Edisi Kamis, 30 Juli 2026

Beranda
Kembali ke Beranda
TIANG-TIANG JEMBATAN TUA

TIANG-TIANG JEMBATAN TUA

Isu kekerasan pada remaja, selalu menghadirkan dilema moral yang mendalam. Dalam serial drama Korea berjudul Teach You a Lesson, kita dihadapkan pada kenyataan pahit mengenai hilangnya wibawa guru dan merajalelanya penindasan di lingkungan sekolah. Saat sistem hukum dan institusi konvensional dianggap terlalu lunak atau mandul dalam melindungi korban, muncul pertanyaan ekstrem, apakah kekerasan dapat dibenarkan untuk mendisiplinkan remaja yang bermasalah?

Kopi ChaKopi Cha 8 Juni 2026 11 menit baca
126

TIANG-TIANG JEMBATAN TUA

     Kalau orang bertanya apa pekerjaanku, aku bisa membungkam seseorang dengan mengatakan bahwa aku seorang wanita mandiri dan pekerja sosial. Orang yang mengerti akan mengangguk meskipun aku yakin di dalam hatinya, mereka akan sibuk mengukur-ukur besar pendapatan yang kuterima dan sadar bahwa "sosial" adalah sebuah istilah yang lebih sopan dari pada mengatakan bahwa aku "tidak bergaji."

        Aku bekerja di sebuah LSM berbasis kesehatan mental. Teritori tugasku adalah mengampanyekan gerakan anti-menghakimi terhadap setiap tindakan bunuh diri yang dilakukan orang-orang.

        Sejak pertama kali aku melangkahkan kaki di dunia ini, aku sadar bahwa uang makanku juga bergantung pada seminar dan event atau pada titik tertentu, aku memilih untuk kelaparan. Namun, bisa kupastikan. Aku tidak pernah menguap dengan perut kenyang di balik meja kerjaku dan pada waktunya menerima gaji. Aku juga punya teman-teman yang baik. Sebuah konstelasi yang disatukan oleh pemikiran bahwa orang tidak boleh hidup tenang hanya dengan memikirkan perutnya sendiri.

        Masih banyak kelancangan yang harus kami bungkam. Aku tidak merasa hebat tetapi setiap kali orang bertanya, aku dengan senang hati mengatakan bahwa pekerjaanku berhubungan dengan nyawa seseorang dan tentangnya tak ada uang yang sanggup mengukur nilainya.

        Benar memang. Tidak ada manusia yang sepenuhnya bahagia dengan apa yang ia dapat. Ketidakpuasan adalah ekor dari setiap kepuasan. Seperti saat kami berhasil menyelenggarakan event bertema kesehatan jiwa dan mengumpulkan lebih dari 1000 partisipan, tetapi, pada sesi evaluasi kami menyesal karena mereka yang harus kami dekati kenyataannya tak sesedikit itu, dan dalam istilah kami, kami menyebutnya siaga satu.

        Namun, sejauh ini aku menyukai pekerjaanku dan aku bersumpah bahwa aku bersungguh-sungguh ketika melakukannya. Aku juga bergabung dalam seminar-seminar yang berkaitan dengannya, mendengarkan para psikiater dan psikolog yang diundang itu berbicara mengenai jiwa. Ya. Jiwa seseorang. Betapa itu bisa jauh lebih kuat daripada bobot tubuhku sendiri dan di sisi lain dapat sangat lemah seperti sepotong kapas.

        Aku dan rekanku yang lain juga sering mengundang para psikater itu ke acara-acara yang kami adakan dan merasa ironis sebab masih banyak telinga yang terpanggil karena masalah yang sama. Dunia ini gila. Orang menjadi depresi. Namun, alih-alih menunjukkannya dengan memakai pakaian compang-camping dan berbicara kalimat-kalimat ngawur, orang zaman ini lebih memilih tersenyum dan berkata "aku baik-baik saja".

