[{"data":1,"prerenderedAt":-1},["ShallowReactive",2],{"public-opinions":3},{"data":4,"meta":249},[5,99,181],{"id":6,"slug":7,"title":8,"shortDescription":9,"content":10,"status":11,"featuredImageId":12,"createdAt":13,"updatedAt":14,"totalBookmarks":15,"totalComments":15,"totalReads":16,"totalLikes":15,"contentType":17,"source":18,"location":18,"editorName":18,"readingTime":19,"publishedAt":20,"isBreaking":21,"isEditorPick":21,"isVerified":21,"authors":22,"featuredImage":64,"categories":89,"tags":98},"7d6e85d3-7bd1-48a4-acfc-91d16c714c3d","membaca-ulang-segala-omong-kosong-tentang-diri-sendiri","Membaca Ulang Segala Omong Kosong tentang Diri Sendiri","Tulisan ini berisi hasil diagnosa kejiwaan saya, yang, ya, kalau kau tertarik untuk tertawa bersamaku, silahkan dibaca ","Hari ini saya mengambil hasil tes kejiwaan di Rumah Sakit Umum Daerah Umbu Rara Meha, sebuah rumah sakit milik Pemerintah Daerah di kabupaten saya berasal. Bayangan saya, datang pagi = pulang cepat. Setidaknya, itulah yang terlintas di benak saya ketika harus berurusan dengan yang namanya pelayanan publik. Sebab, dalam konteks pelayanan publik, datang lebih awal akan mendapatkan pelayanan lebih awal. Hukumnya memang berlaku demikian. Itulah sebabnya, orang-orang sering menggalakkan yang namanya disiplin, di mana waktu di-*manage* dengan baik. \n\nHari ini saya memang datang lebih awal. Tidak diberitahu sebelumnya bahwa datang untuk mengambil hasil serangkaian tes itu di waktu jam buka pelayanan publik. Saya kira, mengambil SKS untuk kejiwaan mengikuti term demikian. Sebagai salah satu \"pasien\" hari pertama, satu Minggu adalah waktu yang paling cukup, seharusnya, untuk menentukan saya mendapatkan hasil yang telah dijanjikan. Sayangnya, itu tidak berlaku demikian. \n\n\"Belum diprint,\" kata petugas menjelaskan. \n\n\"Petugas yang print SKS sedang sakit,\" katanya lagi berusaha menjelaskan. \n\nSaya tahu, penjelasan tersebut sudah tidak masuk akal lagi bagi saya, sebab, dalam hitungan saya, 1 Minggu adalah waktu yang cukup. Apalagi, masih ada hari kedua, ketiga dan keempat untuk \"pasien-pasien\" lainnya. \n\nSesungguhnya, itulah yang membuat saya malas dengan yang namanya on time. Sebab, tepat waktu apapun yang kau anut, \"kita tunggu yang lain\" adalah konsekuensi logis dari mengumpulkan banyak orang. \n\nSaya sudah tidak ingin membayangkan macam-macam lagi soal ini.\n\nOh iya, hari ini, saya mengambil surat keterangan sehat. Namanya Surat Keterangan Kesehatan Jiwa. Kalau kalian berpikir bahwa yang menjalani serangkaian tes kejiwaan adalah orang-orang, yang, ya, bisa dikatakan jiwanya sakit, di negeri ini tidak berlaku demikian. \n\nSetelah serangkaian penantian yang \"makan waktu\", lalu memutuskan untuk ngopi di Alfamart, saya kembali ke tempat di mana orang-orang berkumpul, menunggu SKS mereka selesai ditandatangani. Dan, ya, hasilnya saya, tentu saja dinyatakan SEHAT jiwanya. \n\nMembaca itu, saya sudah cukup puas. Lalu, beberapa teman saya tanyai dengan candaan, jawab mereka sama: masih waras. Tentu saja ketika mendengar itu, saya ingin sekali tahu bagian \"warasnya\" saya di mana. Beberapa teman saya temukan menertawai diri sendiri dengan hasil yang mereka terima. Itu membuat saya tergelitik untuk membaca ulang segala omong kosong tentang diri sendiri. \n\nSaya duduk di sudut selasar rumah sakit, memandangi deretan angka-angka skor validitas di bagian atas: 61, 62, 52, 60, 51, 39.... Angka-angka dingin yang mencoba merumuskan isi kepada saya. Ketika mata saya mulai menyisir baris demi baris kalimat di bawahnya, saya tidak tahu harus tertawa atau merasa tersinggung. Lembar hasil MMPI (*Minnesota Multiphasic Personality Inventory*) ini membaca diri saya dengan ketelanjangan yang brutal sekaligus menyebalkan. \n\nDi paragraf awal, mesin atau siapapun itu orangnya yang membuat teks ini menyebut saya sebagai orang yang merespon jawaban secara terbuka dan serius. Skor kebohongan saya rendah. \"**Sangat valid untuk dianalisa**,\" tulisnya. Baguslah, setidaknya saya tidak dicap sebagai pembohong di atas kertas formal ini. Sebab, tentu saja saya bukan politisi, meski saya lulus dari perkuliahan yang membidangi politik dan pemerintahan. \n\nNamun, kegembiraan kecil itu langsung runtuh di kalimat berikutnya. Saya disebut represif terhadap masalah dan memiliki kecenderungan mengingkari. Kurang memiliki insight perubahan. Tingkah laku tidak diselaraskan dengan tuntutan sosial. Dan, kau tahu? Puncaknya adalah pada kalimat, **kemungkinan besar ia memiliki hambatan diri yang tidak bisa dikontrol.** \n\n\"Omong kosong macam apa ini?\" batin saya menolak. Saya hanya mencoba jujur, tapi kejujuran itu justru diterjemahkan sebagai kegagalan mengontrol diri. Lebih parah lagi, ada catatan kecil yang menusuk: *klien berusaha berkesan negatif terhadap diri sendiri..., menunjukkan gejala psikotis akut atau gangguan fisik lainnya*. Di bagian bawahnya bahkan tertulis konfirmasi bahwa saya *menunjukkan diri psikotis*, meski dianggap kurang valid karena saya berusaha sadar untuk terlihat \"rusak.