
Aku hidup di zaman dimana bumi papua sudah digeruk habis, rimba kalimantan disapu demi barisan sawit yang tak berujung, satwa- satwa meregang nyawa karena perilaku manusia yang tak berakal bahkan disetiap sudut tanah, jejak kerakusan meninggalkan luka.

Lantas apakah benar bangsa ini adalah bangsa yang mendukung kebebasan berbicara?, dimana dibalik demokrasi, silsilah kekuasaan terus di tenun.

Dan apa yang terjadi?, ya pada akhirnya keputusan terus dibuat sedangkan suara rakyat sendiri di bungkam, pajak bertambah, peluang hidup berkurang, uang rakyat mengalir, kejujuran tenggelam, mata uang merunduk, harga barang melambung.
Entah mau dibawa kemana masa depan bangsa ini, bahkan ketika banjir merendam tanah aceh dan disaat tanah flores bergemuruh pun, si pemangku jabatan hanya melihat dari atas singgasananya dan lebih memilih pesta pejabat yang didahulukan sedangan korban bencana terabaikan

Masih banyak yang ingin kusampaikan tetapi rasanya lelah untuk bercerita.
Aku pun bingung apakah di masa depan di 2045 bangsa ini akan menjadi bangsa emas atau malah menjadi bangsa yang cemas.
Diskusi
0 komentar aktif dari pembaca dan penulis komunitas.
Ikut berdiskusi
Tambahkan komentar, balas thread, atau kelola komentar Anda sendiri.
Anda perlu login untuk mengirim komentar, membalas, atau mengelola komentar sendiri.
Belum ada diskusi.
Jadilah orang pertama yang memulai percakapan untuk berita ini.
Bacaan Terkait
Berita lain yang layak dibaca setelah ini
Paradoks Identitas Adat di Panggung Politik Timor
Membahas sedikit kontradiksi adat di Pulau Timor
Kekerasan Seksual dalam Konteks Suka Sama Suka
Apakah semua hubungan yang tampak “suka sama suka” benar-benar lahir dari persetujuan yang setara? Tulisan ini mengajak kita memahami bahwa relasi yang terlihat biasa dari luar belum tentu bebas dari tekanan, manipulasi, atau penyalahgunaan kuasa. Dengan meninjau perspektif hukum, adat, dan agama, tulisan ini mengingatkan pentingnya membedakan antara hubungan yang didasari persetujuan yang sehat dan kekerasan seksual yang terjadi dalam relasi yang tampak “suka sama suka”. Sebuah refleksi agar kita lebih bijak dalam menilai, tidak tergesa-gesa menyalahkan korban, dan lebih peka terhadap persoalan kekerasan seksual di sekitar kita.
Menampilkan 2 bacaan terkait