Edisi Jumat, 28 Agustus 2026

Beranda
ORANG-ORANGAN

ORANG-ORANGAN

Dari jendela sebuah kereta panoramic yang mewah, Gede menatap hamparan sawah yang membangkitkan memorinya tentang Dadong (neneknya) satu-satunya sosok yang mengajarkan ketulusan di tengah keluarga mereka yang serba kontradiktif. Gede yang kemudian hidup dan berkaris di Jakarta pun menyadari bahwa dunia modern dipenuhi "orang-orangan sawah". Manusia yang lehernya diikat dan digerakkan oleh sistem yang bobrok, kapitalisme, serta tuntutan materi. Muak menjadi boneka dalam perlombaan hidup yang penuh kepalsuan, Gede akhirnya mengambil keputusan besar: ia melepaskan pekerjaan dan hubungannya demi memutus senar yang mengekang lehernya, lalu memilih pulang untuk memeluk kembali kebebasan jiwanya.

Kopi ChaKopi Cha 27 Mei 2026 11 menit baca

Cuaca cerah sore itu membuatku dan penumpang lainnya bersyukur untuk satu juta rupiah yang sudah kami rogoh hanya demi melihat hamparan berhektar-hektar sawah dari jendela kereta yang kami tumpangi. Bagus betul waktu yang dipilih oleh perusahaan kereta api itu untuk mempromosikan layanan terbarunya. Hamparan padi di sisi kiri dan kanan kereta memang sedang gemuk-gemuknya. Bernas dan kuning seperti kutu-kutu berdandan emas yang cantik dan subur.

Orang-orang ini-yang kebanyakan berasal dari kalangan pekerja kantoran dan beberapa di antaranya lansia yang dijanjikan lanskap matahari terbenam oleh anak atau cucunya-dipaksa percaya bahwa kota ini menjual sepotong kedamaian dan istirahat di tengah inflasi, persaingan, bencana alam, gelombang PHK, utang keluarga, kriminalitas yang tinggi hingga bahkan seks yang hambar di tempat tidur.

Jika orang lain di dalam kereta itu juga ada yang suka menuangkan pengalamannya dalam bentuk tulisan sepertiku, aku percaya kalimat seperti yang sudah kusajikan ini merupakan suatu pembuka yang lumrah. Sejak suka dan duka hidup serupa udara yang kita hirup, kupikir beberapa orang memang dipakai Tuhan untuk menyuarakan ironi dengan lebih legit.

Namun, perihal sawah. Aku yakin bisa mengingatnya lebih dari seisi kereta itu atau lebih tepatnya, aku tidak akan pernah tidak mengingatnya.

Seketika aroma roti daging yang mereka sajikan berganti menjadi aroma rumput, bau apek kain penutup kepala dadong[1], tahi kerbau, aroma tanah dan lumut tempat tumbuhnya kangkung-kangkung liar. Otakku memilah-milah bau-bauan itu, juga bau lain yang sejauh ini telah sebisa mungkin ditangkap oleh indra penciumanku, lalu menyimpannya dalam laci yang berbeda-beda. Laci-laci itu telah kukelompokkan menjadi dua bagian besar sejak masa kecilku. Di luarnya kutulis 'Aroma Busuk' dan satu lagi 'Aroma Sedap'.

Aku juga mengingat apa yang sudah kulihat. Tuhan mungkin terlalu jauh, tetapi lelakut, orang-orangan sawah itu, begitu dekat dengan keseharianku hingga untuk melupakannya adalah hal yang mustahil. Setiap siang sepulang sekolah, sekental ingatanku, tugasku adalah mengantarkan teko berisi air minum atau kopi untuk dadong, kadang juga beberapa gumpal tembakau dan sirih untuk membuatnya lebih betah menjaga sawah. Di sampingnya tanpa mengatakan apa pun, aku akan memperhatikan cara dadong bekerja.

Biasanya, sambil memindah-mindahkan tembakau dari satu sisi mulutnya ke sisi yang lain, dadong akan berteriak sambil menggoyang-goyangkan tali-tali berwarna keperakan yang melintang pukang di atas hamparan padi. Salah satu dari tali-tali itu juga terhubung dengan leher orang-orangan, yang dengan pasrah bergoyang mengikuti hentakan tangan dadong. Boneka kayu dari tempurung dan kain-kain perca itu akan menakut-nakuti belalang, pipit, dan tikus-tikus bengal di sekitarnya.

Kadang, sambil menggoyangkan tali, dadong akan menyerukan suatu teriakan yang unik, yang membuat burung-burung pipit terbang kalang kabut. Aku mendengarnya seperti ringkih kuda yang perkasa, yang tersembunyi di balik tulang-tulang kurusnya. Sering juga kutiru dan itu membuatnya tertawa sembari memamerkan gusi-gusi tak bergiginya yang memerah padaku.