\"\n\nMemasuki bagian **Simptom Klinis &amp; Diagnosa**, bacaan ini menjadi semakin asing sekaligus menakutkan bagi saya yang hanya butuh selembar Surat Keterangan sehat. \n\nSelembar kertas yang saya terima ini menangkap basah sifat pemberontakan saya. *Klien menunjukkan perilaku sering menentang terutama terhadap nilai-nilai perilaku feminisme yang ada*. Saya disebut cenderung bersikap maskulin, aktif, agresif dan dominan dalam hubungan sosial. Hahaha ini layak untuk saya ketawai, sebab tulisan yang tertera ini, berbanding terbalik dengan apa yang saya lakukan sehari. Ini jelas sangat berbanding terbalik dari apa yang saya perbuat atau bahkan dari teman-teman dekat saya tahu bagaimana sikap saya soal feminisme. \n\nBarangkali, hanya berbekal berlembar-lembar kertas ini, orang lain akan melihat saya sebagai sosok yang tangguh dan menyenangi kompetisi fisik. Maaf, saya pinjam dulu kata-katanya pak Prabowo, **Sorry yeeeeeeeeeeeeeeeee.** \n\nDi sinilah letak ironinya. Di balik penantian membosankan di birokrasi publik tadi pagi, kertas ini justru mendiagnosa saya dengan *gangguan penyesuaian diri atau gangguan somatoform*. Hehe, kalau saja tahu betapa saya sangat bosan ketika mengisi 567 soal kejiwaan ini, barangkali mesin yang mengelola jawaban pada Surat Keterangan Sehat saya akan berkata berbeda. \n\nSudah, daripada saya pusing dengan jawaban ini, kertas-kertas ini saya isi saja dalam tas yang saya bawa. Namun, setibanya di rumah, saya lagi-lagi membaca surat ini. Rasa penasaran saya kembali membuncah. Apalagi, saya melihat teman saya mengunggah story WhatsApp dengan caption anti sosial diikuti dengan emoji ketawa. Membaca itu, saya juga ngakak. Bagaimana tidak? Teman saya ini kurang sosial apa coba? Wkwkwkwk eh, ini memang layak diketawain, sih. \n\nDi rumah, Saya membalik halaman dan membaca lebih dalam ke paragraf terakhir, setelah sekali lagi saya membaca ulang tulisan yang ada dari awal. Di sana, karakter saya dibelah menjadi dua kutub yang ekstrem. Di satu sisi, Saya adalah tipe orang yang hangat, periang, dan sentimentil. Sangat sensitif, bersemangat dan penuh inisiatif. Namun, di sisi lain saya adalah bom waktu yang rapuh. Saya dinilai sangat bergantung pada hubungan interpersonal kurang percaya diri, dan mudah cemas. \n\nDan kalimat penutupnya benar-benar menjadi \"hadiah\" atas penantian seharian ini: ***jika ia pasien, dapat saja ia memiliki tendensi paranoid, lingkungan sekitar dianggapnya merepotkan dirinya. Ia akan bersikap sensitif terhadap tindakan atau opini orang lain dan akan bersikap curiga terhadap sesuatu yang dianggapnya janggal.*** \n\nOh, jelas. Saya selalu menaruh curiga terhadap apa saja, termasuk pada kebaikan-kebaikan kecil yang saya dapat tanpa tahu, kenal apalagi ia adalah seorang politisi. \n\nPada akhirnya saya melipat kertas itu memasukkannya ke dalam tas lalu tersenyum kecut. Tentu saja, sebelum saya simpan, saya terlebih dahulu memindainya untuk kebutuhan di kemudian hari. \n\nHuffff, menunggu berjam-jam demi selembar kertas yang mengatakan bahwa saya adalah orang hangat yang paranoid, agresif yang cemas, dan pemberontak yang somatoform, barangkali adalah salah satu pengalaman yang menyebarkan dalam hidup. Tiba-tiba saja saya membenarkan isi surat ini, ketika sebelumnya saya merasa janggal dengan pelayanan publik yang saya dapatkan. Namun, saya tetap merasa lega karena dunia birokrasi ini akhirnya berhasil memahami betapa rumitnya isi kepala saya. \n\n\n\n&nbsp;\n\n&nbsp;\n\n&nbsp;\n\n&nbsp;","published","93622283-1dc7-49fa-9980-3dc80597dede","2026-06-22T11:27:39.109Z","2026-07-11T01:06:52.977Z",0,47,"opinion",null,6,"2026-06-22T11:27:39.106Z",false,[23],{"postId":6,"authorId":24,"order":15,"author":25},"65db93af-d8bb-475d-b19a-5d333d3d4c09",{"id":24,"name":26,"username":27,"profile":28,"avatar":57},"Yons Hunga","yonshunga",{"avatar":29},{"id":30,"filename":31,"originalName":32,"mimeType":33,"type":34,"size":35,"width":36,"height":37,"parentId":18,"uploadedBy":24,"createdAt":38,"folder":39,"alt":40,"description":41,"thumbnails":42},"eba1abcc-5bc2-4ed9-8d18-feb24fd4c583","7a40943350dac2fc95f5307e7cfbbaa1.webp","1001548947.jpg","image\u002Fwebp","image",62022,1080,1350,"2026-06-15T06:51:53.768Z","profile","Yons Hunga avatar","Profile avatar for Yons