       Bidang tugasku bukanlah tentang melarang atau mencegah seseorang untuk melakukan bunuh diri. Itu dilakukan oleh rekanku yang lain. Aku adalah orang yang dengan getol melarang lingkungan sekitarku untuk berdecak heran di depan jenazah orang-orang yang mati karenanya, menyuruh mereka tutup mulut atau mengerjakan kesibukan lain yang sekiranya dapat menjauhkan mereka dari gosip tak beradab.

        Aku merasa penting untuk berbicara selagi masih ada orang-orang di sekitarku yang mengucapkan kalimat klise nan bodoh seperti "Kasihan. Gadis cantik itu mengakhiri hidupnya dengan jalan seperti itu".

        Aku marah. Setiap jiwa berharga tak peduli yang jatuh dari ketinggian jembatan atau yang meminum racun itu adalah model atau pengemis. Orang berpikir bahwa bunuh diri adalah tindakan bodoh yang merugikan banyak pihak, tanpa memedulikan ranjau di sekitar korban semasa ia hidup, yang memicunya untuk sampai pada keputusan itu. Singkatnya, aku mau orang-orang tahu bahwa bagi setiap korban, bunuh diri sebagai jalan pintas yang buruk juga merupakan pilihan terakhir yang terselip di dalam akal mereka.

        “Akal orang yang tidak dibebani dengan tekanan seperti udara segar di puncak bukit. Kau tidak perlu pintu sebab semua sisinya telanjang tak berbatas, dan keterbukaan itu menyajikan begitu banyak pilihan untuk tetap hidup. Sementara akal orang-orang yang putus asa serupa lemari yang terkunci. Kecil, sempit, tidak bisa terbuka,” kataku dalam sebuah wawancara di radio.

        Keluargaku, seperti juga keluarga-keluarga lain di lingkunganku, mencecarku dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai pekerjaanku, posisiku di dalam LSM tempatku bekerja atau lebih tepatnya mengabdi, apa yang kulakukan, dan apakah itu bisa dikatakan sebuah progres. Pertanyaan terakhir itu menurutku bodoh. Lalu, percakapan itu akan mengalir ke perbandingan-perbandingan yang lain. Bagaimana anak si A telah lulus ujian pengacara, bagaimana sepupuku yang B baru saja disahkan sebagai Briptu, atau  tentang seorang teman masa kecilku yang kabarnya telah membuka sebuah toko kue yang terkenal di pusat kota dan bahagia bersama keluarga kecilnya.

        Keluarga kecil? Aku bahkan baru putus dua minggu lalu dari seorang bankir yang sering berurusan denganku terkait rekening-rekening LSM hanya karena dia berpikir pekerjaanku membuang-buang waktu.

       “Teman kuliahmu? Siapa namanya? Si Rani itu? Kudengar dia melanjutkan S3-nya di Amerika?”

        Aku tak masalah. Kata-kata itu seolah-olah menjelma daging yang menebalkan daun telingaku. Sungguh. Semua itu tak ada masalah jika saja ayahku tidak semakin jarang bergabung di acara-acara keluarga atau ibuku yang selalu menunduk setiap kali mereka mulai melempar pertanyaan-pertanyaan tersebut. 

        Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana mereka memojokkan ibu dengan mencoba membanding-bandingkan nasib orang yang mereka kenal denganku lalu tertawa-tawa, menggamit tangan ibuku sambil mengklaim bahwa semua itu hanya lelucon.

        Kuakui. Aku bukan anak yang bisa membeli jam tangan saat hari ulang tahun ayahnya atau bahkan sebotol minyak pelumas untuk mesin jahit ibunya. Aku bukan tante yang mengajak ponakan-ponakanku membeli mainan sesuka hati mereka dengan kartu kreditku, sementara aku menunggu di kafe sambil menyeruput secangkir kopi. Aku orang yang mengingatkan orang lain untuk tidak sembarangan bertanya kepada orang tua atau keluarga korban tentang bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang meninggal akibat bunuh diri.

        Teman-temanku perlahan-lahan menjauh sebab mereka merasa bahwa berada di dekatku sama seperti berada di sekitar kematian. Sangat sering yang kubahas adalah tentang para korban bunuh diri yang memang menjadi job desk-ku.