Oleh karena semua itu pula aku terbiasa memasangkan gambar dadong dengan sawahnya. Pekak[3] tak sempat kulihat. Ia meninggal beberapa tahun sebelum aku lahir. Mereka hanya bilang ia pria tua yang bongol[4] dan humoris serta senang menyabung ayam di ujung kampung. Selebihnya, aku percaya petak-petak sawah yang tak sampai setengah hektar itu memang ditakdirkan untuk dadong dan demikian pula sebaliknya. Dadong untuk sawah.

Aku boleh-boleh saja menghubungkan gambar dadong dengan rumah tempat kami tinggal, tetapi semua rasanya kontras dan menyimpang. Hanya sawahlah yang menyambutnya tanpa ba bi bu, jauh dari bentakan ibu yang diam-diam memarahinya saat ayah tak ada, atau memisahkan piring dan lokasi makan dadong jauh-jauh dari kami. Jauh dari ayah yang tak ingin repot-repot mengikutsertakan dadong di setiap acara piknik keluarga hanya karena ia lamban dan terkadang suka mengompol. Aku berani bertaruh jika dadong diberi selapis tipis kasur dan kelambu, ia akan lebih memilih tidur di tengah sawah daripada rumah.

Jika aku juga diberi pilihan, aku akan ikut dadong. Aku besar di tangannya. Dadong menyuapiku dari piring melaminnya, dadong menceritakanku kisah dewa-dewi dengan begitu bagus, dadong mengajariku cara menyembuhkan sayap burung yang patah sekalipun burung itu adalah burung yang sama yang berusaha memakan padi di sawahnya. Lebih dari semua itu, dadong mengajariku untuk memaafkan.  

"Dadong ndak marah sama Mamak sama Bapak?" tanyaku suatu hari.

Orang tua itu hanya menatapku sambil tersenyum, seolah-olah itu hanyalah pertanyaan retorik yang dilontarkan anak kecil berbau kencur.

Sempat terlintas di benakku bahwa orang-orangan itu dianggap dadong sebagai representasi pekak sebab pernah suatu waktu hujan lebat disertai angin kencang memorak-porandakan susunan orang-orangan itu. Keesokan paginya, dadong tergopoh-gopoh memungut komponen demi komponennya, menyatukannya lagi sambil berbicara hal-hal yang tak kumengerti dan seingatku-semoga aku tak salah lihat-dadong memeluknya.

Kuceritakan itu pada Ibu tetapi ceritaku hanya dijawab dengan kalimat ‘dadong sudah mulai pikun’ sambil telunjuknya diketuk-ketukkan beberapa kali pada pelipis kanannya.

Beberapa tahun kemudian saat aku SMA, dadong meninggal di usia yang memang sangat matang dan begitu siap untuk dipetik. Aku menangis seperti anak kecil. Meraung-raung seakan-akan ada sesuatu dari tubuhku yang diambil paksa. Namun, hari itu, aku bahkan masih sempat-sempatnya mendapati ibu yang merokok di depan kamar mandi sambil mengeluhkan lelahnya menghadapi macam-macam ritual adat dalam melepas-pergikan mertuanya itu.

Kontradiksi terjadi di beberapa tahun berikutnya saat ayah mencalonkan diri sebagai anggota dewan dan kami sekeluarga sibuk melangsungkan ibadah di pura, menyalakan dupa, mempersembahkan banten[5], dan segala macam sesajen yang dibutuhkan. Namun, fokusku beralih kepada mereka berdua yang begitu gigih memohon restu. Saat itu aku sudah di bangku kuliah. Perspektifku mulai berkembang sesuai usia. Dan di situ, aku melihat gambaran ibu seperti pengemis yang minta agar dirinya dijadikan istri anggota dewan demi bisa berfoya-foya dengan teman-teman arisannya dan ayah di sampingnya, tidak lebih baik.

Tapi memang dasar beruntung. Tuhan memang mudah memaafkan. Ayahku lolos. Dengan kekuatan uang dan jaringan yang ia miliki, satu kursi jadi miliknya. Memang tak menang telak, tapi tetap saja menang. Ia dan Ibu saling memeluk. Mungkin juga malam itu, mereka bercinta.

Otakku memilah-milah penglihatan-penglihatan itu-juga penglihatan lain yang sejauh ini telah sebisa mungkin ditangkap mataku-lalu menyimpannya dalam laci yang berbeda-beda. Laci-laci itu telah kukelompokkan menjadi dua bagian besar sejak masa kecilku. Di luarnya kutulis 'Pemandangan yang baik' dan satu lagi 'Pemandangan yang buruk'.