Hunga",[43,50],{"id":44,"filename":45,"originalName":45,"mimeType":33,"type":34,"size":46,"width":47,"height":48,"parentId":30,"uploadedBy":24,"createdAt":49,"folder":18,"alt":18,"description":18},"6528ea95-984c-4f07-875e-ac68c883b74b","7a40943350dac2fc95f5307e7cfbbaa1_thumb_medium.webp",13540,400,500,"2026-06-15T06:51:55.410Z",{"id":51,"filename":52,"originalName":52,"mimeType":33,"type":34,"size":53,"width":54,"height":55,"parentId":30,"uploadedBy":24,"createdAt":56,"folder":18,"alt":18,"description":18},"85a2a82a-31e4-4ebe-a6bc-de7a80c2d0aa","7a40943350dac2fc95f5307e7cfbbaa1_thumb_large.webp",39408,800,1000,"2026-06-15T06:51:56.517Z",{"id":30,"filename":31,"originalName":32,"mimeType":33,"type":34,"size":35,"width":36,"height":37,"parentId":18,"uploadedBy":24,"createdAt":38,"folder":39,"alt":40,"description":41,"url":58,"thumbnail":59},"https:\u002F\u002Fassets.ndongu.com\u002F7a40943350dac2fc95f5307e7cfbbaa1.webp",{"medium":60,"large":62},{"id":44,"filename":45,"originalName":45,"mimeType":33,"type":34,"size":46,"width":47,"height":48,"parentId":30,"uploadedBy":24,"createdAt":49,"folder":18,"alt":18,"description":18,"url":61},"https:\u002F\u002Fassets.ndongu.com\u002F7a40943350dac2fc95f5307e7cfbbaa1_thumb_medium.webp",{"id":51,"filename":52,"originalName":52,"mimeType":33,"type":34,"size":53,"width":54,"height":55,"parentId":30,"uploadedBy":24,"createdAt":56,"folder":18,"alt":18,"description":18,"url":63},"https:\u002F\u002Fassets.ndongu.com\u002F7a40943350dac2fc95f5307e7cfbbaa1_thumb_large.webp",{"id":12,"filename":65,"originalName":66,"mimeType":33,"type":34,"size":67,"width":68,"height":36,"parentId":18,"uploadedBy":24,"createdAt":69,"folder":70,"alt":71,"description":72,"url":73,"thumbnail":74},"a95aaf68d44a481f0e93dba39dd70273.webp","DSC01531.JPG",135306,1616,"2026-06-22T11:21:22.268Z","yons-hunga-media-kontribusi","Gambar diambil teman saya, Ion","Menertawakan diri sendiri dengan segala kewarasan yang diharuskan","https:\u002F\u002Fassets.ndongu.com\u002Fa95aaf68d44a481f0e93dba39dd70273.webp",{"medium":75,"large":82},{"id":76,"filename":77,"originalName":77,"mimeType":33,"type":34,"size":78,"width":47,"height":79,"parentId":12,"uploadedBy":24,"createdAt":80,"folder":18,"alt":18,"description":18,"url":81},"ee013903-2165-4cb0-b7a4-ca0784f90fe2","a95aaf68d44a481f0e93dba39dd70273_thumb_medium.webp",15608,267,"2026-06-22T11:21:23.868Z","https:\u002F\u002Fassets.ndongu.com\u002Fa95aaf68d44a481f0e93dba39dd70273_thumb_medium.webp",{"id":83,"filename":84,"originalName":84,"mimeType":33,"type":34,"size":85,"width":54,"height":86,"parentId":12,"uploadedBy":24,"createdAt":87,"folder":18,"alt":18,"description":18,"url":88},"d1f7bfb8-6127-4cb8-bef8-9176730fff5a","a95aaf68d44a481f0e93dba39dd70273_thumb_large.webp",49324,535,"2026-06-22T11:21:24.962Z","https:\u002F\u002Fassets.ndongu.com\u002Fa95aaf68d44a481f0e93dba39dd70273_thumb_large.webp",[90],{"postId":6,"categoryId":91,"category":92},"ac118cfb-bd9a-4edf-8c43-8484b4379d6d",{"id":91,"slug":93,"name":94,"description":95,"color":96,"parentId":18,"sortOrder":97},"catatan","Catatan","Ruang bagi penulis untuk berbagi pengalaman, refleksi, dan pelajaran hidup yang lahir dari perjumpaan dengan berbagai peristiwa, tempat, maupun manusia. Setiap tulisan merupakan sudut pandang personal yang diharapkan dapat menginspirasi dan memperkaya pengalaman pembaca.","#8f3333",8,[],{"id":100,"slug":101,"title":102,"shortDescription":103,"content":104,"status":11,"featuredImageId":105,"createdAt":106,"updatedAt":107,"totalBookmarks":15,"totalComments":15,"totalReads":108,"totalLikes":109,"contentType":17,"source":18,"location":18,"editorName":18,"readingTime":110,"publishedAt":111,"isBreaking":21,"isEditorPick":21,"isVerified":21,"authors":112,"featuredImage":149,"categories":170,"tags":180},"a3b21517-ffda-41f3-9036-4558dc5a8a23","gawat-di-ntt-ada-sekolah-dasar-yang-digusur-demi-koperasi-merah-putih","Gawat! Di NTT, Ada Sekolah Dasar yang Digusur demi Koperasi Merah Putih","Kasus penggusuran sebagian area SD Negeri Wolomoni di Desa Niowula, Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende, menjadi potret buram bagaimana pembangunan di tingkat desa sering kali berjalan tanpa arah yang jelas. Sangat ironis ketika ruang pendidikan anak-anak harus dikorbankan demi pembangunan fisik Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih.","Kasus penggusuran sebagian area SD Negeri Wolomoni di Desa Niowula, Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende, menjadi potret buram bagaimana pembangunan di tingkat desa sering kali berjalan tanpa arah yang jelas. Sangat ironis ketika ruang pendidikan anak-anak harus dikorbankan demi pembangunan fisik Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih. \n\nPertanyaan mendasar yang muncul dari benak publik adalah apakah di Kabupaten Ende, sudah kehabisan lahan kosong sampai-sampai fasilitas pendidikan dasar harus diganggu?\n\nSekolah merupakan ruang sakral bagi tumbuh kembang generasi penerus bangsa. Membawa alat berat ke lingkungan sekolah tanpa adanya sosialisasi atau pemberitahuan terlebih dahulu kepada pihak pengelola sekolah menunjukkan sikap arogansi kekuasaan yang nyata. Tindakan sepihak ini mencerminkan minimnya empati dan buruknya komunikasi publik dari aparatur pemerintahan desa yang seharusnya mengayomi warganya.\n\nBelum lagi, keterlibatan oknum Babinsa dalam proses pembongkaran fisik sekolah, seperti memotong resplang dan tiang bangunan, melampaui batas-batas tugas pokok TNI. Kehadiran aparat berseragam lengkap di tengah situasi konflik agraria lokal justru menciptakan suasana intimidasi psikologis bagi komunitas sekolah. Hal ini bertentangan dengan semangat TNI yang lahir dari rakyat dan seharusnya bertugas melindungi aset-aset pelayanan publik milik rakyat.