
Kontributor
Antoni Resi
Bergabung 20 Juni 2026
saya adalah relawan SOPAN Sumba. pemerhati isu ketidakadilan gender dan isu kemanusian lainnya.
Ketika GEDSI Absen dalam Pelayanan Publik
Tulisan ini mengulas pentingnya perspektif GEDSI dalam pelayanan publik dengan menyoroti relasi antara etika, kekuasaan, dan nilai-nilai kemanusiaan. Melalui refleksi atas sejumlah peristiwa yang menjadi perhatian publik, tulisan ini mengajak pembaca melihat kembali makna keadilan dan kepedulian dalam pelayanan kepada masyarakat.
Mati Sekarang atau Nanti Sama Saja
Tidak ada manusia yang hidup kekal. Cepat atau lambat, semua akan mati. Entah nanti atau sekarang, kematian memang merupakan kepastian yang tidak bisa ditolak. Akan tetapi, kepastian kematian tidak serta-merta menghapus makna kehidupan. Sebagaimana kita tidak peduli benar dan salah bahwa 10 + 6 adalah 17 karena ujung-ujungnya tetap MBG, demikian pula kita tidak dapat mengatakan bahwa mati sekarang sama saja dengan nanti hanya karena sedang lelah menjalani hidup.
Saat "Janda" Menjadi Bahan Candaan, Apa yang Sebenarnya Sedang Kita Tertawakan?
Mengapa penting membicarakan janda? Ada apa dengan para janda? Tulisan ini adalah perspektif saya tentang bagaimana janda seharusnya diperlakukan.
Belis dalam Perspektif Budaya Sumba dan Dampak Pergeseran Maknanya
Manusia dan peradaban selalu berjalan beriringan. Seiring berkembangnya pola pikir, pengetahuan, dan teknologi, zaman terus berubah serta membentuk karakter dan perilaku manusia. Perubahan ini tampak pada pergeseran cara hidup masyarakat yang semakin mengandalkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menyelesaikan berbagai persoalan kehidupan.
Kekerasan Seksual dalam Konteks Suka Sama Suka
Apakah semua hubungan yang tampak “suka sama suka” benar-benar lahir dari persetujuan yang setara? Tulisan ini mengajak kita memahami bahwa relasi yang terlihat biasa dari luar belum tentu bebas dari tekanan, manipulasi, atau penyalahgunaan kuasa. Dengan meninjau perspektif hukum, adat, dan agama, tulisan ini mengingatkan pentingnya membedakan antara hubungan yang didasari persetujuan yang sehat dan kekerasan seksual yang terjadi dalam relasi yang tampak “suka sama suka”. Sebuah refleksi agar kita lebih bijak dalam menilai, tidak tergesa-gesa menyalahkan korban, dan lebih peka terhadap persoalan kekerasan seksual di sekitar kita.