        “Hasnah, 35 tahun, ibu rumah tangga biasa. Pasca kematian anak sulungnya, Hasnah mengakhiri hidupnya dengan membungkusi wajahnya sendiri dengan sebuah plastik hitam. Ia mati kehabisan napas,” kataku suatu hari di acara reuni kecil-kecilan.

        Menarik. Salah seorang dari mereka akhirnya memutuskan untuk meladeni topikku.

        “Menurutku, Hasnah terlalu rapuh. Kalau seperti katamu, ia bunuh diri karena anaknya  yang sulung meninggal, dia masih punya anak lain untuk diurus, kan?”

        Kelancangan yang sama. Lagi.

        “Mungkin lebih tepatnya, untuk dicintai,” balasku. “Dengar. Ini wanita yang tidak pernah bergulat dengan buku-buku filosofi. Ibu rumah tangga biasa yang tidak pernah mengatakan 'aku mencintaimu' kepada suaminya. Ini wanita yang bahkan pernikahannya hampir tidak didasari oleh cinta. Kau mungkin familiar dengan kondisi di mana chat-mu dibalas dengan emotikon hati atau kue tar mahal di setiap perayaan hari jadi. Tetapi, cobalah berpikir dari sudut pandang sepasang manusia yang menikah karena dihantui usia, orang-orang desa sederhana yang bahkan menabukan pengakuan bahwa seks bisa saja menjadi peretak hubungan.”

        “Calm down, Sis,” kata seorang temanku yang lain.

        “Aku tenang. Sungguh, tetapi, pembicaraan ini haruslah diluruskan. Anggaplah aku pengacara bagi orang-orang mati itu dan sekarang aku mau kalian mendengarkan ini. Ini mungkin pembicaraan terakhir kita sebab kalian terlalu takut untuk berbicara tentang kematian dan aku tahu setelah ini kalian akan membuat-buat alasan agar bisa mencoretku dari daftar perkumpulan ini.”

        Aku memandang mata mereka satu per satu dan seorang pelayan yang sedang meletakkan gelas berisi jus di meja lain pun berhenti untuk mendengarkan lanjutan kalimatku.

        “Kalian tahu? Hasnah mati sebab ia tahu anak sulungnya adalah hal pertama yang lahir dengan cinta. Cinta bagi seorang Hasnah bukanlah tentang kali pertama ia dan suaminya dijodohkan atau tentang malam pertama mereka yang liar dan segar. Cinta adalah tentang sembilan bulan keintiman yang ia bangun dengan putra sulungnya, yang kemudian beranjak dewasa dan mati dibacok preman. Kutekankan sekali lagi. Hasnah adalah ibu. Sekarang bayangkan perusahaan-perusahaan tempat kalian bekerja. Bayangkan juga bahwa kalian adalah pemilik sahamnya. Jika kalian sudah bertaruh seratus persen dari harta yang ada kepada perusahaan, tapi perusahaan itu malah bangkrut, bagaimana rasanya? Kau Abi? Kalau jawabanmu kujadikan analogi dalam kasus ini, apakah kita bertaruh lagi saja pada perusahaan yang lain? Apakah keyakinanmu masih sebulat seratus persen yang pertama?”

        “Tapi ....”

        “Aku belum selesai berbicara,” potongku. “Jangan pernah menghakimi jalan hidup orang lain sebelum kau berjalan menggunakan sepatunya. Kalian mencekoki otakku dengan  keterampilan mesin-mesin di tempat kalian bekerja, barang-barang bermerek, hingga tren kekinian yang tengah membanjiri media sosial, tetapi tidak punya nyali untuk memikirkan sesuatu yang bisa saja terjadi kurang dari 24 jam? Kau Bobi. Tidak usah jauh-jauh. Kalau di ruangan ini kau tiba-tiba tersedak potongan steak dan mati, kau akan tahu bahwa peluang matimu jauh lebih besar daripada peluangmu untuk mendapatkan promosi.”