\n\nDampak psikologis yang paling berat dari peristiwa ini tentu saja dirasakan oleh para murid SD Negeri Wolomoni. Menyaksikan langsung lingkungan sekolah mereka dirusak oleh orang dewasa dan aparat berseragam dapat menumbuhkan rasa trauma mendalam serta hilangnya rasa aman di sekolah. Anak-anak yang seharusnya fokus belajar kini terpaksa menyaksikan tontonan kekerasan struktural yang merenggut ruang bermain dan ruang belajar mereka.\n\nPembangunan Kopdes Merah Putih di lokasi tersebut diduga kuat menabrak aturan tata ruang dan kesehatan lingkungan sekolah secara kasatmata. Berdasarkan regulasi nasional, kawasan sekolah wajib steril dari aktivitas usaha atau pasar dalam radius tertentu demi menjaga kekhusyukan proses belajar-mengajar. Menempatkan pusat kegiatan ekonomi desa tepat di samping ruang kelas merupakan pelanggaran terhadap hak anak untuk mendapatkan lingkungan belajar yang tenang, kondusif, dan bebas gangguan.\n\nDari perspektif hukum adat, pengalihan fungsi lahan ini juga merupakan bentuk pengkhianatan terhadap amanah para leluhur dan tokoh adat (Mosalaki). Lahan tersebut diserahkan oleh warga sejak puluhan tahun lalu secara sukarela dengan tujuan mulia yang spesifik, yaitu untuk memajukan pendidikan anak-anak di pedalaman Flores. Mengubah tanah hibah pendidikan menjadi pusat bisnis koperasi desa tanpa persetujuan lembaga adat merupakan tindakan yang mencederai nilai luhur tatanan sosial setempat.\n\nPeran kepala desa dalam konflik ini patut dipertanyakan secara kritis karena ia memegang posisi ganda sebagai pamong masyarakat sekaligus pengawas koperasi. Sebagai pemimpin di tingkat basis, kepala desa seharusnya menjadi benteng pertama yang melindungi fasilitas publik seperti sekolah dari segala bentuk gangguan luar. Keberpihakan kebijakan desa yang lebih mengutamakan proyek fisik komersial daripada kenyamanan sekolah mencerminkan kegagalan dalam skala prioritas pembangunan.\n\nRespon dari Komando Distrik Militer (Kodim) Ende yang menerbitkan kronologi kejadian tanpa disertai permohonan maaf formal semakin memperkeruh suasana di ruang publik. Dokumen tertulis tersebut terkesan defensif dan berupaya menjustifikasi tindakan lapangan yang sebenarnya sudah cacat secara prosedur sosial. Publik berhak menuntut transparansi penuh dan pertanggungjawaban internal dari institusi militer agar kepercayaan masyarakat terhadap TNI tidak merosot akibat ulah oknum.\n\nSolidaritas yang ditunjukkan oleh orang tua murid, warga setempat, dan Mosalaki dalam menghalangi alat berat adalah bentuk perlawanan warga yang sah demi keadilan. Masyarakat lokal memahami betul bahwa membiarkan sekolah mereka digerus hari ini berarti membiarkan masa depan anak-cucu mereka digadaikan demi kepentingan jangka pendek. Keberanian warga dalam bersuara merupakan sinyal kuat bahwa kesadaran akan hak atas pendidikan di pedalaman Flores sudah sangat tinggi.\n\nKetegasan anak-anak SDN Wolomoni yang menolak penggusuran sekolah mereka di hadapan media menjadi tamparan keras bagi para pengambil kebijakan. Suara polos dari murid-murid tersebut membuktikan bahwa mereka adalah subjek yang memiliki keterikatan emosional dengan sekolahnya. Pihak dewasa yang memaksakan kehendak pembangunan koperasi ini seharusnya malu melihat keteguhan sikap anak-anak kecil tersebut.\n\nViralnya kasus ini hingga ke tingkat nasional dan komunitas diaspora menunjukkan bahwa isu keadilan pendidikan di daerah terpencil selalu mendapat tempat di hati publik. Di era digital, kesewenang-wenangan di pelosok daerah tidak lagi bisa disembunyikan di bawah karpet ruang rapat koordinasi. Pengawasan massal dari warganet menjadi instrumen penting untuk menekan pemangku kebijakan agar segera mengevaluasi proyek yang bermasalah ini.\n\nPemerintah Daerah Kabupaten Ende beserta Dinas Pendidikan tidak boleh tinggal diam atau sekadar menjadi penonton dalam konflik agraria sekolah ini. Bupati dan jajarannya harus segera turun tangan untuk memediasi, menghentikan aktivitas pembongkaran, dan meninjau ulang izin lokasi pembangunan Kopdes Merah Putih. Pemerintah daerah wajib menjamin bahwa hak operasional sekolah dasar negeri tidak boleh diganggu gugat oleh kepentingan program vertikal maupun program desa mana pun.\n\nKoperasi pada hakikatnya dibangun untuk menyejahterakan masyarakat desa, namun tujuannya menjadi kontradiktif jika dalam prosesnya merugikan lembaga pendidikan publik. Tidak ada keberhasilan ekonomi desa yang layak dibanggakan jika ia berdiri di atas puing-puing bangunan sekolah yang dirusak secara paksa. Pembangunan ekonomi dan pembangunan sumber daya manusia melalui pendidikan seharusnya berjalan beriringan tanpa harus saling menegasikan.\n\nEvaluasi menyeluruh terhadap tata kelola dan implementasi program Kopdes Merah Putih di wilayah Kabupaten Ende, NTT perlu segera dilakukan oleh kementerian terkait. Keberadaan program baru jangan sampai menjadi alat bagi oknum tertentu untuk melakukan tindakan represif di tingkat lapangan demi mengejar target fisik. Harmonisasi antara program strategis nasional dengan kebutuhan riil serta kearifan lokal masyarakat adat mutlak diperlukan agar tidak menimbulkan riak penolakan.