewajiban bagi seluruh umat manusia untuk memilih salah satu dan membenci yang lain.

Pada akhirnya, sepak bola jauh lebih besar daripada Messi dan Ronaldo. Piala Dunia akan terus berjalan, generasi baru akan lahir, dan suatu hari nanti kedua nama itu hanya akan menjadi bagian dari sejarah. Sementara itu, para penggemar fanatik mungkin masih akan terus berdebat di kolom komentar, dengan semangat yang kadang lebih besar daripada semangat mendukung tim nasional mereka sendiri. Dan mungkin, di situlah letak kekonyolan paling menghibur dari semuanya, dua orang yang saling menghormati di atas lapangan ternyata mampu membuat jutaan orang asing saling bermusuhan di bawahnya.

Diskusi

0 komentar aktif dari pembaca dan kontributor komunitas.

0 komentar

Ikut berdiskusi

Tambahkan komentar, balas thread, atau kelola komentar Anda sendiri.

Anda perlu login untuk mengirim komentar, membalas, atau mengelola komentar sendiri.

Belum ada diskusi.

Jadilah orang pertama yang memulai percakapan untuk berita ini.

Bacaan Terkait

Berita lain yang layak dibaca setelah ini

Roberto "Generasi Emas" Martinez
#Olahraga

Roberto "Generasi Emas" Martinez

Sebuah ulasan singkat tentang bagaimana Roberto Martinez mengelola tim nasional bertabur bintang hingga dijuluki generasi emas, mulai dari Timnas Belgia hingga Timnas Portugal.

8 Juli 2026 Yons Hunga
Maskot ETMC XXXV Flores Timur 2026 Tuai Polemik, Penggunaan AI dalam Proses Desain Jadi Sorotan
#Daerah

Maskot ETMC XXXV Flores Timur 2026 Tuai Polemik, Penggunaan AI dalam Proses Desain Jadi Sorotan

Peluncuran maskot resmi El Tari Memorial Cup (ETMC) XXXV Flores Timur 2026 yang diberi nama Si Boli memicu perdebatan di tengah masyarakat. Polemik muncul setelah pemenang sayembara, Tarwan Stanislaus, mengakui bahwa proses perancangan maskot tersebut melibatkan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) sebagai alat bantu pada tahap awal.

6 Juli 2026 Redaksi Ndongu
Breaking News! Rektor Unkriswina Sumba Pecat Tidak Dengan Hormat Oknum Dosen Terduga Pelaku Kekerasan Seksual
#Daerah

Breaking News! Rektor Unkriswina Sumba Pecat Tidak Dengan Hormat Oknum Dosen Terduga Pelaku Kekerasan Seksual

Universitas Kristen Wira Wacana (UNKRISWINA) Sumba resmi memberhentikan tidak dengan hormat seorang dosen tetap berinisial RAL yang diduga melakukan kekerasan seksual terhadap seorang mahasiswi berinisial. Keputusan tersebut mulai berlaku pada Rabu (1/7/2026) dan diumumkan dalam konferensi pers yang digelar pimpinan universitas di Kampus UNKRISWINA Sumba, Waingapu, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur.

1 Juli 2026 Redaksi Ndongu
Agnez Monica Harus Belajar Manajemen Waktu dari Arni Wolla
#Opini

Agnez Monica Harus Belajar Manajemen Waktu dari Arni Wolla

Kalau kalian adalah orang Sumba dan mengikuti perseteruan Arni Wolla dengan seorang pemilik studio yang juga orang Sumba yang menetap di Bali dan telah malang melintang di dunia permusikan tentang lagu pertama Arni Wolla, kalian pasti tidak percaya bahwa seorang Arni Wolla bahkan keluar sebagai seorang jenius.

27 Juni 2026 Redaksi Ndongu
GKII Kamangi Juara Turnamen Voli 75 Tahun Paroki Sang Penebus Waingapu, Taklukkan OMK Wara Lewat Lima Set Dramatis
#Olahraga

GKII Kamangi Juara Turnamen Voli 75 Tahun Paroki Sang Penebus Waingapu, Taklukkan OMK Wara Lewat Lima Set Dramatis

OMK Wara membuka pertandingan dengan meyakinkan. Meski kedua tim saling kejar-mengejar angka, tipuan dari Yeri dan permainan kolektif yang solid membuat OMK Wara mampu membalikkan keadaan setelah sempat tertinggal. Tidak menyerah, GKII Kamangi bangkit pada set ketiga. Setelah tertinggal cukup jauh 6-12, tim asal Kamangi tersebut perlahan mengejar ketertinggalan dan memanfaatkan beberapa kesalahan lawan. Mereka sukses membalikkan keadaan dan menutup set dengan skor 25-21.

23 Juni 2026 Redaksi Ndongu
Guru Mengadu ke MK: Polisi Punya Dapur MBG, TNI Punya Dapur MBG, DPR Juga Punya, Kepada Siapa Kami Mengadu?
#Pendidikan

Guru Mengadu ke MK: Polisi Punya Dapur MBG, TNI Punya Dapur MBG, DPR Juga Punya, Kepada Siapa Kami Mengadu?

Sejumlah guru yang menggugat Undang-Undang APBN Tahun Anggaran 2026 di Mahkamah Konstitusi (MK) mengaku tidak memiliki saluran pengaduan lain terkait dampak Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Mereka bahkan menyebut keterlibatan berbagai pihak dalam pengelolaan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) membuat Mahkamah Konstitusi menjadi tempat terakhir untuk mencari keadilan.

16 Juni 2026 Redaksi Ndongu
145 Tahun Injil Masuk Sumba: Melolo Kembali Menjadi Saksi Sejarah Kekristenan di Pulau Sumba
#Humba

145 Tahun Injil Masuk Sumba: Melolo Kembali Menjadi Saksi Sejarah Kekristenan di Pulau Sumba

Sejarah masuknya Injil di Sumba dimulai pada 9 Juni 1881. Pada hari itu, Pendeta J.J. van Alphen, seorang zendeling dari Nederlandsch Gereformeerde Zendings Vereniging (NGZV) atau Perhimpunan Zending Gereformeerde Belanda, mendarat di Waingapu. Kedatangannya menandai dimulainya pelayanan zending secara resmi di Pulau Sumba. Namun, sejarah tersebut sesungguhnya berakar lebih jauh dari sekadar kedatangan seorang misionaris.

9 Juni 2026 Redaksi Ndongu
Gawat! Di NTT, Ada Sekolah Dasar yang Digusur demi Koperasi Merah Putih
#Pendidikan

Gawat! Di NTT, Ada Sekolah Dasar yang Digusur demi Koperasi Merah Putih

Kasus penggusuran sebagian area SD Negeri Wolomoni di Desa Niowula, Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende, menjadi potret buram bagaimana pembangunan di tingkat desa sering kali berjalan tanpa arah yang jelas. Sangat ironis ketika ruang pendidikan anak-anak harus dikorbankan demi pembangunan fisik Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih.

9 Juni 2026 Redaksi Ndongu
Temui Korban Pelecehan, Paus Leo XIV Tegur Keras 100 Uskup Spanyol: Ini Malapetaka!
#Internasional

Temui Korban Pelecehan, Paus Leo XIV Tegur Keras 100 Uskup Spanyol: Ini Malapetaka!

Selama percakapan yang berlangsung hampir satu jam, para korban membagikan pengalaman pribadi mereka yang menyakitkan. Mereka juga memberikan masukan langsung kepada Paus mengenai langkah-langkah efektif yang harus diambil oleh Gereja di masa depan.

8 Juni 2026 Redaksi Ndongu