        Aku menarik napas panjang lalu merapikan rambutku. Emosiku mulai mereda dan kurasakan urat-uratku yang semula tegang mulai kembali ke posisinya semula. Bobi, yang menjadi sasaran empuk kemarahanku menghentikan aktivitasnya memotong daging dan membiarkan beef tenderloin miliknya menggantung di ujung pisaunya.

        “Dengar. Definisi bahwa hidup itu adil selalu kembali pada porsi yang dimiliki masing-masing orang. Ukuran piring keadilan tiap orang berbeda-beda, teman-teman. Tidak sedikit orang dengan kehidupan yang terlihat baik-baik saja nyatanya membeli puluhan buku untuk mengeluarkan mereka dari depresi. Aku pamit.”

        Sore itu, setelah meninggalkan restoran tersebut dengan kesadaran penuh bahwa mereka pasti sedang membicarakanku, aku memesan taksi yang mengantarku ke sebuah seminar jam 8 malam dengan komunitas berbasis kesehatan mental di pinggiran kota. Dalam seminar di mana aku menjadi salah satu narasumber mereka, aku menceritakan pertemuan di restoran itu. Aku berharap, anggukan audiens di seminar itu adalah anggukan yang memang mengerti dan menyerap setiap kalimat dan analogi yang kusajikan dengan baik.

        “Tuhan mungkin akan menghakimi saya karena telah mati-matian membela mereka yang menghabisi nyawa yang Dia beri dengan penuh cinta. Bagaimana pun, saya hanya berjuang agar mereka pergi dengan sisa-sisa ketenangan yang bisa disisihkan oleh dunia untuk mereka, berikut keputusan-keputusan keliru yang mereka buat dari sisa-sisa kemerdekaan yang mereka punya.”

Kalimat penutupku disambut tepuk tangan.

        Aku tidak langsung pulang malam itu. Aku berjalan menyusuri langit malam, menelepon ibuku dan memberitahukan padanya kalau aku mungkin pulang keesokan paginya. Mereka maklum, sebab begitulah kebiasaanku ketika dihadang dengan kasus atau program-program baru.

        “Nak, terima kasih untuk minyak pelumas dan kacamatanya,” kata Ibuku di ujung pembicaraan kami.

        Ya. Setidaknya sisa tabungan di rekeningku bisa kubelikan hadiah untuk ulang tahun pernikahan mereka.

Hari ini ulang tahun pernikahan mereka yang ke-40 tahun. Aku tahu, saat ini, kedua orang tua itu pasti sedang berdoa meminta Tuhan untuk usia nan panjang, untuk aku agar segera menemukan seseorang yang tepat, untuk rezeki dalam bentuk apapun, untuk segala aib yang pergi bagaimanapun caranya. Sebuah ritual yang selalu dijalani tiap perayaan ulang tahun pernikahan mereka.

        Aku merasa tubuhku ringan. Jiwaku seperti sepotong kapas dan aku punya perasaan aneh seolah-olah dari bahuku keluar sepasang sayap putih yang besar. Aku sudah mempersiapkan segalanya. Aku meraba-raba jembatan yang biasa kulewati sepulangnya dari kantor, mengukur-ukur ketinggian yang bisa tubuhku jelajah hingga ke permukaan kali mati di bawah sana. Memastikan tempat mana yang memungkinkanku terbebas dari ranting pohon dan langsung mati begitu saja tanpa menderita.

        Di bawah sana aku bisa mendengar Hasnah, Tyas, dokter Lukas, Kino, semua mayat yang kubela di sepertiga umurku. Jika polisi bertanya apakah aku meninggalkan suicide note, aku percaya bahwa setiap perjuangan yang kutorehkan adalah catatan yang jauh lebih penting dari sekadar sepotong kertas belaka.

        Aku mengampanyekan gerakan anti-menghakimi terhadap setiap tindakan bunuh diri yang dilakukan orang-orang. Namun, aku tak pernah menyangka bahwa puncak bukit yang kupijak seketika berubah menjadi lemari yang sempit dan terkunci. Di luar lemari itu adalah ayahku yang menjauhi acara-acara keluarga, ibuku yang menunduk, keluarga dan para tetangga dan pertanyaan-pertanyaan mereka, bahkan wajah Tania dengan tas bermerek di tangannya.