\n\nPada akhirnya, penyelesaian kasus SDN Wolomoni ini akan menjadi tolok ukur keberpihakan negara terhadap keadilan sosial di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar). Menyelamatkan sekolah ini dari penggusuran berarti menjaga martabat hukum, hak anak, dan kehormatan tanah adat. Ruang kelas harus tetap menjadi tempat yang aman bagi anak-anak Niowula untuk merajut mimpi, bebas dari b\n\nayang-bayang ancaman alat berat.","7b7dcfda-645d-4f9f-b885-77cc18df1448","2026-06-09T02:12:50.788Z","2026-07-11T00:51:30.958Z",89,1,5,"2026-06-09T02:12:50.786Z",[113],{"postId":100,"authorId":114,"order":15,"author":115},"7aa4492e-4274-49c7-8ba6-cb303a9a2d82",{"id":114,"name":116,"username":117,"profile":118,"avatar":142},"Redaksi Ndongu","Redaksindongu",{"avatar":119},{"id":120,"filename":121,"originalName":122,"mimeType":33,"type":34,"size":123,"width":124,"height":125,"parentId":18,"uploadedBy":114,"createdAt":126,"folder":39,"alt":127,"description":128,"thumbnails":129},"d0c49061-d81e-4cec-b556-5c74d236a6c2","61a3234ea9cbe4beafbdb8254f2b1017.webp","1001583782.jpg",13818,1280,720,"2026-07-06T00:13:09.411Z","Redaksi Ndongu avatar","Profile avatar for Redaksi Ndongu",[130,136],{"id":131,"filename":132,"originalName":132,"mimeType":33,"type":34,"size":133,"width":47,"height":134,"parentId":120,"uploadedBy":114,"createdAt":135,"folder":18,"alt":18,"description":18},"1a8f3d18-0c90-4cbb-a299-9b90d057f054","61a3234ea9cbe4beafbdb8254f2b1017_thumb_medium.webp",4704,225,"2026-07-06T00:13:10.287Z",{"id":137,"filename":138,"originalName":138,"mimeType":33,"type":34,"size":139,"width":54,"height":140,"parentId":120,"uploadedBy":114,"createdAt":141,"folder":18,"alt":18,"description":18},"9e5454a1-1b59-4556-8724-de25b4c21a7a","61a3234ea9cbe4beafbdb8254f2b1017_thumb_large.webp",8554,450,"2026-07-06T00:13:11.723Z",{"id":120,"filename":121,"originalName":122,"mimeType":33,"type":34,"size":123,"width":124,"height":125,"parentId":18,"uploadedBy":114,"createdAt":126,"folder":39,"alt":127,"description":128,"url":143,"thumbnail":144},"https:\u002F\u002Fassets.ndongu.com\u002F61a3234ea9cbe4beafbdb8254f2b1017.webp",{"medium":145,"large":147},{"id":131,"filename":132,"originalName":132,"mimeType":33,"type":34,"size":133,"width":47,"height":134,"parentId":120,"uploadedBy":114,"createdAt":135,"folder":18,"alt":18,"description":18,"url":146},"https:\u002F\u002Fassets.ndongu.com\u002F61a3234ea9cbe4beafbdb8254f2b1017_thumb_medium.webp",{"id":137,"filename":138,"originalName":138,"mimeType":33,"type":34,"size":139,"width":54,"height":140,"parentId":120,"uploadedBy":114,"createdAt":141,"folder":18,"alt":18,"description":18,"url":148},"https:\u002F\u002Fassets.ndongu.com\u002F61a3234ea9cbe4beafbdb8254f2b1017_thumb_large.webp",{"id":105,"filename":150,"originalName":151,"mimeType":33,"type":34,"size":152,"width":125,"height":153,"parentId":18,"uploadedBy":114,"createdAt":154,"folder":155,"alt":18,"description":156,"url":157,"thumbnail":158},"278539d62f394a4638cc68168630c87f.webp","1001538469.jpg",88088,405,"2026-06-09T02:11:44.487Z","redaksi-ndongu-media-kontribusi","Kompas.id","https:\u002F\u002Fassets.ndongu.com\u002F278539d62f394a4638cc68168630c87f.webp",{"medium":159,"large":165},{"id":160,"filename":161,"originalName":161,"mimeType":33,"type":34,"size":162,"width":47,"height":134,"parentId":105,"uploadedBy":114,"createdAt":163,"folder":18,"alt":18,"description":18,"url":164},"df5341bc-7c9a-4632-9260-43fd0a49a10f","278539d62f394a4638cc68168630c87f_thumb_medium.webp",31202,"2026-06-09T02:11:45.534Z","https:\u002F\u002Fassets.ndongu.com\u002F278539d62f394a4638cc68168630c87f_thumb_medium.webp",{"id":166,"filename":167,"originalName":167,"mimeType":33,"type":34,"size":152,"width":125,"height":153,"parentId":105,"uploadedBy":114,"createdAt":168,"folder":18,"alt":18,"description":18,"url":169},"cfa2a915-2dda-4562-bf38-b40aeefb474e","278539d62f394a4638cc68168630c87f_thumb_large.webp","2026-06-09T02:11:46.755Z","https:\u002F\u002Fassets.ndongu.com\u002F278539d62f394a4638cc68168630c87f_thumb_large.webp",[171],{"postId":100,"categoryId":172,"category":173},"1af7662f-61a1-4998-9055-9f20a5b93cbc",{"id":172,"slug":174,"name":175,"description":176,"color":177,"parentId":178,"sortOrder":179},"pendidikan","Pendidikan","Membahas isu, kebijakan, praktik, dan tantangan dunia pendidikan. Rubrik ini berupaya mendorong terciptanya sistem pendidikan yang adil, inklusif, dan mampu menjawab kebutuhan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai kemanusiaan.","#eab308","925887d5-ec35-4c08-a4e6-05b4be6dc25a",2,[],{"id":182,"slug":183,"title":184,"shortDescription":185,"content":186,"status":11,"featuredImageId":187,"createdAt":188,"updatedAt":189,"totalBookmarks":15,"totalComments":15,"totalReads":190,"totalLikes":191,"contentType":17,"source":18,"location":18,"editorName":18,"readingTime":97,"publishedAt":192,"isBreaking":193,"isEditorPick":21,"isVerified":21,"authors":194,"featuredImage":206,"categories":227,"tags":244},"e72c53b6-b260-4fa7-bb04-1cc8f6a5a34f","menggugat-patriarki-akar-kemanusiaan-setengah-hati-dalam-isu-kekerasan-seksual","Menggugat