Saat ini, aku sudah bekerja di sebuah perusahaan arsitektur di ibu kota. Gajinya lumayan besar untuk seseorang yang hanya berpengalaman menjaga neneknya dan kasir minimarket. Mungkin pula karena hari itu, saat kami bersama-sama mengatupkan tangan di pura, hanya aku sendirilah yang berniat untuk terbebas dari tetek bengek kepalsuan di rumah, atau kalau memang bangunan ini masih bisa disebut rumah. Terbebas dari anggota dewan dan istrinya yang megap-megap membangun citra.

Aku melewati fase-fase kejutan budaya yang mendebarkan. Lebih dari dompetku yang dicopet atau jembatan yang sibuk menimang sebuah kehidupan di bawah tiang-tiangnya, aku melihat begitu banyak orang-orangan sawah.

Bosku terbiasa berkata, "Besok sama klien itu rapat di puncak jam 8. Saya enggak mau tahu. Jam 6 harus udah start, ya?"

Atau kepada kolega wanitaku, "Kamu bisa kan, enggak kelihatan pucat gitu. Make up kamu di-improve-lah, Sel." Paling sering adalah "Come on, guys! Think fast."

"Pak, ada proposal dari si A," kataku kira-kira seminggu lalu di dalam ruang kerja bos yang dingin dan luas itu.

"O iya, De. Taruh aja di meja saya, ya?" balasnya sambil sibuk memainkan gadget.

Aku bahkan masih ingat wajah dua pemuda karang taruna yang datang dengan keringat dan kemeja flanel kotak-kotak untuk meminta sumbangan mesin pemecah bebatuan buatan mereka. Sempat kutanyakan dan dengan menggebu mereka menceritakan cara kerja mesin itu dengan varian istilah yang tidak kupahami.

"Siang Pak, ada lamaran dari si B," kataku di hari lainnya masih di dalam ruangan yang sama.

"O iya, De. Taruh aja di meja saya, ya?"

Begitu seterusnya sampai suatu hari ia membalasku dengan bentakan "Ya ampun De, buang aja udah. Pusing saya banyak banget kertas. Uang kek apa kek. Proposal lagi. Lamaran lagi."

Hari itu, kuminta Asep membuang tumpukan kertas berisi proposal, undangan, lamaran pekerjaan dan perihal lainnya ke tempat sampah dengan penegasan tambahan bahwa semua itu harus dibakar. Bukan ditimbang di pengumpul atau dibagikan kepada anak-anaknya sebagai bahan prakarya. Harus dibakar. Paling tidak wujud abu mencegah mereka untuk mematahkan semangat dan harapan yang sudah mereka rancang di atas kertas berhari-hari lamanya.  

Jika orang-orang yang sama itu menghafal wajahku entah di rumah makan, supermarket atau di mana pun, mereka akan menyapaku lantas berbasa-basi menanyakan perihal proposal atau lamarannya yang mana akan selalu kujawab dengan kalimat 'masih dibaca Bapak ya, Mas/Mbak/Pak/Bu'.

Kontradiksi nyatanya tak hanya kutemukan di pura rumah kami. Ini juga kutemukan di tempat kerjaku. Tidak lebih baik dari ibu dan ayahku yang memohon restu dari arwah dadong. Di kantor, seorang gadis tiba-tiba saja diterima bekerja. Tanpa pengalaman apa pun, kualifikasi pendidikan yang tidak sesuai, dan bahkan resume yang jauh panggang dari api.

"Perkenalkan, ini Amel. Anggota baru kita di sini. Bikin dia betah ya, tim," kata bosku di depan kami semua hari itu.

Beberapa hari kemudian baru kutahu bahwa Amel adalah keponakan bos. Lulusan perguruan tinggi ternama yang tidak mau susah payah mencari kerja. Semua karyawan mencibir.

Heleh! Kalau jalannya gitu mah, gue juga bisa!” kata sebagian besar dari mereka.

Namun, apa artinya kalimat ini jika kau cari makan di tengah sistem yang sudah terlanjur bobrok? Bukankah jatuh-jatuhnya kau malah menjilat ludah sendiri? Lagi-lagi, aku-kami semua di situ-hanya bisa mengangguk memaklumi.

Mungkin benar bahwa menjadi dewasa tak semudah terlelap hanya dengan mendengar lantunan nina bobo. Di usia ini, bahkan bahagia pun harus ada rumusnya. Bela, pacarku, baru beberapa hari lalu menuntut pegawai kantoran ini mengajaknya jalan-jalan, dengan pilihan tempat makan di pusat kota yang sangat jauh dari kata murah. Harus makanan Jepang, sebab katanya, kawan-kawannya merekomendasikan tempat itu sebagai yang terbaik saat ini. Aku tak bisa mengelak sebab jika demikian, disinyalir bahwa aku tidak sungguh-sungguh mencintainya dan pertanyaan-pertanyaan melelahkan seperti biasa akan menampar telingaku. 'Kamu enggak sayang lagi sama aku? Kamu kok gitu? Kamu udah berubah ya, De?' dan seterusnya, dan seterusnya.