        Tiba-tiba, aku merasa waktu berjalan begitu cepat.       Mengapa kendaraan itu mengebut? Kenapa tiang-tiang jembatan dan lampu-lampu kota ini bergerak seperti treadmill? Apa aku akan pingsan? Apa ini halusinasi? Apa ada gempa dan tanah bergerak begitu cepat?

Beberapa detik kemudian, aku melihat orang-orang berkerumun. Kendaraan-kendaraan berhenti.  Sirene polisi dan ambulans berdenging tepat di atas jembatan. Ada apa? Apa ada orang bunuh diri? Tidak, ia tidak boleh melakukan aksinya sebelum aku. Ini momen untukku. Sudah berbulan-bulan aku mempersiapkannya dengan begitu rapi.

        “Apa? Kenapa? Ada apa di bawah?” tanyaku pada seorang wanita yang juga mencoba menangkap informasi dari kerumunan itu.

        Tak ada jawaban. Seketika tiang-tiang jembatan itu terlihat begitu arogan. Desir angin malam dan flashlight dari kamera milik orang-orang yang berkumpul itu mengekspos sekelumit ketidakberdayaan di bawah sana.

        Andai orang itu melihatku di ujung lain jembatan ini, aku mungkin akan berhasil membujuknya untuk minum kopi dan mengulas masalah yang tengah ia hadapi. Mencegah seseorang untuk tidak bunuh diri memang merupakan teritori rekan-rekanku yang lain, tetapi dalam situasi genting itu aku mungkin bisa memantiknya untuk menemukan alasan-alasan untuk hidup sekecil dan seremeh apa pun itu.

        Lucu memang. Kau mungkin bertanya-tanya mengapa itu tidak coba kulakukan untuk diriku sendiri, tetapi satu kesamaan yang kuyakini dimiliki oleh setiap pekerja sosial adalah mereka akan memberi segelas air untuk orang lain sedangkan mereka sendiri kehausan.

        Kuputuskan untuk berjalan menembus kerumunan. Tak kupedulikan garis polisi yang telah terpasang di sekitar jembatan. Di bawah sana, aku bisa melihat sesosok tubuh. Dari ciri-cirinya tampaknya wanita. Bisa kubayangkan bagaimana ia terjun menembus udara bersih tanpa halangan apa-apa setinggi 75 meter dan tidur di atas genangan darahnya sendiri. Kepalanya miring ke kanan dan saat polisi mulai menyasar objek dengan senter mereka yang besar dan terang, aku menyadari. Wanita itu aku.

        Aku meraba jembatan tua itu tetapi yang kurasakan adalah udara. Seketika aku menyadari bahwa sedari tadi tubuhku juga mampu menembus tubuh kerumunan tanpa sedikit pun merasa sakit atau sesak. Jam raksasa di taman kota berdentang. Pukul 3 pagi.

        Perkenalkan. Aku seorang wanita mandiri dan pekerja sosial. Aku bahkan mempersiapkan kematianku sendiri sembari berharap, dharma yang kurawat selama ini mampu membuatku terbebas dari lemari sempit ini. Perlahan-lahan aku melihat pintu lemari itu terbuka. Di luarnya ada ibu dan ayahku yang mengenakan kacamata pemberianku sambil tersenyum bahagia. Aku pulang, Bu. Seperti kataku, aku pulang saat hari sudah pagi.

Diskusi

2 komentar aktif dari pembaca dan kontributor komunitas.

2 komentar

Ikut berdiskusi

Tambahkan komentar, balas thread, atau kelola komentar Anda sendiri.

Anda perlu login untuk mengirim komentar, membalas, atau mengelola komentar sendiri.

Belum ada diskusi.

Jadilah orang pertama yang memulai percakapan untuk berita ini.

Bacaan Terkait

Berita lain yang layak dibaca setelah ini

Menampilkan 1 bacaan terkait