Patriarki: Akar Kemanusiaan Setengah Hati dalam Isu Kekerasan Seksual","Setiap kali kita berusaha membela dan mengawal kasus kekerasan seksual, kita seolah dipaksa untuk selalu membawa narasi yang selalu sa kalo dipikir-pikir, ini narasi tuh memprihatinkan. Kenapa coba? Kita harus bilang ke orang-orang deng kata-kata seperti, bayangkan kalau itu terjadi di kom sodara perempuan atau di kom keluarga dekat. Kenapa kita harus kas turun kitam derajat kemanusiaan menjadi sekadar status kepemilikan atau hubungan darah agar korban layak dikasihani? Ini membuktikan bahwa masyarakat kita belum mampu melihat perempuan sebagai individu utuh yang berdaulat, karena dalam kacamata kita, perempuan tuh hanya berharga jika ia berelasi sebagai ibu, istri, atau anak perempuan dari seseorang.","Dua peristiwa dugaan kekerasan seksual yang terjadi di Sumba baru-baru ini memperlihatkan kepada kita betapa rapuhnya ruang aman bagi perempuan, bahkan di tempat-tempat yang seharusnya paling terlindungi sekalipun. Kasus pertama melibatkan seorang oknum dosen ilmu hukum di Universitas Kristen Wira Wacana (Unkriswina) Sumba yang dilaporkan atas dugaan pelecehan terhadap mahasiswinya sendiri setelah korban ditemukan di rumah sang dosen. Sementara kasus kedua datang dari jalanan lintas kabupaten, di mana seorang oknum sopir travel menyalahgunakan profesi dan ruang sempit kendaraannya untuk melecehkan penumpangnya yang tak berdaya. Dua realitas ini, yang satu terjadi di puncak menara gading akademis dan yang lain di fasilitas transportasi publik, adalah alarm keras yang membuktikan bahwa kekerasan seksual di tanah Sumba adalah ancaman nyata yang mengintai setiap waktu. Itulah sebabnya kita sering membaca postingan Sumba darurat kekerasan seksual di media sosial.\n\nSelama sistem patriarki masih mencengkeram erat kehidupan kita, setiap diskursus mengenai moralitas, keadilan, dan kebenaran tak lebih dari sekadar ilusi belaka. Kasus kekerasan yang melibatkan oknum akademisi maupun sopir travel hanyalah puncak gunung es dari kerusakan sistemik yang mengakar. Realitasnya, kita sedang terjebak dalam teater ketidakadilan, di mana hukum dan hak asasi perempuan sekadar menjadi hiasan di atas kertas, namun mati rasa saat harus memberikan perlindungan yang sesungguhnya.\n\nBaomong tentang kasus kekerasan seksual, mungkin satu yang terpikir dalam benak kita adalah patriarki. Anggap sa kita sama-sama mulai dar ini kasus. Patriarki adalah sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan utama dan mendominasi dalam berbagai peran penting. Ini mencakup monopoli dalam kepemimpinan politik, otoritas moral, hak sosial, penguasaan properti, hingga pengambilan keputusan di dalam keluarga. Jadi, patriarki ini su menyatu ke dalam cara kita berpikir, menilai, dan berempati sehari-hari.\n\nIroni terbesar dari langgengnya sistem ini justru terjadi di ruang-ruang domestik dan lingkaran sosial terdekat kita. Kita sering kali mendapati kenyataan bahwa sesama perempuan, yang seharusnya menjadi benteng pertahanan pertama dan tempat aman untuk saling bersandar, justru menjadi pihak yang paling minim empati dan turut menjudge. Jang salah. Ini ju pengaruh patriarki.\n\nKita bisa lihat ketika kasus oknum dosen atau sopir travel ini mencuat di media sosial, yang korban dapatkan apa? kecurigaan dan penghakiman yang bertubi-tubi. Kalo bahasa Kamberanya kami ini tuh su termasuk ***Internalized misogyny***, yaitu kebencian terhadap sesama perempuan yang telah terinternalisasi. Ini su yang bikin banyak perempuan tanpa sadar menggunakan kacamata patriarki untuk menakar kesucian, kepantasan, dan tingkat kesalahan korban.\n\nFenomena ini melahirkan sebuah standar kemanusiaan yang sangat cacat dan tebang pilih di tengah masyarakat kita. Setiap kali kita berusaha membela dan mengawal kasus kekerasan seksual, kita seolah dipaksa untuk selalu membawa narasi yang selalu sa kalo dipikir-pikir, ini narasi tuh memprihatinkan. Kenapa coba? Kita harus bilang ke orang-orang deng kata-kata seperti, **bayangkan kalau itu terjadi di kom sodara perempuan atau di kom keluarga dekat.**\n\nKenapa kita harus kas turun kitam derajat kemanusiaan menjadi sekadar status kepemilikan atau hubungan darah agar korban layak dikasihani? Ini membuktikan bahwa masyarakat kita belum mampu melihat perempuan sebagai individu utuh yang berdaulat, karena dalam kacamata kita, perempuan tuh hanya berharga jika ia berelasi sebagai ibu, istri, atau anak perempuan dari seseorang.