Kereta semakin dekat dengan stasiun tujuan. Rupanya, area persawahan ini memang membentang di sepanjang rute kereta sehingga yang kami lihat adalah sawah tak berujung dengan orang-orangan sawah yang banyak jumlahnya. Bertopi tempurung, berbaju kain-kain perca dan karung, bertubuh bambu dan jerami kering.

Tiba-tiba saja aku melihat para orang-orangan sawah yang dipasang petani-petani di tengah persawahan itu berubah menjadi sesuatu yang kukenal. Wajah tempurungnya berubah menjadi wajahku. Tangan dan kakiku serasa makin kecil, badanku berubah menjadi batang jerami, pakaian-pakaianku menjadi kain-kain perca yang sobek di sana-sini, dan bosku, kolegaku, Bela, serta semua lomba lari ini menjelma senar yang disimpulkan di leherku.

Namun, sebelum senar itu mencekikku semakin kuat, hidup seolah-olah masih menyisakan kendali bagi tanganku. Aku membayangkan wajah si bos yang baru beberapa hari lalu mengetahui latar belakang keluargaku. Sejak ia tahu pesuruhnya ini anak orang penting, bukan hanya perlakuan baik yang kuterima. Mejaku yang ogel diganti dengan yang baru keesokan harinya. Senyumnya mulai berubah dan beberapa proposal yang kuantar di kemudian hari bahkan sempat dibolak-baliknya terlebih dahulu. Kalau ia memesan makanan, disuruhnya aku datang ke ruangannya agar aku juga bisa ikut memesan apa pun yang aku mau.

Sejak hari itu itu juga aku percaya. Kalau aku mau, senar pengekang ini bisa dengan mudah berpindah sais. Tetapi aku telah memutuskan hal yang lain. Aku keluar. Mengundurkan diri dari tempat kerja, putus dari Bela, dan membeli tiket kereta dengan layanan paling mahal dari semua yang ada.

Perlahan tapi pasti, dari jendela-jendela kereta api panoramic yang kami tumpangi di rentang sesi promosi, senja menampakkan dirinya dengan cantik sekali. Beberapa dari mereka yang duduk di sebelah kiri terpaksa berdiri dan mendekat ke kanan hanya demi melihat pertunjukan matahari.

Dekat. Sangat dekat. Aku melihat dadong tersenyum. Begitu siap mengumpulkan komponen demi komponen dalam diriku andai saja tali ini terlalu kuat. Begitu siap memeluk orang-oranganku andai suatu hari aku jatuh ditimpa hujan dan angin kencang. Namun, apakah dadong juga akan memeluk ayah nantinya jika penggelapan uang yang ia lakukan suatu saat terendus hukum dan media? Apakah ia akan memeluk ibu jika suatu saat teman-teman sosialitanya menjauhi gelang-gelang emasnya?

Otakku memilah-milah kenangan itu-juga kenangan lain yang sejauh ini telah sebisa mungkin ditangkap oleh benakku-lalu menyimpannya dalam laci yang berbeda-beda. Laci-laci itu telah kukelompokkan menjadi dua bagian besar sejak masa kecilku. Di luarnya kutulis 'Kenangan yang baik' dan satu lagi 'Kenangan yang buruk'.

Aku bernapas dengan embusan yang tidak melegakan. Kota ini memang bisa menjual apa saja. Seks, ginjal, jantung, makanan, minuman, gaya hidup, pemandangan alam, orang dalam, apa saja, tetapi aku toh bukan lansia yang puas hanya dengan melihat matahari terbenam dari dalam kereta.

[1] Dadong: nenek

[2] Lelakut: Orang-orangan sawah

[3] Pekak: Kakek

[4] Bongol: Tuli

[5] Banten: sesajen

Kopi Cha

Ditulis Oleh Kopi Cha

83

Diskusi

0 komentar aktif dari pembaca dan kontributor komunitas.

0 komentar

Ikut berdiskusi

Tambahkan komentar, balas thread, atau kelola komentar Anda sendiri.

Anda perlu login untuk mengirim komentar, membalas, atau mengelola komentar sendiri.

Belum ada diskusi.

Jadilah orang pertama yang memulai percakapan untuk berita ini.

Bacaan Terkait

Berita lain yang layak dibaca setelah ini

Menampilkan 1 bacaan terkait