\n\nSa baca yang begini nih, merinding ko tau! Kitam empati yang dipantik dengan cara kas kaitkan sama ikatan keluarga tuh adalah bentuk kegagalan moral yang paling standar dari sisi kemanusiaan. Menghormati hak hidup, kenyamanan, dan kedaulatan tubuh seorang manusia seharusnya menjadi refleks dasar dari esensi kemanusiaan itu sendiri, karena bersifat mutlak dan tanpa syarat. \n\nKita tidak perlu memiliki seorang anak perempuan terlebih dahulu hanya untuk bisa merasakan kepedihan seorang mahasiswi yang dimanipulasi dosennya atau penumpang yang dilecehkan di dalam mobil travel. Kalo kitam kompas moral hanya aktif ketika lingkaran dalam kita terancam, maka sesungguhnya kita sedang tidak mempraktikkan kemanusiaan, karena yang kita praktikkan adalah ego kelompok yang kita rawat, bar habis itu kita tampak bijak.\n\nLewat tulisan yang tak seberapa ini, sa mau ketuk kakak-kakak dorang pu hati supaya paling tidak, kita punya satu garis batasan sederhana yang harus kita jaga sama-sama. Kalau memang ko tir punya rasa kemanusiaan untuk berempati, tolong jang bikin narasi yang makin jatuhkan martabat perempuan. Jang hobi kas keluar spekulasi atau tuduhan liar yang bikin korban yang su terpojok jadi tambah hancur. Stop su tanya-tanya hal bodoh macam kenapa mahasiswi itu mau ikut ke rumah dosen, atau kenapa perempuan itu jalan naik travel sendirian. Cara berpikir macam begitu tuh sama sa deng kita pelihara trauma orang pu anak, sambil kas kuat posisi pelaku biar dorang bebas dari sanksi. Ingat, kalau ko pu kata-kata tir bisa kas ringan penderitaan korban, pilihan paling terhormat yang tersisa bisa ko buat tu cuma diam.\n\nGugatan kedua yang tidak kalah mendesak untuk dibongkar adalah ketimpangan dalam arah pendidikan moral kita selama bertahun-tahun. Jang hanya ajar perempuan untuk berpakaian sopan agar tidak menjadi korban, tapi lupa mendidik anak laki-laki untuk tidak menjadi pelaku. Kita hidup di lingkungan yang begitu rajin, bahkan cenderung obsesif, dalam mendikte cara perempuan berjalan dan berperilaku deng alasan menjaga diri. Namun di saat yang sama, masyarakat kita mengalami amnesia massal dan abai dalam menanamkan akuntabilitas pada anak laki-laki tentang bagaimana menghormati batasan dan memahami konsep persetujuan consent\n\nSistem pendidikan keliru yang berfokus pada \"korban harus waspada\" daripada \"pelaku tidak boleh menyerang\" adalah sebuah sesat pikir yang akut. Mengatur pakaian perempuan seolah-olah menempatkan tubuh perempuan sebagai barang komoditas yang secara alami memicu kejahatan, dan laki-laki sebagai makhluk tanpa akal yang digerakkan oleh insting kebinatangan semata. Ini adalah penghinaan ganda di mana sapa sa yang bilang begitu, dia merendahkan martabat perempuan sebagai objek, sekaligus merendahkan kapasitas intelektual dan moral laki-laki sebagai manusia yang dianggap tidak mampu mengontrol dirinya sendiri di hadapan lawan jenis. Mana pake alasan kucing kalo liat ikan pasti akan makan lagi. Sh*t!\n\nKita harus berani membalik arah jarum jam pendidikan ini secara radikal dan total di tanah Sumba. Sudah saatnya energi kolektif kita dialihkan untuk menanamkan akuntabilitas dan tanggung jawab moral yang besar pada pundak anak laki-laki sejak usia dini. Mereka harus diajar bahwa maskulinitas tidak diukur dari seberapa besar dominasi, kuasa akademik, atau kekuatan fisik yang bisa mereka lakukan terhadap perempuan. Maskulinitas sejati lahir dari kemampuan mereka untuk menjadi individu yang menghargai kesetaraan dan menghormati hak asasi sesama tanpa memandang gender.\n\nPoin ketiga yang menjadi harga mati dan tidak boleh ditawar lagi adalah prinsip bahwa yang namanya kekerasan, tidak ada toleransi. Ketika kekerasan itu terjadi, ia harus dilihat sebagai sebuah kejahatan murni yang berdiri sendiri, tanpa ada ruang kompromi atau celah pembenaran dari segi manapun. Kekerasan tetaplah kekerasan, sebuah pelanggaran berat terhadap hukum dan kemanusiaan yang harus dikutuk secara mutlak, bukan sesuatu yang bisa dinegosiasikan di balik pintu belakang, diselesaikan secara adat yang timpang gender, atau didamaikan begitu saja. Jadi, kalo masih saja ada yang mau nikahkan korban dan pelaku untuk memaklumi tindakan pelaku, dia adalah bagian dari pelaku. Titik. Apapun itu untuk membela pelaku, tidak boleh, karena itu adalah bentuk eufemisme pengecut yang diproduksi oleh tatanan patriarki untuk mengaburkan fakta kejahatan, melunakkan hukuman sosial, dan mencuci bersih dosa-dosa pelaku agar mereka bisa kembali melenggang bebas seolah tidak terjadi apa-apa.\n\nMar su kakak-kakak dorang, kita kas lurus ini logika berpikir kita yang su lama bengkok, karena tindakan kekerasan seksual, baik yang dilakukan oleh seorang intelektual maupun seorang pekerja biasa, bukan sebuah kekhilafan instan. Itu adalah sebuah keputusan sadar yang diambil oleh pelaku untuk memuaskan ego kekuasaannya di atas penderitaan orang lain. Ingatlah bae-bae kalo ko itu manusia, ko bukan binatang, ko punya akal. Binatang bergerak murni berdasarkan dorongan insting biologis tanpa beban moral dan tanggung jawab sosial, sedangkan manusia memiliki kapasitas penuh untuk berpikir, memprediksi dampak dari tindakannya, dan memilih untuk tidak menyakiti sesamanya. \n\nMaka dari itu, sangat tidak adil jika masyarakat justru ikut membantu merawat \"kebinatangan\" pelaku dengan cara menyalahkan pakaian korban, mempertanyakan waktu kejadian, atau mengulik ruang privat sang perempuan. Korban tidak pernah salah atas kejahatan yang menimpanya. Seorang mahasiswi berhak mempercayai dosennya sebagai mentor akademik, dan seorang penumpang perempuan berhak sampai di tujuan dengan selamat tanpa harus dilecehkan oleh sopir yang ia bayar. \n\nHuhfff, perjuangan meruntuhkan tatanan patriarki dan menghentikan kekerasan seksual di sekitar kita bikin capek ju e. Kita harus bongkar kembali kitam isi kepala, buang segala prasangka yang telah telanjur mengakar, dan berani bersuara lantang melawan arus utama masyarakat yang permisif terhadap ketidakadilan. Selama kita masih menutup mata, memaklumi yang keliru, dan membiarkan posisi perempuan terus didiskreditkan, maka selamanya pula kita akan hidup dalam tatanan yang busuk dan munafik. Gunakan akal yang sudah Tuhan titipkan, asah kembali empati yang telah tumpul, dan tegakkan prinsip bahwa tidak ada satu pun ruang di atas tanah ini yang boleh melegalkan kekerasan atas nama apa pun.","31be1905-cf4c-48f7-a729-71be3fa1cfb9","2026-06-07T01:41:35.672Z","2026-07-14T03:13:06.670Z",74,3,"2026-06-07T01:41:35.652Z",true,[195],{"postId":182,"authorId":114,"order":15,"author":196},{"id":114,"name":116,"username":117,"profile":197,"avatar":202},{"avatar":198},{"id":120,"filename":121,"originalName":122,"mimeType":33,"type":34,"size":123,"width":124,"height":125,"parentId":18,"uploadedBy":114,"createdAt":126,"folder":39,"alt":127,"description":128,"thumbnails":199},[200,201],{"id":131,"filename":132,"originalName":132,"mimeType":33,"type":34,"size":133,"width":47,"height":134,"parentId":120,"uploadedBy":114,"createdAt":135,"folder":18,"alt":18,"description":18},{"id":137,"filename":138,"originalName":138,"mimeType":33,"type":34,"size":139,"width":54,"height":140,"parentId":120,"uploadedBy":114,"createdAt":141,"folder":18,"alt":18,"description":18},{"id":120,"filename":121,"originalName":122,"mimeType":33,"type":34,"size":123,"width":124,"height":125,"parentId":18,"uploadedBy":114,"createdAt":126,"folder":39,"alt":127,"description":128,"url":143,"thumbnail":203},{"medium":204,"large":205},{"id":131,"filename":132,"originalName":132,"mimeType":33,"type":34,"size":133,"width":47,"height":134,"parentId":120,"uploadedBy":114,"createdAt":135,"folder":18,"alt":18,"description":18,"url":146},{"id":137,"filename":138,"originalName":138,"mimeType":33,"type":34,"size":139,"width":54,"height":140,"parentId":120,"uploadedBy":114,"createdAt":141,"folder":18,"alt":18,"description":18,"url":148},{"id":187,"filename":207,"originalName":208,"mimeType":33,"type":34,"size":209,"width":124,"height":125,"parentId":18,"uploadedBy":114,"createdAt":210,"folder":211,"alt":18,"description":212,"url":213,"thumbnail":214},"dba43ae798e2f44c7aafbfe5c246587f.webp","1001535208.jpg",256500,"2026-06-07T01:38:43.386Z","redaksi-media-kontribusi","Perempuan menggugat patriarki\u002Fedited by AI","https:\u002F\u002Fassets.ndongu.com\u002Fdba43ae798e2f44c7aafbfe5c246587f.webp",{"medium":215,"large":221},{"id":216,"filename":217,"originalName":217,"mimeType":33,"type":34,"size":218,"width":47,"height":134,"parentId":187,"uploadedBy":114,"createdAt":219,"folder":18,"alt":18,"description":18,"url":220},"ead7a884-cb27-4e0c-b3eb-29ba890a5744","dba43ae798e2f44c7aafbfe5c246587f_thumb_medium.webp",32224,"2026-06-07T01:38:44.362Z","https:\u002F\u002Fassets.ndongu.com\u002Fdba43ae798e2f44c7aafbfe5c246587f_thumb_medium.webp",{"id":222,"filename":223,"originalName":223,"mimeType":33,"type":34,"size":224,"width":54,"height":140,"parentId":187,"uploadedBy":114,"createdAt":225,"folder":18,"alt":18,"description":18,"url":226},"8f63be6c-e8ba-4000-8ce3-74a9bfcf40ff","dba43ae798e2f44c7aafbfe5c246587f_thumb_large.webp",110170,"2026-06-07T01:38:45.510Z","https:\u002F\u002Fassets.ndongu.com\u002Fdba43ae798e2f44c7aafbfe5c246587f_thumb_large.webp",[228,236],{"postId":182,"categoryId":229,"category":230},"fb2b6e4e-3d94-4cee-9b6a-45930b79dac3",{"id":229,"slug":231,"name":232,"description":233,"color":234,"parentId":235,"sortOrder":110},"gender","Gender","Ruang untuk mengangkat suara, pengalaman, karya, dan perjuangan. Rubrik ini membahas isu kesetaraan gender, hak-hak perempuan, kepemimpinan, serta berbagai tantangan yang dihadapi perempuan dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan politik.","#8b5cf6","c7fe2e43-e0c6-44de-ab8a-81299627acd7",{"postId":182,"categoryId":237,"category":238},"b5ab7aa8-2dea-4611-81f5-b9a74d589073",{"id":237,"slug":239,"name":240,"description":241,"color":242,"parentId":243,"sortOrder":179},"opini","Opini","Ruang bagi gagasan, kritik, dan refleksi terhadap berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat. Rubrik ini menjadi wadah bagi penulis untuk menyampaikan pandangan yang argumentatif, mendorong dialog, dan memperkaya wacana publik.","#a855f7","5b17726f-1daa-4e17-8ba0-c41e6b3f0b9d",[245],{"postId":182,"tagId":246,"tag":247},"81b9a70b-70e1-4de2-a8c6-aba956693c7a",{"id":246,"slug":239,"name":240,"color":248},"#f97316",{"total":191,"page":109,"limit":250,"totalPages":109},9]